Monday, April 30, 2007

Dilema Dakwah: Ketika Publik Masih Bertuan Diri



Masih ingat tentang kasus video panas anggota DPR dengan bintang penyanyi dangdut? Masih ingat salah seorang mubaligh terkenal yang berpoligami? Dua-duanya di mata publik adalah sama bersalah, dan lambat laun turun pamor hingga terkucil. Padahal ada perbedaan yang sangat jauh antara apa yang mereka perbuat, apalagi di mata Allah.


Beberapa tahun belakangan ini, bermunculanlah wajah-wajah baru, muda dan lagi segar di dunia tabligh. Keberadaan mereka tetap bertahan karena permintaan pasaran yang antusias dari publik. Kadang dari levelnya sebagai mubaligh malah diposisi sama ratakan oleh publik dengan ulama. Padahal beda jauh dari segi keilmuan dan kredibiltasnya. Tak hanya inovatifnya cara dan tema-tema ceramah yang kekinian yang dinilai, namun naudzubillah min dzalik lebih dari itu.

Seorang saudara penah ikut pada sebuah majelis ta'lim salah satu mubaligh ini. Pesertanya kebanyakan ibu-ibu. Tak pernah habisnya lampu flash bertebaran, karena mereka ingin sekali mengambil gambar mubaligh tersebut. Terdengar olehnya, ibu-ibu itu bergosip mengagumi wajah tampan sang mubaligh yang terlihat cool, sampai-sampai lupa sama suami.

Saya masih teringat komentar lucu saudara saya: ''Pantesan aja si mubaligh yang itu pas berpoligami banyak ibu-ibu yang menentang... Wong ibu-ibunya paling juga kepengen jadi istri keduanya... Makanya pada banyak yang patah hati...''

Saya jadi teringat maraknya acara kontes-kontesan di banyak televisi di Indonesia. Anda tinggal nilai penampilan mereka di layar kaca. Mulai dari cara berjalan, berpakaian, berbicara dan lain-lain. Lalu jika anda suka, maka anda tinggal klik sms untuk memberikan suara kepadanya. Jika kontestan itu tidak ada yang suka, maka ia harus siap-siap dikeluarkan sehingga tidak bisa ikut pada sesi berikutnya. Kadangkala para kontestan harus mengikuti kemauan publik. Dan jadinya ia terperangkap untuk menjadi seseorang yang ia bukan.

Apakah itu yang sekarang terjadi pada nasib para mubaligh kita? Apakah mubaligh harus khawatir dirumahkan oleh publik? Jika tidak ingin dihengkangkan, apakah mereka tetap jaim (jaga image), berhati-hati dalam bergerak dan mengikuti apa saja mau publik, sehingga tidak kehilangan fans yang mendengarkannya dan kepopulerannya?

Kini bukan saja publik mendengar nasehat dan ceramah mubaligh, namun mubaligh harus siap-siap mendengar komentar dan kemauan publik. Jika si mubaligh tidak mendengar mereka, maka publik tidak akan mendengar si mubaligh lagi dan pergi meninggalkannya.

Publik kita memang masih belum bisa melepaskan diri dari keegoannya. Mereka yang seharusnya seorang hamba atau pelayan Allah, malah masih merasa sebagai tuan atau juragan yang harus dilayani. Jadi apa yang di mata mereka baik, maka itu adalah kebenaran.

Sebagai seorang mubaligh memang harus siap menghadapi dilema tersebut. Sebaiknya apa tindakan mubaligh, ia tidak perlu mengkhawatirkan apa kata publik nanti, apakah nanti dinilai baik ataukah buruk. Sehingga jalan dakwah tetap lurus dan bersih dari riya' dan sifat kemunafikan.

Sampaikanlah! meski satu ayat. Sampaikanlah! jika hanya satu orang saja yang mendengar. Sampaikanlah! Meski kamu akan ditinggalkan. Tapi janganlah engkau tinggalkan mereka, seperti Nabi Yunus sempat meninggalkan kaumnya!

Thursday, April 26, 2007

Lain di Dunia, Lain di Akhirat...


Tampak di kejauhan Andre dengan wajah penuh bahagia. Tentu saja tak heran, karena dia lulus ujian di semester ini, pada tiap mata kuliah dengan nilai lumayan.

''Gimana lo Ton? Gw aja dapet hasil begini bagusnya...'' kata Andre dengan bangganya.

''Sok lo!!! Gw seh dari kapan tau juga nilai paling pas-pas mulu...'' kata Tono tersinggung.

''Ah elo... Lonya aja yang gak rajin belajar kali???''

''Yee neh orang... Kayak elo aja rajin!!! Gak caya gw... gak caya....!!!''

''Hehehe... Tapi khan tetep aje gw dapet nilai lumayan... Gak perlu banyak belajar... Tetep jalan kemana aje... Yang penting ngikut ujian en lulus...''

''Iye deh ah... Lo emang rajanya hoki!''

''Liat tuh temen ngaji lo si Teguh... Sok alim, sok baek, sok rajin, kutu buku... Toh nilai rata-ratanya sama aja ama gw... Makanya rajin sholat gak ada jaminan kok kita lulus ato kagak... Liat aja gw minum iye, gak sholat iye, Have Fun Go Mad mulu......''

''Huss!!! Nyebut Lo!!!''

''Ah muna' lo!!''

''Iye aja kalo emang nilai lo emang sama ama dia... Tapi itu urusan dunia, men! Belon tentu di akhirat juga sama...''

''Sahhh... Bisa juga lo nasehatin gw.... Dah ustadz lo??''

''Insyaf lo insyaf... Sorry neh ye....Walaupun lo di Dunia lebih beruntung daripada dia sekalipun, Lo belon tentu seberuntung itu di Akhirat... Emangnya lo masuk surga karena nilai ujian lo bagus ape???''

Andre terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Tono tadi.

''Tapi nilai gw masih bagusan daripada elo khan???'' kata Andre menggoda.

''Beneran deh lo... Nyebelin banget!!! Songong amat seh jadi orang!!! Ngoceh suka gak mikir...''

''Iya deh, iya deh.... Kata-kata lo tadi bener kok, pren... Sorry!''

Tuesday, April 24, 2007

Bina-ul-Barakah: Ingin Punya Rumah yang Islami?


Kunjungi Link ini: Bina-Ul-Barakah

Link ini adalah blog penjajakan pribadi saya sesuai bidang saya, yakni arsitektur. Blog ini lebih mengkerucut pada pokok bahasan Arsitektur Islami.

Melalui blog ini anda akan mengetahui mana yang sebenarnya yang dianjurkan dan mana yang hanya sekedar hasil budaya, mana yang seharusnya ada karena harus fungsinya dan mana yang hanya sekedar hiasan belaka.

Apakah Kubah, Menara, dan Mihrab adalah harus pada bangunan Masjid? Think Again!!! Jawabannya tidak...

Apakah Rumah yang Islami itu harus ada Kaligrafi dan bentuk-bentuk cekungan seperti kubah yang berbau arsitektur timur tengah? Think again!!! Jawabannya tidak...
Apakah WC dan tempat wudhu' yang standard skrg islami? Think again!!! Jawabannya tidak...

Bina-Ul-Barakah artinya adalah Bangunan yang Berkah. Melalui blog ini saya akan mengupas satu demi satu aspek-aspek lebih penting dalam mndesain bangunan yang islami.

Jadi... Arsitektur Islami itu 'Merancang'... atau 'Menghias'?

Selamat berseluncur... :)

Sunday, April 22, 2007

Kala Panggilan Itu Terdengar...


Ahmad Suroyo adalah seorang mahasiswa Psikologi Islam UMJ. Ia sedang mengadakan penilitan ilmiah, yang berhubungan tentang pribadi muslim dalam menghadapi kematian. Dia mengambil sampel sebuah perumahan rel estat di kawasan selatan jakarta, dengan mengadakan interview singkat dan sederhana: ''Bagaimanakah jika anda dipanggil oleh Yang Maha Kuasa?''.

Hasil interview dari puluhan sampel tidak memuaskannya. Keputusa asaan, ketakutan dan kehilangan masih menjadi jawaban yang umum dalam isi buku penelitiannya.

Tinggal 2 sampel lagi yang harus ditemui, namun Ahmad nampaknya ada rasa sedikit menyerah.

''Yah! Namanya tinggal di kota yang serba materialis dan hedonis...'' keluhnya.

***

Sampai dia di rumah pengusaha batik. Rumahnya tak terlalu megah. Di depan halaman ia dapati seorang bapak berpeci putih menyambutnya.

Setelah obrolan diplomasi tertutur, akhirnya masuklah pertanyaan utama penelitian Ahmad.

''Jika bapak akan dipanggil oleh Allah, harapan bapak apa?''

''Hmm... Pertanyaan iseng tapi berat.. heheheh... Ehem!!!... Kalo bapak seh kalo meninggal kepengen meninggal dengan baik-baik... Trus dikenal oleh orang banyak sebagai seseorang yang baik... Terutama keluarga dan kerabat terdekat jika ditanya siapa saya... Kepengennya seh mereka jawab, bahwa saya suami yang baik, ayah yang baik, sahabat yang baik, kolega yang baik, tetangga yang baik... Pada saat akan dikubur kepengen banyak yang nganterin saya... Maka sebelum saya meninggal, saya harus banyak-banyak berbuat baik kepada semua orang...''

Ahmad sangat mengagumi jawaban bapak tadi.

''Kalau bapak akan meninggal, perasaan bapak gimana?''

''Yahhh... Saya seh gak takut mati... Khan seorang muslim gak boleh takut mati...''

***

Selepas meninggalkan rumah bapak itu, Ahmad makin bersemangat menuju ke rumah sampel berikutnya. Ternyata semakin jarang orang-orang yang memiliki niat baik semacam itu.

''Ini kemudahan Allah. Alhamdulillah...!!!'' kata Ahmad dalam hati.

***

Akhirnya sampai dia di rumah sampel terakhir. Ia dapati seorang bapak sedang sibuk membersihkan selokan depan rumahnya.

''Assalaamu'alaykum...''

''Wa'alaykumsalaam Nak!''

''Maaf neh Pak, saya mahasiswa UMJ yang mendapat ijin dari pak RT di sini untuk mengadakan penelitian ilmiah...''

''Oh iyah... Saya udah terima suratnya dari pak RT... Silahkan masuk!''

''Saya mengganggu yah Pak?''

''Oh enggak kok... Dikit lagi juga selesai kok Nak... Kasihan tetangga-tetangga saya kalo selokannya mampet gara-gara selokan saya...''

Di ruang tamu Ahmad dilayani istri dan anak laki-laki bapak itu dengan teh dan singkong goreng, sambil menunggu sang bapak bersih-bersih.

Bapak itupun keluar ke ruang tamu.

''Kasihan... Udah kesorean yah nak... Ntar maghrib di sini ajah... Di depan ada Musholla... Kita bisa jamaah di sana...''

''Kalo gitu saya langsung ke interview ajah yah Pak?''

''Boleh...''

''Jika bapak akan dipanggil Allah, apa harapan bapak?''

Bapak itu terdiam, lalu menunduk seketika. Matanya nampak berkaca-kaca.

''Kalo saya seh, pengen Allah ridho sama saya... Begitu pula keluarga dan kerabat saya juga ridho... Apakah saya meninggal dengan baik-baik atau terkena musibah yang tragis sekalipun... Asalkan Allah ridho, itu cukup buat saya... Namanya musibah gak pandang bulu yah Nak? Mo orang baik maupun orang jahat...''

''Iyah...'' jawab Ahmad sedikit kaget atas jawaban yang ia tidak perkirakan itu.

''Hmm... Kalau bapak akan meninggal, perasaan bapak gimana?''

''Yang pasti sedih dan khawatir...'' jawab bapak itu sambil meneteskan air mata.

Sekali lagi Ahmad pun tak mengira jawaban itu.

''Kenapa sedih pak? Khan seorang Muslim harus kuat dan tidak takut akan kematian...''

''Bukan sedih karena takut Nak... Bapak khawatir sama keluarga dan orang banyak... Karena bapak gak ada waktu lagi untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi kepada meraka...''

''Oh...''

''Sebelum menghembuskan nafas terakhir, bapak hanya bisa berdoa supaya mereka dijaga keistiqomahannya... Karena kehidupan di masa datang itu akan makin berat dan banyak cobaannya...''

Ahmad pun terdiam lalu menerawang jauh menuju ke sebuah kisah seorang yang besar dan dijunjung oleh orang banyak yang mengaguminya. Kala sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sangat mengkhawatirkan nasib umatnya.

''Ummati... ummati... ummati....''

Saturday, April 21, 2007

Anggur

Anggur itu tak sedap

Bukan sembarang anggur

Anggur ini tak punya rasa

Hampa dalam sunyi anggur


Tak ada yang bisa diperbuat

Berbuat pun tertubruk dinding

Hanya diam pun salah

Salah dengan seluruh sia-sia


Belenggu apakah ini?

Ini pasti bukan mimpi buruk

Belenggu apakah ini?

Ini pasti jauh dari dongeng indah


Apakah ini ruang tunggu?

Tunggu sapaan yang temani

Apakah ini ruang tunggu?

Tunggu jemputan beban akbar


Ya Allah segerakanlah

Ya Allah permudahkanlah


Tak mau tersendat seperti ini

Tak ada nilai yang terpuji


Ya Allah lapangkanlah

Ya Allah segarkanlah


Tak mau lagi meramal nasib di depan

Tak ada kepastian menyambut


Berikanlah aku satu makna dan peranku

Hingga dengan itu saja engkau akan berkahi jalanku

(request dari seseorang yang sedang menganggur :P)

Saturday, April 07, 2007

Musuh Iman


Seto mendapati temannya Dalle duduk di sudut Musholla dengan wajah kelelahan.

''Kenapa Le?''

''Puyeng neh... Makin hari makin berat ajah cobaan...''

''Cobaan apa?''

''Hmm ada deh...'' jawab Dalle sambil tersenyum.

''Sabar yah... Makin kuat iman seseorang makin berat cobaan di dapat... Tetap istiqomah ajah dan berdoa minta pertolongan supaya dimudahkan... Insya Allah kita menang... Walau hasilnya tidak seperti yang kita harapkan...'' kata Seto menenangkan.

'''He eh...!''

''Kayak main Game... Makin tinggi level, makin kompleks permainannya... Kalo bisa bertahan, bisa naik ke level berikutnya... Yahhh ibarat daki gunung lah! Makin tinggi, makin curam...''

''Iyah neh... Kalo kalah bisa jatuh... Apalagi jatuhnya ampe jauh dalam... Susah bangkitnya nanti! Malah kadang kalo gak kuat bisa dengan gampangnya jatuh makin dalam, makin gak bisa balik lagi deh... Dan malah lupa balik...''

''Iyah... Kalo kita jatuh... Setan akan tertawa senang... Orang beriman itu musuh besar setan... Dengan segala cara dan susah payah ia jatuhkan orang beriman supaya jadi sahabatnya... Semakin kuat kita, makin canggih cara setan... Bisa-bisa dia main keroyokan dengan bantuan setan-setan lainnya lagi... Heheheheh....!''

''Hehehehe... Hmmm... Kalo orang sudah gak beriman, setannya gimana?''

''Its work is done! Untuk apalagi dia capek-capek menjatuhkan mereka... Paling-paling jadi mainan bonekaan mereka kalo dateng isengnya atau buat kelinci percobaan ilmiah mereka...''

Tuesday, April 03, 2007

[Curhat]: Masih Sendiri...

Dia bilang aku terlalu sempurna
Dia bilang aku kurang bicara
Dia bilang aku tidak siap sedia
Dia bilang semua untuk kita tiada

Padahal semua itu bohong...

Untuk apa semua kalau malu tak terjaga...
Untuk apa berkata dan berlaku yang merusak tahta...

Padahal aku hanya mencari cermin keshalihanku...

Aku hanya menunggu jawaban pasti
Apapun itu aku akan tetap tenang menghadapi

Namun yang aku dapatkan adalah keraguannya...

Entah alasan apa yang disembunyikannya...
Entah dia sadar atau tidak hingga tega berkata...

Padahal tinggal sedikit lagi aku menepi...

Sekarang aku kibarkan layarku lagi
Arungi dengan asa buram sendiri

Dengan yakin amanah dan hadiah besar menanti dariNya...
Balasan bagiku dari muda hingga kini kesendirian yang kujaga...

Titipan kisah mulia yusuf...

Friday, March 16, 2007

Doa Seorang Hamba


Lonceng berdering menandakan jam pelajaran usai. Tiba-tiba Pak Haikal dihampiri oleh dua dari siswa-siswi kesayangannya, Nabil dan Uwais.

''Pak, kami berdua kemarin telah mengikuti tes untuk beasiswa ke Jerman. Insya Allah kami telah berusaha sedapat mungkin. Moga besok lusa hasilnya memuaskan.'' kata Nabil.

''Terima kasih telah membimbing kami untuk dapat mengikuti kesempatan itu, Pak. Moga menjadi pengalaman yang baik...'' lanjut Uwais.

''Alhamdulillah... Sekarang kalian berdua segera berdoalah kepada Allah! Moga Allah mengabulkan keinginan kalian...''

*****

Hasil tespun telah diumumkan. Namun sayang, keduanya tidak lulus.

Pak Haikal mendapati mereka sedang duduk di halaman kelas. Lalu ia menghampirinya dengan rasa prihatin.

''Sabar ya Nak! Insya Allah ada kesempatan yang lain yang lebih baik lagi...'' kata Pak Haikal menghibur.

''Iya pak... Insya Allah kami kuat... Iya khan Bil?'' jawab Uwais.

Nabil tak berkata apa-apa. Menampakkan raut kejengkelan.

''Kenapa seh Pak... keinginan kami tidak dikabulkan??? Dan juga kamu We, kok kamu tidak jengkel seh?'' berkata Nabil tiba-tiba, seakan segala impiannya telah rubuh.

''Kalau boleh bapak bertanya... Doa kalian seperti apa?'' tanya Pak Haikal.

''Kalau saya seh berdoa minta diluluskan sehingga bisa ke Jerman untuk kuliah. Moga semua berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan saya, seorang hamba yang lemah ini.'' jawab Nabil.

''Kalau kamu We, apa?''

''Kalau saya seh berdoa... Kalau memang Allah berkehendak supaya keinginan saya untuk lulus dikabulkan... Alhamdulillah... Moga menjadi kebaikan dan keberkahan untuk saya... Kalau Allah berkehendak saya tidak lulus... Moga saya diberikan kelapangan dada untuk menerima kenyataan tersebut dan diberikan tempat yang lain yang lebih baik lagi... Karena Allahlah yang lebih tahu apa yang baik untuk saya... Walau itupun tidak seperti keinginan saya...'' jawab Uwais.

''Itulah sebenar-benarnya doa seorang hamba kepada Tuhannya! Bukan sebaliknya...''

- QS. 23: 29 dan QS. 28:24 (Terima kasih Ustadz!)

Wednesday, March 14, 2007

Khianat


Khianat kadang peranku
Masa kalbu coreng moreng
Cap nifaq gerogoti
Riya' pun tak tanggung

Khianat kadang peranku
Malu tanggal seribu langkah
Layar sadar tercabik hasrat
Sembunyi takut percuma

Sesal...
Taubat...
Sumpah...
Berulah langgar balik...

Sesal...
Taubat...
Sumpah...
Berulah langgar balik...

Berulangan tak puas...

Datangpun akhir
Sempitnya sempat
Terlambat sudah terhambat
Alpa anugerah ampun

Saturday, March 03, 2007

[KFTS]: Shaf-shaf yang Terurai


Setelah memarkirkan motornya, Lie berjalan tenang menuju tempat berwudhu' di sebuah langgar. Sambil berwudhu', Lie mendengar suara iqomah dari ruang shalat. Dengan kata lain mungkin kali ini ia harus bermasbuk.

Berjalan ia tak tergesa menuju ruang shalat, lalu mendapati seorang makmum duduk di halaman tidak turut shalat dengan sang imam. Ia adalah Pak Suhail, 'pelanggan' rutin langgar itu. Maka merupakan sebuah pemandangan yang tidak biasa jika ia tidak ikut berjamaah.

Lalu Lie pun menegurnya dengan salam lalu bertanya.

''Tidak shalat Pak?''

''Saya tidak mau bershalat dengan mereka!''

Lie pun tercengang.

''Lihatlah Nak! Karpet untuk shalat telah diganti dengan yang baru...''

Lie pun seketika menyadarinya dan memperhatikan karpet baru tersebut. Karpet itu mirip sajadah yang bersambungan, tidak seperti karpet lama yang hijau polos tak bermotif.

''Lihatlah! Tiap orang sudah punya kavling-kavlingnya sendiri. Lihatlah shaf-shaf mereka! Bahu-bahu dan ujung-ujung jari kaki mereka tak bersentuhan. Padahal sang imam telah mengisyaratkan untuk merapatkan shaf... Mereka seakan ego tak mengikuti suruhan sang imam...Mereka kira mereka sudah merapatkan barisan...''

Lie pun terdiam, menyepakati pernyataan Pak Suhail.

''Saya sedih... melihat kenyataan bahwa ini sama halnya apa yg terjadi pada umat kita saat ini... Mereka berkelompok-kelompok dan ego dengan masing-masing kelompoknya sendiri. Silaturahim pun menjadi longgar... Tak rapat lagi... Tak bersentuhan lagi...''

Lie terhenyak dengan kesedihan Pak Suhail. Merinding ia membayangkan metafora tersebut.

''Setelah ini... sebaiknya kita diskusikan dengan imam saja tentang hal itu... Namun sekarang saya jadi bingung...''

''Kenapa bingung Nak?''

''Apakah saya ikut bershalat dengan mereka atau tidak sekarang...?''

Lie bisa saja ikut berjamaah merapatkan barisannya sendiri dengan jamaah terdekat. Namun ia memikirkan Pak Suhail yang tidak mendapatkan shalat berjamaah.

''Bapak tetap tidak shalat dengan mereka?''

''Tidak akan!''

''Kalau begitu saya masbuk dulu ya Pak?... Saya coba dorong jamaah di belakang dari arah kanan supaya shaf rapat... Jika tidak berhasil dan bapak tetap tidak mau berjamaah dengan mereka... Tepuk bahu saya saja...! Jadi bapak juga dapat bershalat berjamaah saat ini... Daripada shalat sendiri, pahala berjamaah khan lebih banyak...'' ajak Lie tersenyum lebar hingga gusinya terlihat.

''Iya Nak...'' jawab Pak Suhail sembari tersenyum pula.

Tuesday, February 13, 2007

[Seismic Re-Aransemen]: For Wedding of My Beloved Sister



Saya dan Wisnu sebenarnya sudah lama menggubah ulang nasyid milik Seismic yang berjudul Ketika Dua Hati Menyatu. DEngan sentuihan Grand Piano, nasyidnya berubah agak R&B dan Melo.
Kami sudah menampilkannya di acara Pernikahan salah satu warga indonesia di Jerman. Kali ini lagu ini akan saya hadiahkan buat Adik Tersayang yg akan Menikah tanggal 17 Februari. Saya akan hadir di pernikahannya dan kemungkinan besar saya akan tampil dengan nasyid tersebut jika tidak ada kendala teknis.
Nasyid ini saya persembahkan juga buat para Pembaca Blog ini yang sudah menikah, sebagai kado sederhana dari saya.
Selamat Menikmati :)

Ini linknya: gimilham.multiply.com

Sunday, February 11, 2007

[Curhat]: Saya Bukan Muammar Kh...!!!


Beberapa bulan yang lalu saya sedang bersedih, karena tulisan saya di copy/ paste ke Blog/ Multiply beberapa orang. Bukan masalah Copyright yang saya pertanyakan. Sebenarnya tak ada masalah jika mereka menyebarluaskannya. Cuman yang bikin miris adalah ketika mereka mengaku itu adalah tulisan mereka... :(.

Saya sudah sempat kontak dengan mereka. Dan hasilnya nihil. Malah saya kena BLOCK :(. Tega bener deh....

Tiba-tiba blogspot saya dipenuhi dengan pujian-pujian. Ada apa neh??? Katanya mereka membaca tulisan saya di web Eramuslim. Hmmm... Setelah dicek, ternyata itu penulis lain yang namanya hampir mirip dengan saya. Nama penulis tersebut adalah MUAMMAR KH... sedangkan saya MUHAMMAR KHAMDEVI.... :) Apalagi sudah sejak setahun tulisan saya gak masuk-masuk di Eramuslim... makanya kok kayak gak percaya ajah :P

Tiba-tiba ada pembaca yang bersikeras bahwa tulisan saya masuk Eramuslim... Padahal saya sudah jelaskan bahwa itu penulis yang lain, yang namanya mirip dengan saya. Tapi dia masih keukeuh.... lalu memberikan linknya... Pas dibuka...eh beneran... Alhamdulillah.... Kok bisa yah? :D Apalagi masih kalahlah dengan tulisannya Muammar Kh.... :)

Nama penulis yang dicantumkan: WATERPOURED... Bisa yah nama ini jadi nama seorang penulis??? :D Cuekkk cuekkk :P

So jangan salah orang lagi yah! :)

Sunday, February 04, 2007

[Thesis]: Nyak Babeh Aye Lulus.....!!!!

Syukur alhamdulillah... setelah jatuh di thesis pertama semester lalu, akhirnya di semester ini aku diijinkan untuk lulus. Akhirnya aku bisa menyenangkan hati orang tua, keluarga, kerabat dan sahabat. Satu langkah telah aku lampaui, selanjutnya langkah-langkah yang baru lagi.



Jazakumullah Khairan Katsiran buat sahabat-sahabat yang telah mendukung dan mendoakanku selalu.

Sampai Jumpa di Indonesia :)

Wednesday, January 31, 2007

Pencari Cinta atau Pecinta?


Tiada guna berharap cinta
Jika ia nyata setia di sisi menyapa

Tercurah suka, karena cinta
Tercurah duka, bukan tanda tak cinta

Sungguh, bukan cintaNya yang harus dicari
Sungguh, bukan cintaNya yang harus dipertanyakan

Cintakulah yang harus dicari
Cintakulah yang harus dipertanyakan

Setiap kubersikap apakah aku cinta?
Setiap kuberujar apakah aku cinta?
Setiap kuberibadah apakah aku cinta?
Setiap kuberdoa apakah aku cinta?

Dialah pasti Sang Maha Pecinta
Lalu siapakah diri hamba?

Sunday, November 05, 2006

[Klip]: Tombo Ati Bagi Para Bujangan (Obat Hati VS Obat Sepi)

Grup nasyid ini kreatif juga membuat Parodi dari nasyidnya Opick yg berjudul ''Tombo Ati'' jadi ''Tombo Sepi''. So buat-buat kamu yang belum menikah, dengerin deh!!! Walau parodi tapi serius penuh nasehat... :P

Nasyid ini dibawakan di sebuah Temu Remaja di Depok. Nama grup ini Gondes (Gondrong n Desso) para alumni STAN.

Link: YOUTUBE.com

Tuesday, October 31, 2006

[Curhat]: Mulai Lagi Bikin Thesis Baru... Tapi Milih Judul Yang Mana?


Awal November sudah semakin dekat. Saatnya untuk mengulang kembali thesis untuk kedua kalinya. Tapi kali ini adalah kesempatan terakhir. Tadinya bisa tenang... kenapa makin hari malah makin deg-degan?

Ternyata pasalnya adalah saya belum bisa memastikan memilih judul yang mana dari sodoran para profesor. Kali ini saya pun tidak mencari sendiri tema, karena memang repot harus mencari bahan sana-sini sendirian dan belum tentu keterima karena harus melewati ujian kelayakan di depan profesor. Kalau ditolak bisa 'berabe'. Rugi waktu dan 'duit'.

Akhirnya bak ikuti air mengalir, saya harus meilih tawaran pak prof. Ada 3 Tema dengan perkiraan deskripsi seperti ini:
1. Hotel plus Multi Use di Airport untuk pesawat-pesawat kecil yang murah. Yang hanya terbang di sekitar Eropa saja. Titik Berat: Sirkulasi manusia, Pengelolaan Ruang, Interior, dan tentu saja Tampak Luar yang Ekspresif hingga Futuristik sebagai point 'mengundang' (Komersial)
2. Boarding School dalam kompleks kawasan Wisata berupa reruntuhan Biara Gereja dan Bangunan-bangunan tua yang sekarang dihuni oleh orang-orang kaya. Jadi di dekatnya akan dibangun sekolah (SMP dan SMA) termasuk asrama siswa dan pengajar dan ruang bersamanya.Semacam pesantren ato sekolah katolik ato mirip sekolahnya Harry Potter lahhh :P. Titik Berat: Ekspresi Bangunan yang menggambarkan ideologi penggunanya, Konsep kebersamaan, Pemilihan Struktur Konstruksi dan Bahan Bangunan.
3. Daerah Transisi berupa kompleks bangunan yang akan dibangun berdekatan dengan Stasiun Kota. Komplekini diharapkan bisa menghubungkan Stasiun dengan Komplek Perkantoran diseberangnya yang dihalangi oleh taman. Kotanya sendiri terdapat di Perancis dan berbatasan langsung dengan Jerman. Titik Berat: Menciptakan fungsi Multi Use dan koneksi antar fungsi lain disekitarnya pada komplek bangunan transisi yang akan dibangun.

Semester yang lalu saya mengambil tema perkotaan. Tema perkotaan selalu berdua mengerjakannya. Namun kali ini nampaknya judul 3 yg lebih 'city' agak berat jika bekerja sendirian karena temanya memang sulit. Belajar dari semester lalu, yakni tak ada satu orang jermanpun yang mau berkelompok dengan orang asing, dan lagipula pada saat pertemuan pertama, tidak ada satupun orang asing di sana kecuali saya. Tema nomer 3 nampaknya saya lepas, kecuali jika saya mendapatkan partner.

Untuk tema nomer 1, menarik dan menantang. Namun saya yang anti-komersil, masih berat meninggalkan idealisme :). Keuntungan utama saya adalah, dunia airport sudah saya kenal dengan baik, apalagi saya masih bekerja di Airport di Frankfurt sebagai Satpam :). Setelah survey lokasi, sepertinya tiba-tiba saya mendapatkan banyak kelemahan di lokasi untuk bisa memperkuat konsep, karena acuan ide sepertinya tak saya temukan kecuali Master Plan Aiport tersebut di 20 tahun mendatang (mungkin ini yang bisa jadi acuan). Padahal di kepala saya sudah berputar banyak ide-ide bagus sebelum survey. Nampaknya agak sedikit buyar, namun mungkin beberapa ide masih bisa dipertahankan.

Untuk nomer 2, tampak tidak istimewa di mata saya, terlihat mudah namun kadang bisa menipu karena mudahnya :D. Yang menjadi persoalan lokasinya terpencil, tak bisa dijangkau dengan angkutan umum, kecuali dengan mobil pribadi. Jadi survey bolak-balik lokasi tidak memungkinkan. Konsepnya akan sangat abstrak karena berkaitan dengan siapa pengguna bangunan dan apa ideologi mereka. Saya sendiri masih belum mendapatkan ide dari proyek ini.

Saya kali ini mungkin hanya bisa pasrah. Tidak ingin terlalu mengikuti kemauan sendiri apalagi idealisme. Kali ini saya akan serahkan kepada takdir. Moga Allah meberikan pilihan yang terbaik buat saya.

Ada masukan tidak dari rekan-rekan sekalian, sebaiknya saya pilih yang mana? Mungkin bisa membantu saya dalam memutuskan pilihan... silahkan! :)

Mungkin harus Shalat Istikharah neh... hehehehe :D

Monday, October 23, 2006

Pencuri Shalat


Ashar telah tergelincir. Tampak empat sosok memburu waktu yang akan menguning, untuk melakukan kewajiban di sebuah langgar. Waktu sempat terhalang sebelumnya oleh sebab musabab yang tak beri ijin untuk sesuai jadwal.

Setelah wudhu' membasuh noda-noda. Maju di antara mereka menjadi pimpinan atas barisan. Bergulirlah persembahan tuk sang Khaliq.

Entah mengapa seperti dikejar anjing tetangga, dua anggota kehilangan temponya. Sesekali nyaris pimpinan terdahulukan. Namun yang satunya tetap ikuti irama dengan seksama.

Hingga datang salam kedua. Lekas-lekas satu di antara dua, yang tadi sejenak terdiam, bangkit berdiri kembali mengambil tempat. Lalu melakukan gerakan yang serupa.

''Eh! Kok si Doni shalat sunnah seh? Mana ada?'' celetuk Bowo.

''Bukan lagi... Dia ngulang shalat tuh...'' jawab Tommy dari arah sebelahnya.

''Emang kenapa?''

''Tadi elo seh buru-buru shalatnya kayak mo balapan karapan sapi ajah... Hampir ajah elo nyuri 'start' si Eka... Sang imam... Si Doni di sebelah elo malah jadi latahan ikut elo juga deh...''

''Ah masak...? Gua gak nyadar tuh...''

''Iyalah gak nyadar... Wong pikiran ke mana-mana... Gak konsen seh... Mikirin apa seh? Lagi capek banget yah??? Mikirin kasur??? Emang lo tukang molor seh... hahahaha....''

''Yeeeeee...''

''Wo... Kalo shalat yang tenang, dinikmati namun konsen. Harus diutamakan tumaninah di tiap gerakan. Tiap-tiapnya diresapin dengan jeda. Shalat jadi khusyu', sempurna, dan bahagia. Mendingan lo ngulang juga... Daripada cuman sah doang tapi gak diterima... Gabung ajah ama si Doni jamaah... Tuh dia hampir 2 rakaat noh... Tapi sekarang yang bener yah! '' kata Eka.

Lalu Bowo berjalan tenang ke arah kanan Doni, sambil meluruskan niat supaya hening hati. Tepukan disambut dengan berimam. Kali ini nikmati nyamannya suasana kesempurnaan.


Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi SAW masuk ke dalam masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk untuk melakukan shalat, setelah itu ia datang kepada Nabi dengan mengucapkan salam, lalu Nabi menolak orang itu dan bersabda : ''Ulangilah kembali shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat'', lalu ia shalat dan setelah itu datang kepada Nabi dengan mengucapkan salam, kemudian beliau bersabda lagi : ''Ulangilah shalat.'' Hingga tiga kali beliau menyuruh mengulangi. Lalu orang itu berkata : ''Demi Dzat yang telah mengutus Engkau dengan benar, aku tidak tahu cara shalat yang lebih baik selain itu, maka berilah aku pelajaran''. Kemudian beliau bersabda : ''Apabila kamu berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah kemudian bacalah apa yang mudah menurutmu dari ayat-ayat Al-Quran, kemudian rukuklah hingga kamu tenang dalam rukuk itu, kemudian bangkitlah hingga berdiri tegak, kemudian duduklah hingga kamu tenang dalam duduk itu, kemudian sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud itu. Kemudian kerjakanlah itu, dalam setiap shalatmu.'' (HR : Bukhori)

“Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya", mereka bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?" Beliau menjawab: "(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya". (Hadits riwayat Imam Ahmad, 5/ 310 dan dalam Shahihul jami’ hadits no: 997.)

Nabi saw. bersabda: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai?”
(Muttafaq Alaih).

Sunday, October 22, 2006

Resolusi Ramadhanku Kini...


Aku datang di bulan mulia
Dengan hati penat berjelaga
Kesedihan akan kegagalan
Kerinduan akan kepulangan

Terlalu peka kadang menyejukkan
Terkadang meyesakkan
Kadang menjadi teman
Kadang menjadi musuh bebuyutan

Ingin di saat ini waktu berhenti lama
Berbaring di tanah pada satu sisi saja
Menikmati senyapnya suasana
Tanpa harus berpikir ataupun merasa

Aku lalu bertanya
Apa yang kulakukan?
Aku termakan dalam kesiaan
Seketika bangun aku dengan paksa

Malu pun mendera-dera
Seharusnya semua tersudahi
Kenapa masih berlarut-larut saja?
Kenapa harus kupasang kembali?

Aku mohon pertolonganMu ya Rabb...
Di malam-malam yang masih tersisa
Terutama di sepuluh malamMu ya Rabb...
Kubayar hari-hari sebelum yang tak kuguna

Hentikan bisikan-bisikan mereka
Yang menghantarku menjadi apa yang harus dibenci

Atas kekalahan
Aku berpasrah dan ikhlas...

Atas keburukan
Aku pahami dan ikhlas...

Atas kesalahan
Aku sesali dan ikhlas...

Mohon ampun dengan sangat
Atas segala kelemahan dan kebodohan...

Mohon perlindungan dengan sangat
Dari hasutan sesat yang dihembus-hembuskan...

Mohon tuntunan dengan sangat
Kembali berjalan dengan tatapan ke depan...

Hanya sedikit amalan kali ini yang kubanggakan
Namun tak sebanding dengan banyaknya yang kumalukan

Perasaan adalah amanah terbesarku
Perasaan adalah ujian terbesarku
Seharusnya ia tak menguasai
Kini ia yang harus kukuasai

Inilah prakarya ramadhanku apa adanya...
Dengan harapan moga Engkau ridha...

- Ramadhan 1427 H, Darmstadt 2006 M -

Eid Mubarak

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Saturday, October 21, 2006

[Teropong]: Iklan Jerman Sambut Ramadhan???


Suatu pemandangan yang aneh di stasiun kota Darmstadt. Papan iklan besar terlihat dari sudut tempatku duduk di dalam kereta. ''Ramadhan Karim'' (dalam tulisan arab) walau 'nyempil' tidak dominan. Hah? Yang benar neh? Suatu pemandangan yang tidak pernah saya lihat di sepanjang kota-kota di Jerman sekalipun kecuali tempat-tempat perkampungan muslim.

Western Union, sebuah perusahaan jasa untuk transfer uang, yang memang dimanfaatkan banyak oleh para student terutama bangsa afrika (tunisia, marokko dll). Walau maksudnya komersil, tapi saya salut dengan keberanian perusahaan ini. Mungkin dari benak beberapa orang-orang Jerman akan bertanya-tanya dan menjadi tahu bahwa sekarang para muslimin di Jerman sedang menunaikan puasa Ramadhan.

Saturday, October 14, 2006

Perpisahan adalah Silaturahim


Ku telah memahami selama ini
Tiap pertemuan ada perpisahan
Namun apa jadinya kuasa diri
Yang dikorbankan adalah pertalian idaman

Orang-orang yang kucintai
Seperti aku mencintai diriku sendiri
Saudara-saudara dalam satu cinta
Bersama-sama mengharap ridhaNya

Walau sadar di situ akan ada jumpa
Di masa penantian maupun pengakhiran
Tersemat beratnya duka lara
Tersembunyi rasa kehilangan

Tak ada daya saling melukai perasaan
Maka tak tega kesedihan diperlihatkan
Akhirnya hanya tutur penghibur terlontar
Agar membuat kami lebih tegar

''Wahai saudaraku...
Sungguh perpisahan itu bukanlah pemutusan
Sungguh ia adalah memanjangkan
Kait lebih luas tali cinta ilahi dalam persaudaraan...''

''Wahai saudaraku...
Maka berjuanglah kamu di sana
Sedangkan aku masih berjuang di sini sementara
Moga kelak dipertemukan lagi dalam perjuangan yang sama...''

Kami pun berpelukan
Sambil melepas kata-kata asa dan doa
Lalu ia berpaling meninggalkan
Hingga lenyap nyata sosoknya

(yg lagi didera perpisahan dan perpisahan...)