Friday, May 30, 2008

[KFTS]: Manusia Bermanfaat dalam Ibarat


"Pep! Kenapa kamu lanjut kuliah lagi seh! Jangan belajar melulu. Kapan beramalnya? Kapan membangun negara ini?" tanya Chandra tiba-tiba, setelah mengetahui sahabatnya Apep akan terbang ke Malaysia untuk melanjutkan ke S2.

Apep menghela nafas sesaat. Pertanyaan ini sepertinya selalu berulang-ulang dari mulut yang satu dan dari mulut yang lain. Seperti tak henti-hentinya menghalangi kehijrahannya di negeri jiran. Kesedihan tergurat dalam rautan wajah. Kenapa orang lain tidak merestui niatnya?

Sesaat beristighfar, lalu ia pun menjawab dengan penuh kehati-hatian.

"Ndra, Aku semata-mata bukan dengan serta-merta meninggalkan amal. Dan bukan pula lari dari tanggung jawab. Aku melanjutkan kuliah justru untuk memperkuat potensi."

"Iyah! Tapi kalau ilmu itu tidak segera kamu pakai, nanti kamu seperti buah yang busuk. Karena kamu tidak mengamalkannya dengan segera. Justru tidak bisa memberikan manfaat. Mana ada yang mau memetik!"

"Kalau begitu, kenapa tidak dengan paralel?"

"Pararel?"

"Ibarat pohon dengan buah yang matang lagi molek. Yang tidak bisa diam untuk memberikan manfaat. Yang tidak bisa diam untuk segera dipetik. Yang kalau sudah dipetik akan berbuah lagi di suatu saat. Bahkan jika Allah mengijinkan, setiap dipetik, ia akan berbuah lagi dalam sekejap!"

"Hah?"

"Aku menjemput ilmu bukan berarti aku berhenti dari beramal. Justru setiap aku mendapatkan ilmu, aku harus segera mengamalkannya. Tidak aku tumpuk-tumpuk hingga ilmuku jadi usang. Insya Allah, aku kuliah bukan berarti mengurangi amal. Justru menambah amal. Setiap aku mendapatkan satu pengetahuan, maka aku harus bersegera mengamalkannya.Maka dengan kepergianku untuk kuliah di negeri Malaka, bukan berarti aku tidak ingin membangun negeri. Justru sambil aku kuliah, sambil aku beramal. Walau amalan itu hanya berupa karya tulisan sekalipun.Setidaknya bermanfaat, dan insya Allah berpengaruh besar."

Chandra mengangguk paham.

"Baiklah sahabat! Sekarang aku mengerti dan tidak akan memaksakan pertanyaan itu lagi. Tapi kamu harus ingat akan kata-katamu tadi"

"Iya Ndra! Mohon teguran, bimbingan dan penjagaannya!"

"Insya Allah! Sama-sama kita Pep!"

"Iyah."

"Mudah-mudahan kamu seperti buah matang lagi molek itu, yang isinya bagai nikmat surgawi. Kalau kamu jadi seperti buah yang molek tapi di dalamnya kopong bahkan berulat. Aku tak sudi mengikutimu. Dan mudah-mudahan aku juga tidak seperti itu."

"Naudzubillah mindzalik! Moga Allah melindungiku dan kita semua dari kejahilan itu! Mohon doanya!"


(Begitu berat menulis kisah ini. Moga saya tidak bermaksud menggurui, namun berbagi. Moga kita termasuk orang-orang yang selalu memperbaiki diri dalam Ilmu dan Amal)

Thursday, May 15, 2008

[KFTS]: Yang Termahal dalam Do'a


Setelah shalat isya' tampak Fadli khusyu' sekali berdo'a. Hal itu mengundang perhatian seorang tua untuk mendekatinya.

Setelah Fadli berdo'a, ia lalu menegurnya dan bertanya.

"Apa yang kamu pintakan, sehingga engkau begitu khusyu'nya berdo'a?"

"Aku meminta kepada Allah supaya aku dimudahkan untuk menjemput rejeki yang melimpah, Kek! Di masa yang serba sulit ini, semua seakan serba mahal untuk aku memenuhinya."

" Moga para malaikat mengaminkan do'a hambanya yang teraniaya ini. Moga Allah mengijabah do'amu, Nak!"

"Aamiiin ya Allah! Ya Rabbal 'alamiin!"

"Kamu mau tahu apa saja sebenarnya yang termahal, selain kesulitanmu yang kecil itu?"

"Adakah yang lebih mahal lagi?"

"Ada!"

"Apa itu, Kek?"

"Anugerah yang termahal adalah Hidayah dan Iman yang semakin menebal. Rejeki yang termahal adalah Ketentraman Jiwa. Berkah yang termahal adalah Keteguhan Hati. Bekal Hidup yang termahal adalah Kegemaran akan Ilmu Din dan Ibadah yang Bertambah lagi Berkelanjutan. Amalan yang termahal adalah Taubat yang diringi dengan Kejujuran akan Kesalahan dan Keistiqamahan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Warisan termahal adalah Akhlaq Mulia. Akhlaq yang termahal adalah sikap Tawadhu' lagi Hanif. Perlindungan termahal adalah Perlindungan dari sifat Dengki lagi Tinggi Hati. Penjagaan termahal adalah Silaturahim dan Persaudaraan. Jihad termahal adalah Jihad terhadap Diri Sendiri. Hadiah termahal adalah Ridha Allah dan Perjumpaan denganNya. Kenapa tidak kau pintakan itu, selain yang kau pintakan tadi?"

Fadli terdiam. Serta merta ia pun terisak.

"Ya Allah! Kenapa aku selalu hanya meminta materi dan materi saja? Padahal ada yang lebih mulia lagi penting dari itu semua. Apa jadinya dengan materi, tapi tanpa itu semua. Dan apa jadinya tanpa materi, tapi tanpa itu semua."

"Semoga Allah sudi mencurahkannya merata kepada dirimu, Nak!"

Sunday, March 23, 2008

[KFTS]: Kalo Gede Mo Jadi Apa, Nak?


Hanan, yang berumur 10 tahun, tampak muram sekembali dari bermain dengan teman-temannya di sore hari.

Di rumah, orangtuanya pun merasa khawatir, karena raut wajahnya tidak seperti biasanya.

"Nan, Kamu capek ya, Nak?" kata Ibu.

"Enggak kok Bu...!"

"Masak anak sholeh lesu gituh? Harusnya ceria dong!" ujar Ayah.

"Mmmhh.... Ayah!... Apa jadi Koki itu cita-cita yang gak tinggi yah?"

"Memangnya kamu nanti gede mau jadi Koki?"

Hanan terdiam tambah muram.

"Jadi Koki juga bagus kok, Nak! Sama tingginya dengan cita-cita yang lain. Apalagi jadi Koki yang sholeh. Yang selalu masak masakan yang halal, baik dan enak..!" kata Ibu sambil mengelus bahu Hanan.

"Tadi Pak Agus di sebelah nanya... Kalo udah gede Hanan mau jadi apa?... Terus Hanan bilang mau jadi Koki... Terus Pak Agus dan teman-teman tertawa... Kata Pak Agus kalau cita-cita harusnya yang tinggian lagi...! Kok jadi koki?...Itu gak sukses namanya!"

"Hanan... Sukses itu ukurannya bukan hasilnya... Tapi profesional melakukan pekerjaan tersebut!" kata Ayah.

"Profesional...?"

"Ih, Ayah neh! Mana ngerti dia apa itu profesional!"

"Mmmmh... Gimana yah bahasa mudahnya?... Gini Nak...! Kalau kamu menjadi Koki dengan sungguh-sungguh dan dengan usaha yang baik... Justru sama tingginya dengan cita-cita yang lain... Dan bahkan mengalahkan semuanya kalo kamu sholeh..."

"Iya Nak, Ayah dan Ibu tidak nuntut kamu harus jadi apa... Ayah dan Ibu pasti mendukung kamu apapun itu... Yang penting bagi kami, kamu jadi anak yang sholeh... Itu saja yang menjadi perhatian Ayah dan Ibu..."

"Iya Nan, Kamu sukses dunia dan sukses akhirat, itu syukur alhamdulillah... Tapi kalaupun di dunia tidak sukses, yang penting kamu sukses akhiratnya! Itu saja Ayah dan Ibu sudah bersyukur sekali dan bangga dengan diri kamu!"

Hanan mengangguk.

"Kamu ngerti, Nan? Apa yang tadi Ayah bilang?" tanya ibu.

"Dikit-dikit..."

"Tuh khan Ayah, pake bahasa yang mudah dikit dong!"

"Nngggg!" Ayah menjadi kebingungan.

"Gak apa-apa kok, Bu! Mungkin maksudnya yang penting Hanan jadi anak yang sholeh khan? Terus harus bersungguh-sungguh!"

"Subhanallaah!!! Sudah sholeh, anak ibu cerdas juga yah! Kayak Ibunya! Hehehe..." ujar Ibu sambil melirik ke Ayah.

Ayah pun hanya bisa "memble".

Saturday, August 18, 2007

JEDA!!!

Assalaamu'alaikum wr wb.

Kepada para pembaca yang meminati blog ini,

Saya beritahukan, bahwa dikarenakan kepulangan saya dari Jerman ke Indonesia yang menyibukkan, saya memohon maaf karena belum dapat mengupdate blog ini rutin seperti sebelumnya.

Di bulan Ramadhan saya akan kembali lagi dengan artikel, cerpen dan puisi hikmah yang baru, insya Allah!

Harap maklum,

Waterpoured

Tuesday, June 05, 2007

[Ask The Scholars]: Donasi Zakat dan Qurban dari Luar Negeri ke Indonesia (Sebagai Minoritas)


Sumber: Islam Online

Ammar - Germany
Question

As-Salamu `alaykum dear scholar, I came from Indonesian, but live in Germany to study and work. I have two questions:
1. Is it right, that I can measure my own zakat fitrah, zakat of salary, kaffarah, and fidyah by myself to Indonesia, with the price of the rice that I used to consume in Germany, without following the rate from the mosque or Islamic Center in Germany? Because their rate is too high for me, but I want to pay zakat. I count the nisab and kadar, and I found that I can pay it. And as an addition, the Mosque or Islamic Center in Germany measure the zakat firah with assumption of the ability of consuming food of a person in one day and one night, not from the measurement from 1 sa'.
2. Can I donate money of qurban and `aqiqah to Indonesia? If yes, how much should I pay? Is it the same price in Germany or the price in Indonesia? Jazaka Allahu Khayran.
Answer

Wa `alaykum As-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger. Dear brother Ammar,

1. The amount of zakatul Fitr (Fitra) is one Sa' of wheat or rice per person in the family. It is not the food of one person for a day. This is a mistake some Islamic centers in the West make by thinking that the Fitra is the same as the Kaffarah. You are required to give either approximately 2.55 KG of the food or its price (especially if giving the price is better for the poor). This is better be distributed in the area where you live (Germany) if there are poor Muslims there but if the poor Muslims are rare it is ok to send it to Indonesia. My personal suggestion is to send the price in Germany of the amount of the food you are distributing but I am sure if you make the distribution in kind in Indonesia then obviously the issue of price does not arise.

2. The amount of Kaffarah is the food of a person of two meals; here you will have to take the price in Germany not in Indonesia even if you make distribution in Indonesia.

3. Qurbani and `Aqiqah are in kind not in money and you can make it in Indonesia if you think there are more deserving needy there especially distant relatives.

4. Zakah on Maal is on the amount saved of the Salary not on the total. If your savings during the year reach Nisab (# Euro 1000) you are required to give the zakah of 2.5% to the poor and needy, you can send this to Indonesia.
Allah Almighty knows best.

Dr. Monzer Kahf

[Ask The Scholars]: Shalat Tahajjud Di Musim Panas


Sumber: Islam Online

Abdullah - Germany

Question:

Dear scholar, As-Salamu `alaykum. Is it permissible to do tahajjud, pray without sleeping first? Because in this summer in Germany, the `Ishaa' is at around 23.30 o'clock and the Subh/Fajr at 03:00 o'clock. Jazakum Allahu khayran!
Answer:

Wa `alaykum As-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger. Tahajud usually takes place after a sleep, but it is not a condition. So long as you pray in the time of tahajjud, it is counted as so. May Allah accept your good deeds.
Allah Almighty knows best.

Sheikh Muhammad Iqbal Nadvi

Thursday, May 24, 2007

Selfish Good Deed


Di beranda rumah, Yudhi dan Puput sedang asyik menikmati singkong goreng di sore hari.

''Hmm... Mana Put? Udah jadi tehnya? Kalo makan singkong goreng tanpa teh manis, kayaknya ada yang kurang deh...!'' tanya Yudhi.

''Bentar lagi kok... Belum dingin...''

''Dingin? Loh emang kamu bikin es teh manis apa?''

''Iyah...''

''Sore-sore begini? Yang bener ajah Neng?''

''Biarin aaah! Puput lagi pengen...''

''Iih! Mau menang sendiri ajah seh kamu... Dasar!!!''

''Heheheh! Eh Mas... Itu yang baru lewat Pak Reza khan?''

''Iyah... Emang kenapa?''

''Orangnya baik banget yah...! Orangnya dermawan banget... Masjid di belakang rumah kita ini sudah direnovasi... Jadi bagus banget dan lebih bersih... Itu berkat sumbangannya Pak Reza loh!''

''Iyah... Moga amal jariyahnya diterima oleh Allah!''

''Enak yah jadi orang baik... Berbuat kebaikan sama siapa aja... Dan jadi dikenal banyak orang... Pengen deh Aku kayak gituh... Jadi terkenal dan kebaikanku dikenang selalu... Pasti rasanya senang banget deh...''

''Lah...!!! Berbuat baik kok malah pengen dikenal orang... Selfish tuh namanya!''

''Selfish? Ikan?''

''Gedubrak deh gue...! Maksudnya 'Aku' banget... Ego, riya' atau apalah... Berbuat tapi mengharapkan sesuatu, mendapat pengakuan yang baik,mau menang sendiri...''

''Oooh! Carmuk yah?''

''Apa? Nyamuk?''

''Iiihh sebel deh!''

''Heheheh... Iya... Kira-kira kayak gitulah... Makanya kalo berbuat baik, hati itu harus dijaga... Kalau takut hati ini gak aman... Berbuat baik gak usah terang-terangan... Ada anjuran untuk melakukannya sembunyi-sembunyi aja...''

''Hmm...''

''Kalo terang-terangan yah hati-hati aja... Sehabis berbuat baik, pasti timbul rasa baik dan senang... Sebenarnya seh itu gak apa-apa... Asalkan dalam hati aja... Gak usah diumbar... Apalagi terlalu ekspresif...''

''He-eh!''

''Kalo abis berbuat baik dan timbul rasa itu... Kita seharusnya harus mulai khawatir... Nah, pada saat itu, kita coba jaga hati kita... Biar gak jadi besar rasa atau 'Ge-Er'... Banyak-banyak istighfar dan berdzikir ajah... Biar niat kita tetap lurus karena Allah semata... Tidak condong untuk meraih kepentingan diri sendiri... Apalagi ada perasaan, dengan kita telah berbuat baik, maka kita sudah tergolong orang-orang yang baik... Padahal belon tentu!''

''...''

''Ngerti khan Put?''

''...!''

''Put?''

''A-air! Uhuk!''

''Tuh khan!!! Kesedek yah???''

Monday, May 21, 2007

Saat Maaf Itu Belum Tiba


Telepon berdering tak hentinya. Adam yang tak jauh dari situ, tak bergeming sedikitpun. Dari arah dapur terlihat seorang ibu bergegas ke ruang tengah untuk mengangkat telepon.

''Adam...! Kok gak diangkat seh Nak? Ibu khan lagi di dapur... Kamu lagi capek banget dari pulang sekolah yah?...'' tanya Ibunya Adam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
''...''
''Hallo!.... Wa'alaikumsalaam.... Iyah... Adam ada di sini kok To... Sebentar yah!.... Dam, neh si Yanto mo ngomong...''
''Ibu... Mohon bilangin ajah kalo Akunya lagi gak mau diganggu...''
''Loh kok?''
''Plisss...!!!''
''Iyah deh... Kayaknya kamu lagi capek... Hallo nak Yanto... Maaf neh Adamnya lagi istirahat... Bisa telpon lagi nanti yah?... Baik... Wa'alaikumsalaam...!''
Ibunya pun menghampiri Adam, sambil meletakkan telapak tangannya di kening dan leher Adam.
''Gak... Kamu gak panas kok... Kamu kenapa seh Dam?''
''Hmmm... Aku lagi males ngomong ama Yanto Bu.''
''Kenapa?''
''Duh... Males neh ceritainnya...! Pokoknya dia punya salah ama Aku... Trus dia gak minta maaf lagi...''
''Kamu dah bicara ama dia?''
''Justru kayaknya dia gak ngeh, kalo dia dah buat salah sama Aku...''
''Lah... Trus gimana dia bisa tahunya dong?''
''Dia cari tahu aja sendiri!''
''Jadi biar dia tersiksa, karena kamu diemin, gituh? Biar terbalas dengan setimpal kesalahan dia ke kamu?''
''Iyah...''
''Ih Kamu neh! Jangan kayak gitu dong Dam! Jangan ngarepin dia tahu sendiri kesalahannya dia ke kamu! Dan jangan ngarepin dia minta maaf sama kamu! Sebaiknya kamu memberi maaf dia, sebelum dia minta maaf... Mungkin saja cuman salah paham kecil...''
''Abisan... Aku marah sekali Bu... Biar tau rasa dia!''
''Ih...! Jangan nyumpah-nyumpahin kayak gitu dong...! Marah itu jangan Kamu bawa-bawa untuk tidak memaafkan dia... Malah kamu jadi berat hati dan tersiksa sendiri... Apalagi sampai merasa dendam dan ingin membalasnya... Bisa-bisa, kalo Yantopun jadi minta maaf, malahan Kamu gak mo maafin dia sama sekali...''
''Gengsi...! Ibu gak tau seh masalahnya apa...''
''Kamu memberi balasan memang boleh... Tapi lebih utama memberi maaf... Apalagi memberi maaf, sebelum dia meminta maaf... Karena memberi maaf itu lebih utama, daripada mengharapkan minta maaf... Di Al Qur'an saja yang tertera adalah kewajiban memberi maaf... Meminta maaf malah tidak ada... Yang ada meminta ampun sama Allah...''
''Kok?''
''Coba deh Kamu rasa... Mana yang lebih berat? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Memberi maaf kayaknya... Tapi kenapa berat yah Bu?''
''Karena kalo Kamu merasa teraniaya oleh kesalahan orang lain... Rasa amarah dan benci lebih mendominasi Kamu... Makanya kenapa berat... Dan lagipula kalo Kamu belum memberi maaf, Kamu seakan menguasai dan memegang nasib kehidupan dia... Padahal kamu bukan Tuhan yang berhak memberi ampunan atau tidak...Yang ada jadinya berharap orang tersebut mendapatkan keburukan dan kesialan... Atau jika dia minta maaf, malah kita gak mau memberi maaf... Dan itu adalah perbuatan yang tidak terpuji...Malah kita menjadi berdosa...''
''Iyah aku paham... Tapi setidaknya khan dia juga punya kemauan minta maaf bukan?''
''Kendalanya mungkin si yang bersalah bisa jadi gak tau, kalo dia telah berbuat salah atau menyinggung Kamu... Atau bisa jadi karena ada hambatan sosial, dimana dia juga sebenarnya malu meminta maaf karena gengsi atau karena mungkin merasa bisa langsung dimaklumi... Misalkan abangmu minta maaf sama Kamu, karena dia merasa lebih tua dari Kamu... Mana lebih gengsi? Meminta maaf atau memberi maaf?''
''Meminta maaf seh pastinya...''
''Sudahlah, maafkan saja! Kalo kamu gak usah cerita ke dia juga gak apa-apa... Karena jika kamu bersabar dan memberi maaf sebelumnya, Kamu justru mendapat penghapusan dosa dan penambahan pahala, karena Kamu telah dianiaya... Tapi kalo Kamu cerita ke dia juga boleh banget... Mungkin dia bisa tahu apa yang membuat kamu tersinggung dan dia ingin merubahnya, malah bermanfaat juga buat dia... Yang pasti dengan cara yang baik-baik memberi maafnya...''
''Iya deh... Maaf ya Bu, kalo aku tadi gak ngangkat telponnya...''
''Iya kok Nak... Ibu maklumin...Dah dimaafin Kok... Makan siangnya bentar lagi selesai... Ibu masakin makanan kegemaran Kamu tuh...''
''Teri Medan yah? Asyikkk!!!''

"Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada Tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?'' (Q.S. Al-Nur 24: 22-23).

''Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.'' (Q.S. Al-Thaghabun 64: 14).
''Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.'' (Q.S. Al Baqarah 2: 263)
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali 'Imran 3 : 134)

(Q.S. Al Baqarah 2: 178), (Q.S. Al Baqarah 2 :237) , (Q.S. Asy Syura 42: 37)

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah saw. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya Beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani)

Rasulullah bersabda: "Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia
akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan
Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan
cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat
dari-Nya (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf
atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan
marahnya." (HR Hakim)

“Tidaklah Nabiyullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika diberi dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya selama tidak mengandung dosa. Apabila mengandung dosa, beliau menjauhkan keduanya dari diri beliau. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena dirinya apa yang dilakukan terhadap diri beliau kecuali jika pengharaman Allah dilanggar maka beliau marah karena Allah.” (HR. Bukhari)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjelaskan, amal yang paling disenangi Allah SWT ada tiga, ' Memberi maaf sewaktu sempat membalas dendam, berlaku adil saat emosi, dan menaruh belas kasihan terhadap sesama hamba Allah.'

Teman 'Paksa'


Linda sedang terduduk cemberut di kamarnya, sambil memandangi HP-nya. Melihat adiknya seperti itu, Alia menghampirinya dengan rasa khawatir.

''Kenapa Lin? Kok diem ajah?''

''Mmmmhh... Linda dari kemaren ngubungin Saskia, gak diangkat-angkat... Sebel! Neh SMS ajah gak dibales-bales... Dia temenku gak seh???'' keluh Linda.

''Kali aja si Saskia lagi sibuk... Jadi sementara lagi gak ada waktu buat Kamu... Sabar dong Lin! Jadi temen jangan kayak gituh...! Khan, Saskia juga punya urusannya sendiri...''

''Saskia ama aku khan akrab banget, Kak...! Kita suka becanda, jalan bareng, curhat-curhatan... Dia temen terbaikku... Kita akrab banget... Aku gak malu-malu kalo curhat... Aku terbuka banget ama dia... Dia kalo kasih masukan juga bagus-bagus... Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering menghindar... Kayaknya aku sekarang kayak dikhianati jadi temennya ato gimana gituh... Gak diperhatiin lagi...''

''Kok gituh si Lin? Kasian si Saskia dong...! Mo jadi temen baik Kamu, malah jadi teman 'paksa'...''

''Hah? Aku gak maksa kok...!''

''Kalo gak maksa, seharusnya kamu gak perlu merasa seperti ini khan? Harusnya maklumin dia...''

''Tapi khan namanya teman, ya setidaknya temenin aku, trus dengerin curhatanku...''

''Inget Lin! Saskia itu hanya seorang teman... Bukan seseorang yang harus selalu disamping kamu terus... Dan bukan juga yang selalu melayani apa yang kamu mau... Dia bukan milik Kamu, sehingga Kamu menguasai dia...!''

''...''

''Kita kalo berteman semestinya seh jangan akrab-akrab banget... Soalnya nanti banyak tuntutannya... Harus begini... Harus begitu... Berteman kok kayak masuk 'jebakan' seh..!''

''Nggg...''

''Truuss kalo udah deket banget, banyak hal kecil jadi sensitif dan jadi serba salah... Kalo dia punya kesalahan sama Kamu sekecil apapun itu, maka Kamu pasti gampang marah dan membenci dia... Apalagi kalo dia gak melakukan apa yang Kamu mintakan atau dia tidak merespon Kamu, pasti Kamu merasa dikhianati...''

''I-iya seeehh...''

''Apalagi kalo kamu sudah cuhat tentang banyak hal, terutama rahasia pribadi kamu... Tentu dia cepek dooong menampung banyak curhatan dari Kamu dan jadi tambah berat kewajibannya untuk tidak membicarakannya kepada orang lain... Padahal dia sudah repot dengan masalahnya sendiri... Sekarang malah ditambah dengan masalah Kamu... Apalagi nanti pada saat ada keretakan hubungan pertemanan, bahkan saat sudah marah besar, bisa jadi segala rahasia tadi malah terkuak dipermukaan dan bahkan bisa jadi bahan ejekan antar kalian... Orang lainpun jadi tahu...''

''Jadi... Kita berteman sebaiknya biasa-biasa ajah yah?''

''Sebaiknya seh gituh... Maklumi saja, kalo dia tidak punya waktu sama Kamu... Lagian kalo Kamu mo curhat-curhatan, lebih baik seh sama keluarga Kamu ini... Lebih aman dan nyaman!... Karena kami punya kewajiban lebih besar sama Kamu... Harus lebih perhatian sama Kamu... Dan meluangkan waktu buat Kamu... Kamunya seeeh, sekarang suka jarang curhat-curhat sama Kakak... Apalagi serumah... Tinggal ketok pintu kamar ajah... Sedih deh... Hiks hiks hiks...''

''Iya deh Kak... Tapi Aku juga gak mo maksa kok... Heheheh...!''

''Iya deh adekku sayang!!!''


"Cintailah saudaramu dengan biasa-biasa saja, bisa jadi suatu saat nanti ia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kau benci dengan biasa- biasa saja, bisa jadi suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kau cintai. (HR at-Tirmidzi)

Thursday, May 10, 2007

Kini Bertaubat, Selanjutnya Terserah Anda?


Bagas dan Maman sedang asyik bercengkrama di kedai Pak Somad. Lalu terdengar adzan maghrib dari Masjid di depan kedai tersebut.

''Gas! Udahan dulu yuk! Udah adzan... Mending kita maghriban!''

''Lo aja deh!''

''Lah? Kemaren katanya...?''

''Iyah! Itu khan kemaren... Gue khan dah tobat... Berarti dosa gue yang dulu dah diapus...''

''Heh? Tapi sekarang...?''

''Yah nanti aja lah! Selanjutnya terserah gue... Masih panjang umur gue... Khan Allah pemberi maaf...''

''Waduh! Kalo lo besok mati gimane?''

''Yeeeee!!!!''

''Eh Sori... Maksud gue, kalo lo dah gak dikasih kesempatan hidup lagi, lo kapan bisa minta maafnya?''

''Yahhh... Khan nanti di akhirat kalo face to face, gue bilangin aja, kalo gue gak bermaksud berbuat gitu... Dan gue menyesal... Masak seh gak maafin juga?''

''Bukannya nanti diakhirat dah gak ada tawar-menawar lagi?''

''Iya gituh?''

''Iya dong! Kalo kita mati, khan berarti amalan kita sudah putus... Berarti kita gak bisa berbuat banyak lagi, supaya dosa kita dihapuskan...''

''Jadi?''

''Ya... Ampunan itu adanya yah semasa kita hidup ini...''

''Ooh!''

''Lagian kok bisanya lo yakin, kalo lo dah diampunin? Khan ampunan itu Haknya Allah... Analoginya, kok bisa lo yakin kalo nilai ulangan matematika lo dapet 10 dari guru, jika elo gak bersungguh-sungguh belajar untuk dapet nilai 10?''

''Maksud lo?''

''Kalo lo minta ampun, harusannya dibarengi dengan kesungguh-sungguhan dan janji untuk meninggalkan kesalahan lo dan melaksanakan perintahNya dengan benar... Jadi ampunan itu tergantung bukti kesungguhan lo... Dan lagian, siapa bilang kalo lo cukup sekali bertobat, lalu semuanya bisa diampuni..? Justru lo harus khawatir kalo-kalo tobat lo gak diterima... Dan harus khawatir jika kesalahan lo terulang lagi... Atau jangan-jangan ada kesalahan baru datang... Jadi sebaiknya banyak-banyaklah bertobat dengan tidak terputus-putus... Karena kita itu suka menganggap enteng dosa, apalagi dosa kecil sekalipun...''

''Jadi gue belon tentu di ampuni? Jadi gue harus gimana dong?''

''Minta ampun itu harus ada tindak lanjut setelahnya... Allah juga perlu bukti dong atas kesetiaan lo ama Dia... Jadi kita harus konsisten, gak setengah-setengah! Jika kita kembali melakukan kesalahan kita lagi, maka ampunan itu bisa saja ditarik kembali... Atau dosa kita malah dilipat gandakan, karena kita sudah tidak menepati janji kita kepadaNya... Gimana rasanya kalo ada orang yang gak nepatin janji ama lo?''

''Gue pasti ngerasa dikhianati...! Dan yang pasti marah sekali...!''

''Nah! Jadi?''

''Iyah... Gue sholat!!!!''

Friday, May 04, 2007

Tuhan Itu Tidak Ada,...


Muhsin dan Masyuri, sedang hunting buku seputar tema Tauhid di Perpustakaan Iman Jama', Pasar Jum'at. Dua kakak-beradik ini sedang menyusun silabus pengajian remaja di Masjid Jami' Daarul Adzkaar, Karang Tengah.
''Bang Ucin! Gua pernah denger tuh... Ada teori yang membuktikan kalo' Tuhan itu gak ada... Katanya Tuhan itu ada hanya karangan manusia, untuk menghapus kesendiriannya...'' kata
Masyuri kepada kakaknya.
''Iye emang!... Emang gak ada Tuhan...,''
''Lah??''
''...Yang ada cuman Allah... Heheheh!''
''Yeee... si Abang...!''
''Ye emang bener lagi...! Allah itu ada.... Yang bilang Dia sendiri kok di Al Qur'an... Lagian kok bisa gitu loh Tuhan dibuktikan gak ada?... Gak seru dong!... Khan yang namanya Tuhan itu Yang Maha Segalanya... Kalo dibuktikan gak ada oleh manusia, berarti bukan Tuhan lah....!''
''Iyah... Allah itu Maha Kuasa dan Maha Besar... MakhlukNya hanya tahu sedikit dari keluasan ilmuNya. Kalo' gak ada Tuhan, ya MakhlukNya juga gak mungkin ada lah...!''
''Yah... Namanya manusia kalo bertambah ilmu, bertambah makin berlagak kayak Tuhan, Ri!''
''Hehehe... Oh iyah! Gua juga pernah denger tuh, kalo' Tuhan-tuhan yang disembah dari berbagai agama itu, adalah Tuhan yang sama... Cuman namanya ajah yang beda-beda dan deskripsi wujudnya pada patung berbeda-beda pula, tergantung persepsi budaya setempat...''
''Heh? Itu siapa yang ngomong?''
''Tau dah... Ada tuh bukunya di Toko Buku... Pernah gua baca... Penulisnya bilang begitu...''
''Emang dia siapa? Rasul? Nabi? Ulama'?... Emang Tuhan pernah bilang ke Dia seperti itu?''
''Ya pastinya kagak lah! Yang pasti itu cuman asumsi nalar dia ajah...''
''Ya udah... Perkataan manusia kok lebih didengerin daripada perkataan Allah...? Khan Allah dah bilang melalui Al Qur'an... Kalo' dia itu adalah Allah... Dia punya wujud dan zat, yang akal manusia tidak mungkin sampai menggambarkannya... Dia gak pernah bilang kalo Dia punya nama atau panggilan lainnya... Kayak preman ajah ada nama panggilan atau julukan lainnya segala...?''
''Heheheh...''
''Udahlah Ri! Gak usah ikut-ikutan dengan orang yang belum teguh keyakinannya... Yang masih ragu-ragu akan kebenaran... Yang ingin semua orang yang sudah punya iman, untuk ikutan pusing dan menderita bareng ama dia... Kita punya Al Qur'an... Dan itu Firman Allah... Itu saja yang kita ikuti... Ikuti yang Allah bilang... Apa yang Dia bilang sudah pasti benar...''
''Iyah Bang! Gua mah pengennya kita siap-siap ajah... Kali-kali nanti pas tema ini dibicarakan di pengajian... Ada yang nanya-nanya kayak gituh...''
''Ya Cukup bilang ajah.... Lailahaillallah! Tuhan itu tidak ada... Yang ada Allah!''

Thursday, May 03, 2007

Doa (Buat) Bang Kiko...


Asing rasanya tak terdengar bel berdering di SMP Taman Ilmu ini. Tentu saja bukan belnya rusak, atau mati lampu. Tapi hari ini adalah pembagian Rapor. Tak hanya para siswa dan guru yang lalu-lalang, namun para orang tuapun turut meramaikan hari besar anak-anaknya ini.

Setelah kerumunan tampak surut, terlihat beberapa siswa mangkal dekat gerobak Pak Haji Samin, sang penjual Bubur Ayam. Mereka adalah para siswa kelas dua yang memang sering berkumpul di situ. Tentu saja bukan untuk malak anak orang lain, tapi hanya bergaul layaknya anak ABG kebanyakan.

''Yeee... Tu Memet lama bener seh pisahan ama nyokapnya... Bentar lagi khan kita kudu cabut ke rumah Bang Kiko...'' kata Raju sambil melahap Bubur Ayam porsi keduanya.

''Tenaaang... Bang Kiko jam segini juga belon kelar kuliahnya... Lo masih bisa nambah lagi dah!'' kata Acong sambil menepuk-nepuk perut buncit Raju.

''Hehehehe...''

Ken yang tadi tidur di meja langsung menimpali, ''Bang Kiko pasti seneng neh... Kita semua lulus dengan nilai bagus.... Ada beberapa dari kita masuk rangking lima besar segala... Siapa lagi kalo bukan karena Bang Kiko... Guru les privat kita... Ya Gak?''

Tiba-tiba Memet, yang entah berada di dekat mereka sejak kapan, ikut berkomentar, ''Yoiiii.... Tapi bukan karena itu ajah, Jek!... Ini juga berkat doanya Bang Kiko... Always Manjuuuurrrr!!!''

''Iyah bener tuh... Kita gak minta ajah, pasti didoain deh... Kita seh biasanya juga doa sendiri... Tapi walau begitu Doa Bang Kiko tetep ampuh tenan rek!... Orang sholeh mana yang gak dikabulin doanya... Iya gak?... Hahahahah...''

''Hahaha... Iyah-iyah...''

Pak Samin yang sedang menyiapkan porsi ketiga Raju tertarik dengan pembicaraan mereka, lalu berkata, ''Hebat yah Abang Kiko kalian itu... Perhatian banget, tanpa diminta... Berdoa, karena sayang dengan kalian...''

''Iyah dong Pak! Bang Kiko is the best!... Our Teladan.... Eh? Teladan bahasa inggrisnya apa seh Cong?'' kata Memet sambil menyikut Acong.

''Au'!!!''
''Kalo boleh bapak tanya... Kira-kira salah satu dari kalian pernah tidak mendoakan Abangmu Kiko itu? Setidaknya untuk kebaikan dan kesehatannya? Atau perkuliahannya supaya dia cepet lulus? Sebagai tanda sayang dan perhatian kalian kepadanya?''

Mereka terdiam dan saling memandang. Suasana menjadi hening dan terasa aneh. Pertanyaan Pak Samin tak terjawab oleh mereka. Pak Samin hanya bisa terkekeh-kekeh sendiri. Mungkin Pak Samin lagi datang jahilnya. ''Tapi supaya anak-anak itu mengerti, kenapa tidak?'' pikirnya.

Wednesday, May 02, 2007

Sedekah, Mampu Tak Mampu...


Heri berjalan menelusuri gang yang beralaskan aspal menuju Musholla. Setengah jam nanti, ia harus mengumandangkan adzan, yang merupakan tugasnya ashar ini sebagai muadzin. Tapi sebelumnya ia ingin mendatangi warung dekat Musholla, untuk membeli Nasi Uduk buatan Mpok Salma yang terkenal lezat dan porsinya yang besar.

Beberapa meter sebelum mencapai Musholla, ia mendapati Pak Biduk sedang menutup lubang di jalan dengan batu kerikil. Heri tahu lubang itu sudah beberapa hari ini belum diperbaiki.

''Assalaamu'alaikum...'' sapa Heri.

''Wa'alaikumsalaam... Nak!''

''Kenapa bapak bersusah payah menutup lubang ini... Ini khan seharusnya urusannya Pak RT... Bapak disuruh olehnya?''

''Tidak, Nak... Ini kemauan bapak sendiri... Kasihan khan orang lalu-lalang di sini dan yang akan menuju Musholla ini... Apalagi yang bawa motor atau sepeda... Bisa bahaya... Yah, hitung-hitung bersedekah, lah Nak... walau apa adanya dan sementara...''

Mendengar jawaban Pak Biduk, Heripun teringat akan apa yang selalu Pak Biduk lakukan akhir-akhir ini. Ia pernah mendapati Pak Biduk menyingkirkan kerikil-kerikil atau kotoran binatang di jalan, supaya orang nyaman berjalan di gang ini. Ia juga pernah melihat Pak Biduk menutup kran air wudhu' Musholla yang ditinggal terbuka. Membersihkan selokan tetangganya. Rasanya tak terhingga kebaikan apa yang Pak Biduk lakukan untuk kepentingan orang lain. Namun tak ada perhatian maupun penghargaan dari orang lain akan apa yang Pak Biduk lakukan.

Tapi sedihnya, Pak Biduk bukanlah orang yang bercukupan. Ia adalah seorang tukang kebun di kompleks perumahan yang tak jauh dari sini. Dengan beberapa ekstra pekerjaan di luar pekerjaan tetapnya, ia menafkahi istri dan dua anaknya seadanya.

''Seharusnya bapak berhak mendapatkan sesuatu dari ini...''

''Hehehe... Sudahlah Nak! Bapak ikhlas... Namanya juga sedekah... Kalau bapak punya kemampuan harta, maka itu bapak sedekahkan... Kalau bapak punya ilmu, maka itu bapak sedekahkan... Sedekah untuk memperbaiki jalan ini... Namun saat ini bapak hanya bisa sedekah tenaga... Mumpung masih sehat badan... Dengan tangan dan kaki bapak yang masih mampu ini...''

''Iyah, maaf Pak... Saya berbicara tidak pada tempatnya...''

''Tidak apa-apa, Nak! Saya sangat senang bersedekah, berbuat segala kebaikan untuk orang lain... Kalau tangan dan kaki inipun tidak mampu, maka sedekah bapak adalah dengan berkata-kata baik dan bermanfaat dengan nasihat... Jika tidak mampu juga, maka sedekah bapak adalah dengan tersenyum... Dan jika bapak dipanggil oleh Allah, maka sedekah bapak adalah cangkul ini dan Al Qur'an yang bapak punyai... Bapak berikan kepada orang lain atau Musholla, supaya dimanfaatkan... Dan itu menjadi sedekah jariyah bapak insya Allah...''

Malu menyelimuti hati Heri. Lalu ia berlalu menuju warung terdekat di sana. Kemudian berbalik ke arah Pak Biduk, sambil membawa Es Teh Manis dan sebungkus Nasi Uduk Mpok Salma buat Pak Biduk.

Kisah Penderma yang Kesepian


Hiduplah penduduk di suatu kampung penuh kesejahteraan. Tersebut selalu nama Pak Reza oleh warga tersebut dengan sangat akrab. Ia dikenal sebagai saudagar kaya yang sangat dermawan. Membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Duduk di beranda rumahnya, Pak Reza tampak sedih. Pemandangan yang jarang ditemui oleh istrinya.

''Ada apa suamiku? Kenapa kamu tampak sedih seperti itu?''

''Ingatkah waktu kita dulu...? Diberi kekayaan namun penuh ketakutan...? Setiap malam, mata ini tidak bisa terpejam, takut kehilangan harta yang kita miliki...?''

''Iya...''

''Ingatkah waktu itu? Kita sudah lama terpenjara dalam rumah sendiri dalam ketakutan itu...?''

''Iya... Tapi alhamdulillah Allah membuka hati kita... Bahwasanya harta yang kita miliki bukanlah milik kita... Harta pinjaman yang Allah berikan kepada kita, dipinjam lagi olehNya untuk kita bagikan kepada yang memerlukannya... Sekarang kita lebih damai dan bahagia... Dan orang di sekitar kitapun, subhanallah, juga ikut berbahagia...''

''Iyah... Tapi aku terkadang merasa lelah...''

''Kenapa suamiku???''

''Mereka datang kepadaku meminta pertolongan. Namun setelah itu mereka pergi dan tidak pernah kembali. Tak pernah ada kabar sekalipun... Tegur sapapun tidak...''

''Suamiku... Mereka akan selalu mengingat kebaikanmu dan berterima kasih akan hal itu. Tapi kamu tidak berhak memaksa mereka untuk kembali dan tetap di sekitarmu. Semua orang harus terus melangkah dalam kehidupannya, termasuk dirimu... Karena setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing...''

''Namun kenapa aku masih merasa kesepian?''

''Oh suamiku... Kamu terlalu lama merasa sendiri.... Janganlah terlalu berharap mereka mengerti dirimu dan apa yang kamu butuhkan... Nikmati saja pertolongan yang kamu bagi kepada mereka tanpa berharap imbalan maupun perhatian sekalipun... Yang pertolongan itu akan menjadi kebahagiaan mereka... Nikmati juga sisanya di akhirat kelak...''

''Astaghfirullahal'azhim...''

''Suamiku... Aku masih berada di sisimu... Yang lebih mengerti dirimu... Janganlah kamu merasa kesepian... Jika tak ada satupun orang yang menemanimu sekalipun... Allah akan menjadi satu-satunya temanmu, jika kamu ikhlas apa yang kamu lakukan...''

Lambat laun dengan bergulirnya tahun, nama Pak Reza lenyap di kampung itu. Namun kampung itu masih tampak sejahtera. Hanya kabar tentang kelahiran anak pertamanya yang terdengar.

Monday, April 30, 2007

Dilema Dakwah: Ketika Publik Masih Bertuan Diri



Masih ingat tentang kasus video panas anggota DPR dengan bintang penyanyi dangdut? Masih ingat salah seorang mubaligh terkenal yang berpoligami? Dua-duanya di mata publik adalah sama bersalah, dan lambat laun turun pamor hingga terkucil. Padahal ada perbedaan yang sangat jauh antara apa yang mereka perbuat, apalagi di mata Allah.


Beberapa tahun belakangan ini, bermunculanlah wajah-wajah baru, muda dan lagi segar di dunia tabligh. Keberadaan mereka tetap bertahan karena permintaan pasaran yang antusias dari publik. Kadang dari levelnya sebagai mubaligh malah diposisi sama ratakan oleh publik dengan ulama. Padahal beda jauh dari segi keilmuan dan kredibiltasnya. Tak hanya inovatifnya cara dan tema-tema ceramah yang kekinian yang dinilai, namun naudzubillah min dzalik lebih dari itu.

Seorang saudara penah ikut pada sebuah majelis ta'lim salah satu mubaligh ini. Pesertanya kebanyakan ibu-ibu. Tak pernah habisnya lampu flash bertebaran, karena mereka ingin sekali mengambil gambar mubaligh tersebut. Terdengar olehnya, ibu-ibu itu bergosip mengagumi wajah tampan sang mubaligh yang terlihat cool, sampai-sampai lupa sama suami.

Saya masih teringat komentar lucu saudara saya: ''Pantesan aja si mubaligh yang itu pas berpoligami banyak ibu-ibu yang menentang... Wong ibu-ibunya paling juga kepengen jadi istri keduanya... Makanya pada banyak yang patah hati...''

Saya jadi teringat maraknya acara kontes-kontesan di banyak televisi di Indonesia. Anda tinggal nilai penampilan mereka di layar kaca. Mulai dari cara berjalan, berpakaian, berbicara dan lain-lain. Lalu jika anda suka, maka anda tinggal klik sms untuk memberikan suara kepadanya. Jika kontestan itu tidak ada yang suka, maka ia harus siap-siap dikeluarkan sehingga tidak bisa ikut pada sesi berikutnya. Kadangkala para kontestan harus mengikuti kemauan publik. Dan jadinya ia terperangkap untuk menjadi seseorang yang ia bukan.

Apakah itu yang sekarang terjadi pada nasib para mubaligh kita? Apakah mubaligh harus khawatir dirumahkan oleh publik? Jika tidak ingin dihengkangkan, apakah mereka tetap jaim (jaga image), berhati-hati dalam bergerak dan mengikuti apa saja mau publik, sehingga tidak kehilangan fans yang mendengarkannya dan kepopulerannya?

Kini bukan saja publik mendengar nasehat dan ceramah mubaligh, namun mubaligh harus siap-siap mendengar komentar dan kemauan publik. Jika si mubaligh tidak mendengar mereka, maka publik tidak akan mendengar si mubaligh lagi dan pergi meninggalkannya.

Publik kita memang masih belum bisa melepaskan diri dari keegoannya. Mereka yang seharusnya seorang hamba atau pelayan Allah, malah masih merasa sebagai tuan atau juragan yang harus dilayani. Jadi apa yang di mata mereka baik, maka itu adalah kebenaran.

Sebagai seorang mubaligh memang harus siap menghadapi dilema tersebut. Sebaiknya apa tindakan mubaligh, ia tidak perlu mengkhawatirkan apa kata publik nanti, apakah nanti dinilai baik ataukah buruk. Sehingga jalan dakwah tetap lurus dan bersih dari riya' dan sifat kemunafikan.

Sampaikanlah! meski satu ayat. Sampaikanlah! jika hanya satu orang saja yang mendengar. Sampaikanlah! Meski kamu akan ditinggalkan. Tapi janganlah engkau tinggalkan mereka, seperti Nabi Yunus sempat meninggalkan kaumnya!

Thursday, April 26, 2007

Lain di Dunia, Lain di Akhirat...


Tampak di kejauhan Andre dengan wajah penuh bahagia. Tentu saja tak heran, karena dia lulus ujian di semester ini, pada tiap mata kuliah dengan nilai lumayan.

''Gimana lo Ton? Gw aja dapet hasil begini bagusnya...'' kata Andre dengan bangganya.

''Sok lo!!! Gw seh dari kapan tau juga nilai paling pas-pas mulu...'' kata Tono tersinggung.

''Ah elo... Lonya aja yang gak rajin belajar kali???''

''Yee neh orang... Kayak elo aja rajin!!! Gak caya gw... gak caya....!!!''

''Hehehe... Tapi khan tetep aje gw dapet nilai lumayan... Gak perlu banyak belajar... Tetep jalan kemana aje... Yang penting ngikut ujian en lulus...''

''Iye deh ah... Lo emang rajanya hoki!''

''Liat tuh temen ngaji lo si Teguh... Sok alim, sok baek, sok rajin, kutu buku... Toh nilai rata-ratanya sama aja ama gw... Makanya rajin sholat gak ada jaminan kok kita lulus ato kagak... Liat aja gw minum iye, gak sholat iye, Have Fun Go Mad mulu......''

''Huss!!! Nyebut Lo!!!''

''Ah muna' lo!!''

''Iye aja kalo emang nilai lo emang sama ama dia... Tapi itu urusan dunia, men! Belon tentu di akhirat juga sama...''

''Sahhh... Bisa juga lo nasehatin gw.... Dah ustadz lo??''

''Insyaf lo insyaf... Sorry neh ye....Walaupun lo di Dunia lebih beruntung daripada dia sekalipun, Lo belon tentu seberuntung itu di Akhirat... Emangnya lo masuk surga karena nilai ujian lo bagus ape???''

Andre terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Tono tadi.

''Tapi nilai gw masih bagusan daripada elo khan???'' kata Andre menggoda.

''Beneran deh lo... Nyebelin banget!!! Songong amat seh jadi orang!!! Ngoceh suka gak mikir...''

''Iya deh, iya deh.... Kata-kata lo tadi bener kok, pren... Sorry!''

Tuesday, April 24, 2007

Bina-ul-Barakah: Ingin Punya Rumah yang Islami?


Kunjungi Link ini: Bina-Ul-Barakah

Link ini adalah blog penjajakan pribadi saya sesuai bidang saya, yakni arsitektur. Blog ini lebih mengkerucut pada pokok bahasan Arsitektur Islami.

Melalui blog ini anda akan mengetahui mana yang sebenarnya yang dianjurkan dan mana yang hanya sekedar hasil budaya, mana yang seharusnya ada karena harus fungsinya dan mana yang hanya sekedar hiasan belaka.

Apakah Kubah, Menara, dan Mihrab adalah harus pada bangunan Masjid? Think Again!!! Jawabannya tidak...

Apakah Rumah yang Islami itu harus ada Kaligrafi dan bentuk-bentuk cekungan seperti kubah yang berbau arsitektur timur tengah? Think again!!! Jawabannya tidak...
Apakah WC dan tempat wudhu' yang standard skrg islami? Think again!!! Jawabannya tidak...

Bina-Ul-Barakah artinya adalah Bangunan yang Berkah. Melalui blog ini saya akan mengupas satu demi satu aspek-aspek lebih penting dalam mndesain bangunan yang islami.

Jadi... Arsitektur Islami itu 'Merancang'... atau 'Menghias'?

Selamat berseluncur... :)

Sunday, April 22, 2007

Kala Panggilan Itu Terdengar...


Ahmad Suroyo adalah seorang mahasiswa Psikologi Islam UMJ. Ia sedang mengadakan penilitan ilmiah, yang berhubungan tentang pribadi muslim dalam menghadapi kematian. Dia mengambil sampel sebuah perumahan rel estat di kawasan selatan jakarta, dengan mengadakan interview singkat dan sederhana: ''Bagaimanakah jika anda dipanggil oleh Yang Maha Kuasa?''.

Hasil interview dari puluhan sampel tidak memuaskannya. Keputusa asaan, ketakutan dan kehilangan masih menjadi jawaban yang umum dalam isi buku penelitiannya.

Tinggal 2 sampel lagi yang harus ditemui, namun Ahmad nampaknya ada rasa sedikit menyerah.

''Yah! Namanya tinggal di kota yang serba materialis dan hedonis...'' keluhnya.

***

Sampai dia di rumah pengusaha batik. Rumahnya tak terlalu megah. Di depan halaman ia dapati seorang bapak berpeci putih menyambutnya.

Setelah obrolan diplomasi tertutur, akhirnya masuklah pertanyaan utama penelitian Ahmad.

''Jika bapak akan dipanggil oleh Allah, harapan bapak apa?''

''Hmm... Pertanyaan iseng tapi berat.. heheheh... Ehem!!!... Kalo bapak seh kalo meninggal kepengen meninggal dengan baik-baik... Trus dikenal oleh orang banyak sebagai seseorang yang baik... Terutama keluarga dan kerabat terdekat jika ditanya siapa saya... Kepengennya seh mereka jawab, bahwa saya suami yang baik, ayah yang baik, sahabat yang baik, kolega yang baik, tetangga yang baik... Pada saat akan dikubur kepengen banyak yang nganterin saya... Maka sebelum saya meninggal, saya harus banyak-banyak berbuat baik kepada semua orang...''

Ahmad sangat mengagumi jawaban bapak tadi.

''Kalau bapak akan meninggal, perasaan bapak gimana?''

''Yahhh... Saya seh gak takut mati... Khan seorang muslim gak boleh takut mati...''

***

Selepas meninggalkan rumah bapak itu, Ahmad makin bersemangat menuju ke rumah sampel berikutnya. Ternyata semakin jarang orang-orang yang memiliki niat baik semacam itu.

''Ini kemudahan Allah. Alhamdulillah...!!!'' kata Ahmad dalam hati.

***

Akhirnya sampai dia di rumah sampel terakhir. Ia dapati seorang bapak sedang sibuk membersihkan selokan depan rumahnya.

''Assalaamu'alaykum...''

''Wa'alaykumsalaam Nak!''

''Maaf neh Pak, saya mahasiswa UMJ yang mendapat ijin dari pak RT di sini untuk mengadakan penelitian ilmiah...''

''Oh iyah... Saya udah terima suratnya dari pak RT... Silahkan masuk!''

''Saya mengganggu yah Pak?''

''Oh enggak kok... Dikit lagi juga selesai kok Nak... Kasihan tetangga-tetangga saya kalo selokannya mampet gara-gara selokan saya...''

Di ruang tamu Ahmad dilayani istri dan anak laki-laki bapak itu dengan teh dan singkong goreng, sambil menunggu sang bapak bersih-bersih.

Bapak itupun keluar ke ruang tamu.

''Kasihan... Udah kesorean yah nak... Ntar maghrib di sini ajah... Di depan ada Musholla... Kita bisa jamaah di sana...''

''Kalo gitu saya langsung ke interview ajah yah Pak?''

''Boleh...''

''Jika bapak akan dipanggil Allah, apa harapan bapak?''

Bapak itu terdiam, lalu menunduk seketika. Matanya nampak berkaca-kaca.

''Kalo saya seh, pengen Allah ridho sama saya... Begitu pula keluarga dan kerabat saya juga ridho... Apakah saya meninggal dengan baik-baik atau terkena musibah yang tragis sekalipun... Asalkan Allah ridho, itu cukup buat saya... Namanya musibah gak pandang bulu yah Nak? Mo orang baik maupun orang jahat...''

''Iyah...'' jawab Ahmad sedikit kaget atas jawaban yang ia tidak perkirakan itu.

''Hmm... Kalau bapak akan meninggal, perasaan bapak gimana?''

''Yang pasti sedih dan khawatir...'' jawab bapak itu sambil meneteskan air mata.

Sekali lagi Ahmad pun tak mengira jawaban itu.

''Kenapa sedih pak? Khan seorang Muslim harus kuat dan tidak takut akan kematian...''

''Bukan sedih karena takut Nak... Bapak khawatir sama keluarga dan orang banyak... Karena bapak gak ada waktu lagi untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi kepada meraka...''

''Oh...''

''Sebelum menghembuskan nafas terakhir, bapak hanya bisa berdoa supaya mereka dijaga keistiqomahannya... Karena kehidupan di masa datang itu akan makin berat dan banyak cobaannya...''

Ahmad pun terdiam lalu menerawang jauh menuju ke sebuah kisah seorang yang besar dan dijunjung oleh orang banyak yang mengaguminya. Kala sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sangat mengkhawatirkan nasib umatnya.

''Ummati... ummati... ummati....''

Saturday, April 21, 2007

Anggur

Anggur itu tak sedap

Bukan sembarang anggur

Anggur ini tak punya rasa

Hampa dalam sunyi anggur


Tak ada yang bisa diperbuat

Berbuat pun tertubruk dinding

Hanya diam pun salah

Salah dengan seluruh sia-sia


Belenggu apakah ini?

Ini pasti bukan mimpi buruk

Belenggu apakah ini?

Ini pasti jauh dari dongeng indah


Apakah ini ruang tunggu?

Tunggu sapaan yang temani

Apakah ini ruang tunggu?

Tunggu jemputan beban akbar


Ya Allah segerakanlah

Ya Allah permudahkanlah


Tak mau tersendat seperti ini

Tak ada nilai yang terpuji


Ya Allah lapangkanlah

Ya Allah segarkanlah


Tak mau lagi meramal nasib di depan

Tak ada kepastian menyambut


Berikanlah aku satu makna dan peranku

Hingga dengan itu saja engkau akan berkahi jalanku

(request dari seseorang yang sedang menganggur :P)

Saturday, April 07, 2007

Musuh Iman


Seto mendapati temannya Dalle duduk di sudut Musholla dengan wajah kelelahan.

''Kenapa Le?''

''Puyeng neh... Makin hari makin berat ajah cobaan...''

''Cobaan apa?''

''Hmm ada deh...'' jawab Dalle sambil tersenyum.

''Sabar yah... Makin kuat iman seseorang makin berat cobaan di dapat... Tetap istiqomah ajah dan berdoa minta pertolongan supaya dimudahkan... Insya Allah kita menang... Walau hasilnya tidak seperti yang kita harapkan...'' kata Seto menenangkan.

'''He eh...!''

''Kayak main Game... Makin tinggi level, makin kompleks permainannya... Kalo bisa bertahan, bisa naik ke level berikutnya... Yahhh ibarat daki gunung lah! Makin tinggi, makin curam...''

''Iyah neh... Kalo kalah bisa jatuh... Apalagi jatuhnya ampe jauh dalam... Susah bangkitnya nanti! Malah kadang kalo gak kuat bisa dengan gampangnya jatuh makin dalam, makin gak bisa balik lagi deh... Dan malah lupa balik...''

''Iyah... Kalo kita jatuh... Setan akan tertawa senang... Orang beriman itu musuh besar setan... Dengan segala cara dan susah payah ia jatuhkan orang beriman supaya jadi sahabatnya... Semakin kuat kita, makin canggih cara setan... Bisa-bisa dia main keroyokan dengan bantuan setan-setan lainnya lagi... Heheheheh....!''

''Hehehehe... Hmmm... Kalo orang sudah gak beriman, setannya gimana?''

''Its work is done! Untuk apalagi dia capek-capek menjatuhkan mereka... Paling-paling jadi mainan bonekaan mereka kalo dateng isengnya atau buat kelinci percobaan ilmiah mereka...''