Sunday, October 23, 2005

Kabut



Warna warni bergolong-golongan
Dari satu titik sumber ketauhidan
Entah ego atau lah jati diri
Satu sama lain saling menjauhi

Kata gotong royongpun tak tertulis lagi
Lebih baik jalan sendiri-sendiri

Datanglah warna warni kepalsuan
Datang entah dari penjuru mana
Bercampur yang merusakkan
Seperti najis dalam air sebuah bejana

Berbaur tak kentara bau dan warnanya
Kaburkan kebenaran sesungguhnya

Betul-betul hatiku dilanda sedih
Betul-betul pikiranku tak punya roda
Warna warni seharusnya bercampur putih
Putihnya hingga terlihat sisi yang ternoda

Ya Allah tunjukilah hambamu jalan kebenaran
Jalan yang penuh dengan kasih dan ridhoMu
Jalan yang kini sungguh berkabut membutakan
Tuntunlah aku dijalan itu dengan cahayaMu

Friday, October 21, 2005

Berhentilah.. dan Kembalilah Pulang Nak...

Banyak manusia berkekurangan dalam beragama
Mengapa mereka tidak bermotivasi untuk mendekatkan diri
Banyak manusia berlebihan dalam beragama
Mengapa mereka bermotivasi untuk menjauhkan diri

Banyak manusia bermain dengan senangnya
Bermain-main makin jauh dari rumahnya
Sampai lupa akan jalan pulang
Bahkan tak terbesit untuk pulang

Bagai seorang Ibu memanggil anaknya
Namun tak dibalas sedikitpun sahutannya
Padahal banyak kesempatan tuk kembali
Padahal berbagai peringatan selalu mendekati

Berhentilah mendustakan diri
Berhentilah menjahili diri
Berhentilah menipu diri
Berhentilah menyiksa diri

Bukti apalagi yang harus kaucari
Padahal kebenaran selalu menjumpai
Cukup kebenaran itulah yang kauyakini
Cukup kebenaran itu yang kau amali

Berhentilah... dan Kembalilah Pulang Nak...

Monday, October 17, 2005

''Inul sebagai Inspirasi'': to be acknowledged

''Public Opinion'' is important to us ''to be Acknowledged''.

Siapa tak kenal Inul Daratista dengan Goyang ''ngebor''nya. Dia dicerca oleh banyak kalangan terutama dari kalangan ulama. Posisi inul seakan-akan terpojok dan teraniaya. Malah ini menguntungkan inul sendiri... sekalian publikasi... Ramai media meliput berita super laris ini... Masyarakatpun memakan berita terpanas tersebut. Banyak masyarakat malah mendukung Inul.


Contoh artis yang lain adalah Imaniar. Pada saat suaminya mendapat gugatan dari pembantu rumah tangganya di pengadilan. Pada saat pengadilan berlangsung dia memakai jilbab... Kita melihat dikaca televisi seakan-akan dia dan suaminya dalam keadaan
difitnah dan teraniaya. Setelah Pengadilan memenangkan Pasangan tersebut atas ex- Pembantu Rumah tangganya.... Tidak terlihat lagi Imaniar berjilbab.

Sama halnya denga Reza -penyanyi pop dengan ciri khas serak-serak basah dan yg disukai suaminya karena bisa ngaji- yang sempat lari dari suaminya Adjie Masaid..
tiba-tiba menghilang . Pulang-pulang memakai Jilbab setalah ternyata dia selama itu bersembunyi di pesantren gurunya. Melihat di kaca TV kita merasa kasihan dan simpati dengan Reza dan mulai-mulai suudzhon dengan Adjie, seakan-akan Adjie telah berlaku kasar ke Reza selama berumah tangga. Setelah bercerai Reza pun tak kelihatan lagi memakai Jilbab... Skrg dia sedang menulis buku ttg ketertidasannya sebagai seorang wanita selama dia berumah tangga. (waduh... ghibah dong yah???)

''Public Opinion'' is important to us ''to be Acknowledged''.


Konsep ini dicontoh oleh perorangan dan kelompok-kelompok ''yang belum diakui'' di indonesia. Dengan cercaan dan tuduhan ''sesat'' justru menjadikan PR (Humas) yang bagus. Dengan posisi teraniaya hal ini akan mengubah opini publik. Publik yang awam yang tersentuh perasaannya dengan polosnya mendukung dan mengakui mereka. Yang tidak melakukan hal yg sama dan menentang berarti tidak memiliki hati nurani.


Saya tidak menyalahkan adanya pengajian-pengajian yang mengajarkan ttg keutamaan hati, namun masyarakat kita lama kelamaan menjadi masyarakat yg ''cengeng''. Saking cengengnya, mereka tidak bisa membedakan perasaan: mana yang Hati mana yang Nafsu. Ladang2
''vulnerable'' dan ''fragile'' ini jugalah dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tadi sebagai Iklan gratis sekalian mencari simpatisan2. Konsep ini juga tidak bedanya dengan apa yang dilakukan para Missionaris.

Hati-hati dengan perasaan, karena didekat hati ada nafsu...


Mari menjadi muslim yang punya hati tapi tidak cengeng
...

Friday, October 14, 2005

Hati-Hati Mengatasnamakan Hati Nurani


Kubilang diriku hanya menyampaikan
Kau malah bilang diriku menyakiti

Kau malah lanjut bilang diriku tega dan berbuat tidak baik
Kau malah bilang diriku tak punya hati nurani

Hati-hati mengatasnamakan hati... kawanku

Ku lebih memilih menyebutnya dengan perasaan daripada
hati

Kenapa?

Karena di dalam perasaan bukan hanya ada hati namun
juga ada nafsu

Antara keduanya adalah lawan
Antara keduanya adalah dekat

Katakan padaku... apakah hati nuranimukah yg sedang
bicara dari tadi?

Yg baik dari mata seorang manusia belum tentu baik di
mata Allah
Yg buruk dari mata seorang manusia belum tentu buruk
di mata Allah

Katakan padaku.. Jika seorang manusia merasa dirinya
orang baik-baik... apakah dengan begitu dia orang yang
benar?

Lalu tiba-tiba kau menuduhku merasa paling benar...

Kawanku...
Allahlah yang Maha Benar
Kebenaran adalah milikNya

Dan kebenaran itu telah diturunkan
Dan kebenaran itu telah ditemukan

Dan dengan kebenaran itu aku beriman
Dan dengan kebenaran itu aku jadi tahu
Dan dengan kebenaran itu aku amalkan
Dan dengan kebenaran itu aku kabarkan

Thursday, September 22, 2005

Dalam Nama ada Doa....

Sejak lahir saya diberi nama oleh kedua orangtua tercinta, yaitu Muhammar Khamdevi... doa kedua orang tua saya. Sekilas nama ini mirip dengan nama Presiden Libya - Muammar Ghadafi- Hmm.. memang iyah.. memang dari situ ide nama datangnya.. itu menurut pengakuan Bapak saya. Dia mengagumi sosok ini pada saat jaya2nya sewaktu muda dulu... Namun yg namanya ide gak semua langsung di telan :)... Dengan kreatif Bapak saya mengutak ngatiknya. Muhammar adalah kependekan dari dari Muhammad Muammar artinya ''yang terpuji'' dan ''yang panjang umur''... Khamdevi kependekan dari Khamsah (lima) maksudnya anak kelima dari enam bersaudara.. lalu devi adalah gabungan nama Bapak dan Ibu saya... :D. Jadi arti keseluruhannya adalah ''yang terpuji dan panjang umur anak kelima dari D dan F''.

Sejak kuliah saya dipanggil oleh teman2 dengan panggilan gaul ''depoy''... yg artinya ''devi asoy'' ... devi anaknya asyik :). Panggilan ini ada karena mereka males memanggil saya dengan panggilan Devi, yg lebih pantas buat nama perempuan. Panggilan ini memang nama panggilan sedari kecil... tapi FYI... sebenarnya tulisan aslinya adalah ''Defi''.. bukan ''Devi''... tapi entah kenapa tertulis dengan nama Devi di akte.. tapi gak apa2 :) masalah administrasi... biasalah... To tell the Truth adik perempuan saya namanya Deva... nah loh ketukar deh... :D.

Pada saat belajar Bahasa Arab privat dengan seorang sahabat waktu di indo... saya iseng buka2 kamus bahasa Arab. Kata Muhammar adalah berasal dari akar kata ''hamara'' atau ''Hamara''.... bisa h kecil maupun H besar. Wal hasil karena ilmu masih dangkal dan juga kamusnya gak lengkap.. akhirnya cuman tebak2 sambel aja.... ''hamara'' artinya memerahkan... ''Hamara'' artinya menuangkan air... Berarti di Ism Maf'ul-kan menjadi yang dimerahkan... atau yang dituangkan air... Tentu arti yang pertama terasa aneh... maka saya ambil arti yg kedua dari asal kata ''Hamara''... Yang dituangkan Air... hmm bisa diartikan ''yg dituangkan ilmu''... heheheh ... sejak itu arti ini tetap saya pegang dan menjadi dorongan untuk mencari ilmu.

Pada saat Chating dengan seorang sahabat di Belanda... karena dia anak pesantren... Saya tanya ke dia... apa nama saya ada artinya dalam bahasa arab... Dia agak kebingungan... karena kata itu jarang dipakai... Terus dia coba membuka kamus bahasa arabnya.. Lalu dia bilang kemungkinan besar artinya adalah ''yang berseri2 atau yg kemerah2an wajahnya''.... :D hihihih GR deh. Sejak saat itu saya jadi sering murah senyum dan nyengir ampe kering..... nah loh... asal gak dianggap orang gila aja... :D.

Pada saat belajar Tafsir dan Fiqh di rumah Pak Syamsuddin di Ffm.. saya iseng membuka2 kamus bahasa arab-inggris beliau. Ternyata kata ''Hamara'' ism Maf'ulnya bukan MuHammar... jadi yg Hamara ini gugur deh (dengan sedihnya)... Lalu saya coba akar kata ''hamara''.. ternyata ada 2 arti yg memiliki 2 perubahan Morfologinya.... arti yg pertama yaitu ''memerahkan atau memanggang''... arti yang kedua ''membuat berseri atau membuat wajah memerah'' ... Lalu saya banding2kan keduanya dengan tabel yg ada dibuku Nahwu Sharaf kepunyaan saya. Ketemuuu!!! ternyata ada artinya... Muhammar artinya ''yang dipanggang hingga kemerahan/matang'' .... huuuaaaaaaaaaaa !!!!!!.... sedih banget dah.... kebayang deh dipanggang di neraka :(.

Terus coba buka2 internet... ternyata Muhammar itu adalah nasi yang dipanggang... masakan khas Marokko... makin ill feel dah... :(.

Akhirnya sedikit- sedikit berpikir.... hmmm gpp juga kok artinya begitu... jadi maksudnya... ''saya ini di dera ato ditempa di dunia hingga menjadi person yang matang'' ... hmmm bisa juga... akhirnya arti yang ini saya pegang... jadi pemacu atau pendorong... jika didera cobaan selalu melihat nama saya...
Setelah tahu artinya saya bahagia sekali... tanpa disangka... walau hanya sepele dan menyita sedikit waktu... sangat berguna dalam kehidupan... malah jadi amalan yang baik.

Namun walau begitu... semua arti nama yang saya temukan adalah baik... semuanya saya pegang.. dan mejadi pengingat jika ada onak duri di kehidupan...

Memang benar... nama adalah doa... doa orang tuamu.. doa teman2mu.. maupun doa yang tersembunyikan...

nb: Sekarang lagi nyari arti kata Khamdevi.... ternyata gak ada di bahasa arab... namun nemu di internet... ternyata nama sebuah jalan di india... hmmm pengen tahu arti bahasa indianya apa yah... hehehehe :D.

Wednesday, September 07, 2005

Overjudgmental: Kenapa tidak mengenal lebih dekat ?


Kenapa yah... hal ini selalu terulang-ulang ? Dimana orang-orang yang baru berkenalan denganku begitu mudah menilai image seseorang pada saat pertemuan pertama. Tapi terkadang ternyata orang-orang yang aku telah kenal di masa lalu pun setelah berpisah dan berjauhan sedemikian kurun waktu... mudah juga menilai imageku. Overjudging itu tidak hanya negatif melulu seh, kadang juga positif. Kadang bisa menjadi refleksi untuk mengoreksi diri, kalau kita mencoba berpikir positif tentang hal itu.

Pernah... karena latar belakangku kuliah disebuah perguruan tinggi di Jakarta... yang terkenal dengan mahasiswa/wi nya dekat dengan DUGEM... image yang ditangkap orang-orang pertama kali terhadapku negatif sekali... Katanya aku ini pasti anak orang kaya yang sering clubbing sana sini ... gak jauh-jauh dari drugs, alkohol dan sex bebas... sedih juga mendengarnya :(. Trus pas pertama kali menjejakkan kaki di Jerman dan kuliah di sebuah Uni terbaik di Jerman... orang-orang yang baru kenal denganku sepertinya meragu dan bingung. Kenapa ini anak bisa masuk Uni... kita aja yang lulusan PTN terbaik cuman masuk FH ?... aneh yah ?

Pernah... terdengar kabar burung yang tidak mengenakkan tentangku... sahabat baikku di Jakarta sampai-sampai menanyakan kabarku yang sebenarnya selama ini di Jerman... Katanya diriku ini masuk ''aliran sesat'' dan ikut-ikut organisasi ''radikal''... sedih juga mendengarnya :(.

Itu beberapa overjudging yang negatif... tapi ya sudahlah... ambil positifnya aja pikirku... kalau lama-lama dipikirin malah ''mumet'' ini kepala.... Apalagi diriku ini orangnya sensitif sekali.

Pernah... sewaktu kecil ikut sebuah TPA di sebuah masjid di Ujung Pandang... Karena sudah ada ikatan bathin dengan Masjid... aku pun sering sholat disana... Orang-orang yang berada di gang yang menghubungkan rumahku dan masjid memberiku gelar ''pak haji kecil''... rasanya waktu itu senang sekali :).

Pernah... sebuah masjid telah dibangun bertetangga dengan rumahku di Jakarta. Akupun sering sholat disana dan ''nongkrongin'' masjid. Senang sekali deh waktu itu... apalagi aktif di Remaja Masjidnya dan bertemu dengan orang-orang yang sarat dengan ilmu agama. Sering sekali aku bertanya dan belajar dari mereka. Lalu di suatu hari... setelah sholat ashar berjamaah... ada seorang musafir datang menghampiriku... aku yang saat itu sedang ''ngobrol'' dengan ustadku... Entah kenapa jamaah itu dengan yakinnya memanggilku dengan sebutan ''ustad''... padahal ustad yang sebenarnya ada di dekatku... :D... aku kaget betul pada saat itu sambil melirik wajah ustadku yang sedang ketawa kecil sedikit mengejek... sampai jamaah itu pergi pun aku dan ustadku tidak mengaku... aneh yah? perasaanku senang gak karuan... :) ... Takut juga seh kalau jamaah itu datang lagi dan kecewa karena aku tidak seperti yang mereka kira.

Pernah... saatku pertama kali kuliah di sebuah PT di Jakarta... teman-temanku menganggapku seorang ''agamais''. Plus apalagi aku juga aktif di remaja masjid. Karena itu... aku pun di cap ''gak gaul'', ''fanatik'', dan ''kaku''. Mau seperti apa usahaku untuk berbaur dengan mereka, tetap saja tidak merubah image itu. Yahhh... aku seh terima sajalah... toh ternyata ada positifnya juga... dan lagipula mereka malah tetap menganggapku menjadi seorang teman maupun seorang sahabat... yang sering dengerin ''curhat'' mereka... apalagi kalau mereka bertanya tentang hal-hal seputar agama... aneh yah?

Itu beberapa overjudging yang positif... jadi cambuk buat diri ini... harus mengejar segala ketertinggalan dan ketidaktahuan... Malah aku jadi semangat untuk mengembangkan diri... Apalagi diri ini memang selalu ingin aktif apalagi demi agamaku sendiri... ''gak'' bisa jauh-jauh... sudah ikatan bathin seh...
Setiap pertemuan maupun perpisahan pasti selalu terselip overjudgment dari orang lain. Nah... kitanya saja yang harus pandai-pandai menyikapi. Kita tidak perlu takut orang-orang yang kita kenal berlalu menjauh dari kita karena disebabkan kita tidak seperti yang mereka kira dan harapkan... image yang mereka buat secara berlebihan.... Namun pasti ada sahabat-sahabat kita yang tetap tinggal dan mau menerima kita apa adanya serta ingin mengenal kita lebih dekat. Dan itulah yang dinamakan sebuah ''Ukhuwah''. :)

nb: teruntuk saudara-saudaraku yang tidak sekalipun kecewa dengan apa adanya aku dan selalu memberi dukungan diri ini supaya lebih baik dari kemarin :)

Sunday, August 21, 2005

Keutamaan Memahami Syahadat (Tauhid)


(Paparan apa adanya)


Lihat QS. 6: 1-3

Sesekali kita sering mendengar kabar yang menggembirakan tentang seseorang yang baru masuk Islam. Di depan jamaah ia membaca syahadat sebagai niat dan persaksiannya mengenai keesaan Allah dan kerasulan nabi.

Sering timbul pertanyaan, bagaimanakah proses ia memilih dan memeluk Islam? Hidayah, petunjuk dari Allah ialah awal dari asal mengapa ia memutuskan hal tersebut. Kita tahu, bahwa Allah swt memberikan petunjuk bagi seseorang yang ia kehendaki dan petunjuk itu merupakan untuk diri pribadinya sendiri. (QS. 39: 41)
Hidayah ini bagi tiap-tiap insani berbeda-beda bentuknya dan berbeda-beda ceritanya. Namun dari kesemua itu peran hidayahlah yang menumbuhkan benih-benih cinta kepada Allah. Dari benih-benih cinta ini bersemai keyakinan dan ketakutan kepada Allah. Dari kesemua inilah syahadat menjadi sempurna.

Kembali kepada sang mu’allaf tadi, setelah ia mengucapkan syahadat, saat demi saat dilalui, tahu makin tahu ia pelajari, makin kencang amalannya, makin mencolok perubahannya, makin tenang dan bahagia ia menjalani kehidupan keislamannya. Sungguh menakjubkan kecepatan perkembangan yang ia alami jika dibandingkan dengan muslimin kebanyakan.

Bagaimanakah dengan diri kita, yang beberapa lebih banyak, yang Islam dikarenakan faktor turunan dari orang tua yang muslim. Sering kita tidak menyadari atau memahami hikmah dari syahadat ini. Kita lupa hingga melangkahi rukun pertama dari rukun islam ini. Akibatnya tiap-tiap amalan kita, terutama rukun-rukun islam berikutnya, terasa tidak nikmat dijalani, tidak khusyuk, hanya asal melakukan, dan terkadang hanya ikut-ikutan tanpa kesadaran dan pemahaman.

Kita tidak bisa menghadirkan Allah dari tiap-tiap amalan perbuatan dan perilaku yang kita kerjakan dalam kehidupan disetiap saat, sehingga sering terjadinya kekhilafan yang mungkin disadari maupun tidak disadari. Padahal Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan dan apa yang ada di benak hati kita.

Kadang ada yang shalat takut dimarahi oleh bapaknya, tapi ia tidak takut bahwa sebenarnya Allah sedang mengamatinya. Atau terkadang ada yang shalat di depan teman-temannya, supaya ia dipandang baik dan dipuji oleh temannya atau takut kalau ia tidak shalat ia dicap jelek oleh teman-temannya, tapi ia tidak takut bahwa sebenarnya Allah mengetahui isi niatnya itu di dalam hatinya. Dan ada pula yang merasa dirinya paling baik, bersih, dan benar menggurui teman-temannya, padahal Allah mengetahui sebenarnya apa yang ada di hatinya dan apa yang ia kerjakan selama ini tidak sebanding dari apa yang keluar dari mulutnya.

Kalau agama diibaratkan sebuah bangunan, maka syahadat ialah pondasi tumpuan dari segala amalan, sholat ialah tiang penegak mengakukan keyakinan, puasa ialah selubung dinding sebagai pelindung/ benteng dan pengendali dari segala nafsu/ hasrat, zakat ialah atap yang menaungi, meneduhkan dan mensucikan kita dari segala keburukan dan keegoan, haji ialah perhiasan ornamen (finishing) dari kesempurnaan agama kita.

Oleh karena itu kita sempurnakan pengetahuan ketauhidan kita. Kita cari petunjuk dari Allah dengan berbagai cara sesuai kemampuan kita dan dimulai dari apa adanya yang kita ketahui, seperti menimba ilmu, membaca dan memahami Al Qur’an, menyendiri berdzikir dan berpikir, membaca alam semesta ciptaan Allah, ikut ke dalam majelis-majelis. Dengan begitu Insya Allah timbullah benih cinta kepada Allah dan Rasul, tumbuh berkembanglah yakin dan takut kita (iman dan taqwa), sehingga amalan kita menjadi makin nikmat untuk dijalani, makin ikhlas diri ini beramal.

Yakin akan keesaan Allah, bahwa Ia adalah tempat bersandar sebaik-baiknya tempat bersandar. Hanya Allahlah yang kita bisa andalkan atas segala persoalan dan urusan. Takut karena kemahaan Allah, takut azab Allah, takut ``cinta tak berbalas`` yaitu takut Allah makin jauh dari kita, dan takut ``bila diri ini tak setia lagi`` yaitu takut diri kita makin jauh dari Allah, bahwa sesungguhnya kita ialah hamba yang membutuhkan curahan petunjuk dan kasih sayangNya. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu bersabar dan bersyukur dengan apa yang dianugerahkanNya baik berupa nikmat maupun cobaan - yang keduanya itu ada pelajaran yang baik bagi orang-orang yang berakal dan berpikir - berusaha dengan tidak berputus asa mengadakan perbaikan/ ``improvement`` dalam diri pribadi, dan semoga kita dijauhi dari sifat hina penuh kebencian yakni sifat buruk sangka kepada Allah yang akan menenggelamkan kita ke sedalam-dalamnya kegelapan.

Bacaan lanjutan : QS. 2: 177 dan 255, QS. 13: 12-17 dan 18-24, QS. 35: 19-22, QS. 39: 17-18 dan 38-41.

Oleh: Yang sedang belajar, bukan ``Penyair`` yang memanis-maniskan lidah, Insya Allah!

Tuesday, July 05, 2005

Melawan Medan Dunia


Hidup didunia itu seperti melawan arus medan gravitasi. Untuk jatuh itu sangatlah mudah. Tinggal lompat dan ikuti arus medannya. Jatuh hingga ke dasar.

Jika kita lihat sejarah manusia mencoba melawan medan gravitasi menuju langit - dari balon udara, pesawat terbang, dan pesawat antaraiksa - ada pelajaran dari perumpamaan ini bisa diambil.
Untuk apa manusia membuatnya ? isengkah? sia-siakah ? Pasti ada maksud dan tujuannya, yang tentunya untuk hal yang berguna demi kebaikan. Begitulah keutamaan NIAT.

Makin ILMU bertambah makin canggih alat yang dihasilkan. Jika Balon Udara tak mampu menembus lapisan langit yang lebih tinggi, maka dibuatlah pesawat terbang. Namun itupun tak cukup menembus lapisan langit berikutnya, maka dibuatlah pesawat antariksa. Maka diperlukanlah keluasan pengetahuan. Begitulah keutamaan ILMU.

Kita lihat berapa besarnya jumlah DAYA atau ENERGI yang diisi sebagai bahan bakar tiap alat itu. Makin banyak jumlahnya, makin melesat jauh dia ke langit. Bahan bakar yang dipakai pun harus stabil sesuai takaran supaya pas menuju tujuan. Begitulah keutamaan AMAL dan KONSISTENSInya.

Dalam pembuatannya pun tidak semudah yang dikira. Ada proses mandeg dan jatuh bangunya. Tiba-tiba modal habis, atau ada alat yg rusak, atau malah alatnya gak bisa jalan tanpa sebab. Tapi dengan ketekunan dan pantang menyerah, walau ditempa berbagai hambatan takkan menghentikan usahanya untuk mewujudkannya. Begitulah keutamaan KESUNGGUHAN.

Begitulah Perjalanan Hidup kita dengan sebuah wahana berupa AGAMA. Diperlukanlah NIAT, ILMU, AMAL, KONSISTENSI dan KESUNGGUHAN untuk menuju langit KEMULIAAN.

Monday, June 06, 2005

Ketika Dian Tertiup Angin


Cerita ini hanya fiktif belaka, moga mendapat pelajaran darinya, terutama supaya kita membaca dan menghafal al Qur’an serta menghadiri majelis-majelis ilmu.

Bayangkan pada suatu masa banyak yang tidak menyentuh al Qur’an dan masjid tidak ramai lagi dihadiri. Setelahnya terjadilah peperangan hebat dan kaum muslimin mengalami kekalahan. Lalu masjid-masjid dan maktab-maktab menjadi incaran dan disegel, lalu dengan beberapa saat setelahnya di hancurkanlah pusat-pusat umat islam itu rata dengan tanah. Kemudian mushaf-mushaf Al Qur’an dikoyak-koyak di injak-injak dan di bakar dan pustaka-pustaka kejayaan umat islam tak luput dimusnahkan.

Setelah segala sumber ilmiah lenyap, kaum muslimin lalu ditangkap. Mereka disiksa dan di cuci otaknya supaya tidak ingat lagi dengan agamanya dan apa-apa yang mereka hafal dari Qur’an. Setelah mereka lupa, mereka pun dimurtadkan lalu dijadikan budak.

Para Ulama dan para Hafidz Qur’an yang lari menyelamatkan diri pun dikejar sampai ke seluruh pelosok bumi. Setelah tertangkap mereka pun di aniaya dan dibunuh seketika. Tiada satupun cendikiawan umat muslim yang lolos dari pemusnahan besar-besaran ini.

Moga mereka yang berperang di jalan Allah mendapatkan syurga dan kemuliaan diatasnya.

Hanya segelintir orang yang selamat ditempat persembunyian yang tidak diketahui oleh musuh. Walau begitu sang musuh tidak tertarik untuk menangkap mereka. Karena merekalah kaum muslimin yang tidak paham dengan agamanya, apalagi menghafal Qur’an. Mereka sama sekali dianggap bukan ancaman.

Mereka inilah yang dulu berdalih dengan seribu alasan supaya tidak dikekang dan disusahkan dengan praktek-praktek agama. Mereka jahil terhadap tuntunan agama. Mereka lalai atas peringatan Allah. Dengan mata hati yang tertutup sejak lama, mereka dulu dengan congkaknya merasa dirinya juga sebenarnya berada di jalan kebenaran. Mereka mengira Allah akan memaklumi segala tindakan mereka itu karena mereka mengira Allah megasihi mereka. Padahal yang mereka lakukan sebenarnya adalah pengingkaran dan pengkhianatan terhadap Allah. Akankah Allah mengampuni mereka atas balasan kasihNya dari mereka berupa itu?

Lalu apa yang mereka bisa perbuat tanpa Al Qur’an ? Tiada lagi Al Qur’an yang bisa dibaca. Tiada lagi guru yang akan mengajarkan. Tiada lagi yang mengontrol hati mereka. Mereka hanya seperti binatang yang mengandalkan hawa nafsunya. Walaupun mereka punya kemampuan otak yang cerdik, namun hati mereka terkunci.

Karena keadaan akhlaq dan aqidah mereka yang rendah ini dan berada dalam kondisi yang payah, merekapun dengan kecerdikannya saling membunuh hanya demi makanan dan harta supaya dapat bertahan hidup. Dan beberapa dari meraka dengan kecerdikannya menyerah kepada musuh dan mau dimurtadkan supaya mereka selamat. Mereka pun tega mengkhianati yang lain dengan kecerdikannya memberitahukan posisi persembunyian yang lain kepada musuh supaya mereka bisa dipercaya dan diberi imbalan oleh musuh.

Apakah mereka merasa aman dalam keselamatan ? Sama sekali tidak !

Siapakah kan menolong mereka, jika saat itu langit pecah tiba-tiba, pada saat mereka belum juga sempat tersadar untuk menyesal dan bertaubat ?

Akankah mereka merasa aman dalam keselamatan ?

Friday, May 27, 2005

Khazanah Ilmu

Ilmu adalah penerang
Bagai matahari bersinar
Membuka pelupuk hati terpicing pulas
Jalan kan jadi jelas terlihat

Ilmu adalah pensuci
Bagai air jatuh tajam di bebatuan

Mengikis karat-karat nafsu
Jalan kan menjadi bersih

Ilmu adalah petunjuk arah
Bagaikan angin bertiup
Membawa diri insani pulang
Jalan kan menjadi lurus

Ilmu adalah manfaat
Bagaikan buah yang dipetik
Memanjakan lidah dan lambung ini
Jalan kan menjadi nikmat

Ilmu adalah tanggung jawab
Bagaikan kayu bakar yang dipikul
Memenuhi kebutuhan rumah tangga
Jalan kan menjadi bermakna

Ilmu adalah kecerdasan
Bagaikan pedang terasah
Melawan musuh yang zholim
Jalan kan jadi adil

Rugilah orang yang tak berilmu
Jahil berdalih tak berujung
Buta karena diri sendiri
Tak bergantung ilmu Ilahi

Hati dan Kompor Gas

Bukan.... sama sekali gak ada hubungannya dengan
makanan.....!!

Maksudku belakangan ini aku sesekali mengamati
Semangat hati yang berkobar-kobar dari para insan
kini.....

Lalu apa hubungannya dengan kompor gas....???

Jika diambil persamaan dengannya
Sepertinya hati insan kayak kompor gas

Api besar menyala membara dengan panas
Terjulur jilatan api yang tinggi hati
Seperti ombak laut yang sedang pasang
Apalagi yang masih muda

Tapi yang namanya kompor gas
Jika nyala terus menerus dengan api yg besar
Lambat laun gasnya cepat habis
Atau karena tekanan tinggi... salurannya bocor...
kompor bisa-bisa meledak.... kebakaran deh.....

Oleh karena itu apinya setidaknya diredam....

Eh... bukan...... jangan disalahartikan...!!!!
Bukan dipadamkan........ jangan buruk sangka dulu.....

Emang siapa yang tega ingin matikan hati suci seorang
insan.....

Maksudku apinya sedikit dikecilkan
Putar knop gasnya ke api sedang
Dari pada boros energi
Daripada duit terbuang sia-sia

Agar apinya menyala sedang dengan tenang dan anggun
Agar apinya menyala dengan cukup dan pas
Sesuai takaran kegunaannya tak berlebih-lebihan
Agar bermanfaat bagi semua...... semesta alam.......

Tapi ada juga loh yang hatinya redup
Apinya menyala kecil bak malu-malu
Hangatnya musti nunggu lama…. waktu terbuang sia-sia…
aplagi masih muda
Malas tak bergairah hidup… kurang terang dalam gelap
Plin-plan… ini mo nyala atau mau mati ? …. ragu-ragu
kali ye !!!

Stel knop gasnya ke api sedang.... jangan berlebihan
loh…!!!
Supaya bertambah gasnya sedikit demi sedikit
Supaya apinya lambat laun makin membesar
Sehingga mereka lambat laun berguna juga bagi semua….
semesta alam……

Lalu sang api sedang menyala dengan anggun
Menyala dengan konstan terkendali dari nafsu dengan
komitmen yang tinggi
Menyala tenang dan cukup hangat
Menyala dengan hemat ditabung satu demi satu amalan

Eh.... jangan Ge eR dulu........
Api sedang ini gak ke GR an....

Ia selalu merendah terhadap api yang lain
Mengajak kebajikan dengan kasih sayang

Mencoba mengkondisikan lingkungan yang baik penuh
rahmat
Menjadi tauladan yang baik tanpa harap pujian
Api yang takut kehilangan sumber energi gasnya
Api yang selalu memberikan kegunaannya ikhlas bagi
semua.... semesta alam....

Semua hati insan ada potensi kebaikan yang berguna...
Hati buruk dan jahat seorang insan bukanlah
mutlak.....
Tapi hanya kebodohanlah yang menjatuhkannya ke dalam
nafsu...
Semoga hati kita merayap perlahan menyala dengan
mulia...........

Yang Datang Tak Diminta

Kabut menyelimuti panorama... Kabur semakin gelap... Sesak habis di telan masa... Degup tak terdengar iramannya... Tubuh tak dapat lagi dikuasai... Kerabat tak bisa dihubungi... Tangis sesal tak ada di jadwal... Karcis reinkarnasi tak ada yang jual... Tak ada pahlawan kan menolong... Akan dibawa kemanakah diri ini… ? Adakah bekal yang dibawa... ? Kini hanya menunggu tanggal mainnya...