Friday, January 20, 2006

Ada Apa Denganmu, William ?


William oh William
Temanku... tetanggaku...
Main bareng, jalan bareng, masak bareng, makan bareng
Tergelak bercanda selalu

William oh William
Anak seorang pendeta
kadang ikut bersahur bareng, berbuka bareng
bahkan coba-coba ikut berpuasa

William oh William
Apa yang ingin kau ungkapkan waktu itu kepadaku
Kata-katamu tiba-tiba tertelan begitu saja dalam hati
Pertikaian terlihat diraut mukamu

William oh William
Saatku mendekat teman-temanmu melindungi dengan kebencian kepadaku
Saatku mendekat kaupun tiba-tiba dengan kasarnya mengejek keyakinanku
Namun setelahnya mukamu berpaling dengan raut penyesalan

William oh William
Apa yang kautakuti dariku hingga tak bertegur sapa lagi
Hingga tak satupun kabar tentangmu yang sampai dihadapanku
Sosokmu pun lenyap meninggalkan pertanyaan dibelakang

William oh Willam
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi
Jujurlah kepadaku seperti biasanya engkau jujur
Ada apa denganmu, William ?

Wednesday, January 18, 2006

Ketika Kreativitas Menjadi Bid'ah


Kreativitas biasa dihubungkan dengan Inovasi, terutama identik dengan bidang seni dan sastra atau bidang IPTEK. Orang yang kreatif ialah orang yang mempunyai kemampuan mencipta/berkreasi atas sesuatu. Namun dalam berkreasi biasanya diikuti dengan proses coba-coba/ iseng/ trial and error, suatu proses yang manusiawi. Manusiawi juga, bahwa inspirasi ide-ide cemerlang itu didapat dari hal-hal yang sudah ada, yakni terutama dasar pengetahuan. Karena ''The Great Creator is God'' - sesuatu yang ada menjadi ada oleh kekuasaanNya.

Kreativitas tak hanya sebatas pemikiran, yakni sebatas ide dengan terobosan baru atau mutakhir, namun juga mampu menelurkan produk jadinya, dalam artian idenya teruji bisa diwujudkan. Jika hanya sebatas ide, maka kreativitas ini hanya bualan semata.

Dengan proses berpikir yang kreatif tidak mungkin kiranya ditemukan produk-produk semacam mobil, komputer, mesin jahit, dan lain-lain yang memberikan peran bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Maka tidak dipungkiri hasil-hasil kreativitas telah menembus dan mengubah kemapanan yang ada di dunia. Makin berjalan waktu, makin tinggi peradaban dunia, makin mampu manusia memenuhi kebutuhannya dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan dari hasil pemikiran yang kreatif.

Namun dengan makin mudahnya pekerjaan seorang manusia, banyak para ahli menyimpulkan bahwa suatu saat nanti beberapa fungsi-fungsi organ tubuh akan tidak berguna lagi. Sebagai contoh: Semakin mudahnya alat transportasi, semakin malas manusia untuk berjalan, sehingga fungsi kaki tidak diperlukan lagi. Semakin mudahnya alat komunikasi, semakin malas manusia untuk menulis, sehingga fungsi tangan tidak diperlukan lagi. Dan adapun kekhawatiran lainnya jika semua pekerjaan manusia diganti dengan tenaga robot secara penuh. Bisa jadi nantinya organ yang masih berfungsi hanyalah berupa mata, telinga, hidung, dan mulut. Bisa anda bayangkan bagaimana bentuk manusia nantinya hanya berupa badan dan kepala, tanpa tangan dan kaki.

Disini terlihat bahwa kreativitas perlu ada batasnya. Hasil-hasil darinya sebaiknya hanyalah memberikan kemudahan yang cukup-cukup saja, tidak berlebihan. Jika berlebihan atau istilah kasarnya ''kebablasan'', maka akan mendatangkan kerugian sendiri bagi manusia. Kreativitas inilah yang sering kita katakan sebagai ''Bid'ah''.

Semakin banyak dituntutnya manusia untuk berkemampuan kreatif jaman sekarang ini, semakin mempengaruhi pola pikir dan gaya hidupnya untuk selalu terlihat kreatif disetiap saat dan di segala keadaan. Namun sayangnya kebanyakan hanya bualan yang kebablasan, terutama pada saat manusia dihadapi dengan hal-hal yang bersifat keagamaan. Saking merasa dipersulit, maka dengan meraba-raba dan merasa-rasa ''seenaknya'' tanpa dasar pengetahuan sebagai inspirasi, muncullah solusi kreatif untuk mempermudahnya. Padahal dasar pengetahuan agama sudah diletakkan sedemikian rupa, tapi tak pernah disentuh. Maka solusi yang diputuskan sifatnya terlalu meloncat jauh atau melenceng jauh dari jalan menuju tujuannya.

Banyak dari pelajar-pelajar Indonesia di Jerman ini, yang saya amati, mereka banyak melakukan bid'ah karena pengetahuan agama mereka yang minim sekali. Ada yang terlalu gampang menghalalkan alkohol untuk mengusir dingin -tapi kok sampai teler-, padahal kebanyakan teman-teman yang lain tanpa alkohol pun mereka bisa tahan terhadap temperatur minus. Ada yang menghalalkan babi karena lebih miring harganya dibanding daging ayam dan sapi yang halal di Toko Muslim. Ada yang tidak mau dipusingkan dengan daftar E-Code, mana yang halal dan mana yang haram, padahal masih banyak alternatif makanan halal yang lain. Ada yang puasa di bulan Ramadhan tapi makan enggak tapi minum iya dengan alasan lagi sakit, padahal dia bisa mengganti puasanya kapanpun itu sebelum masuk puasa Ramadhan tahun depan. Dan ada yang lebih aneh lagi, dimana dia tidak sholat karena student-student muslim yang berketurunan arab tidak pernah sholat. Dan ada yang lebih gawat lagi, dimana dia tidak akan pernah naik haji karena sebagai aksi protes terhadap pemerintah Saudi atas perlakuan tidak adil mereka terhadap TKW asal Indonesia. Dan ada yang lebih ''ancur'' lagi, dimana dia berlagak jadi konsultan rohani dengan memutuskan fatwa-fatwa ''ngaco'' kepada orang yang bertanya, hanya karena menutupi ketidaktahuan dirinya tentang permasalahan itu. Padahal tidak susah untuk mengakui dan mengatakan tidak tahu. Sifat malas manusialah yang menyebabkan dengan gampangnya memudah-mudahkan sesuatu secara kreatif tanpa dasar.

Itu sedikit gambaran-gambaran yang terjadi disekitar saya, dan mungkin terjadi juga di masyarakat kita terutama umat Islam di Indonesia, bahkan lebih ''gila'' lagi. Tidak heran hal-hal kecil semacam itu tadi menjadi cikal bakal maraknya pemikiran-pemikiran ''bebas'' namun ''bablas'' dengan terobosan baru dan revolusioner di Indonesia. Berbicara bak layaknya Filosof, mencoba berfilsafat dengan manisnya lidah namum hanyalah ''Tong Kosong Nyaring Bunyinya'' - kata Grup Band SLANK . Namun anehnya banyak masyarakat mendukungnya daripada mendukung kompetensi MUI.

Sebagai seorang muslim, apa seh yang sebenarnya kita tahu dari agama kita sendiri ? Seberapa banyak pengetahuan kita tentang Islam terutama hal-hal yg disyariatkan? Kenapa lantaran tidak tahu, lantas kita jadi kreatif (bid'ah) ?

Pantas saja banyak ustad menganggur, karena tidak ada yang mau diajari lagi, wong yang akan diajari sudah merasa bisa.

- pelajarilah yang dasar dulu, baru ke tahap lanjutan, bukan langsung meloncat -

Sunday, January 15, 2006

Gaul dengan Bahasa Aktivis Dakwah


Baru saja saya membaca tema diskusi dari sebuah forum di Webportal yang bernama MyQuran yang membahas tentang Bahasa yang sering dipakai oleh Aktivis Dakwah baik di Pesantren, Rohis, LDK, dan bahkan di Pengajian-pengajian, sebagai contoh: ana, antum, akhi, ukhti, afwan, syukron dan seterusnya. Saya menemukan sesuatu hal yang menarik dari diskusi tersebut. Beragam jawabanpun terlontar, ada yang pro, ada yang kontra dan ada yang netral. Atas keinginan untuk menulis dan dorongan dari seorang ''Ikhwan'' :), maka mencobalah saya membahas tentang tema ini. Moga dari analisa ala kadarnya ini, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar tema ini terjawabkan, dengan cara mengambil poin-poin hasil diskusi tersebut dan dengan menyimpulkannya berikut opini saya sendiri dengan pengetahuan Bahasa Arab yang minim sekali dan dengan kemampuan logika yang disertai husnuzhon (berbaik sangka).

Banyak yang menganggap pemakaian bahasa tersebut sebagai hal yang ekslusif, tertutup untuk kalangan terbatas, atau kasarnya diskriminatif. Tidak adil rasanya jika kita menghakiminya seperti itu. Bukankah setiap bahasa juga begitu. Bahasa Jawa eksklusif terhadap Bahasa Batak. Apalagi dengan bahasa ''Gaul'', bahasa gaul di Jakarta eksklusif dengan bahasa gaul di Makassar. Kalau ingin dibilang toleransi, sudah sepatutnya kita yang berbeda latar belakang, berbahasalah dengan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar menurt EYD yang disepakati, namun nyatanya tidak seperti itu khan ? nyatanya harus ada yang mengalah. Jadi poin ini tak perlu dibahas panjang lagi karena kesimpulannya hanyalah disebabkan masalah situasi dan kondisi saja.

Bahasa gaul aktivis dakwah ini memakai banyak istilah yang digunakan dalam Bahasa Arab. Namun bedanya adalah penggunaan istilah yang tidak seperti Bahasa Arab yang umum dipakai. Salah satunya penggunaan kata ''antum'' yang berarti ''kamu''. Yang sebenarnya dalam bahasa Arab ''kamu'' dalam bentuk tunggalnya adalah ''anta'', namun yang dipakai adalah bentuk jamaknya yaitu ''antum''. Dan juga sebenarnya kata ''anta'' sudah diserap ke Bahasa Indonesia dengan ''anda'' atau dalam bahasa pergaulan Betawi ''ente''. Mari kita analisa istilah ini dari Bahasa Arab:
kamu laki-laki= anta (s) - antum (p)
kamu perempuan=anti (s) - antunna (p)
Sama halnya dengan istilah ''ikhwan'', ''ikhwah'', dan ''akhwat'' yang sebenarnya adalah bentuk jamak dalam bahasa arab.
saudara laki-laki= akhun (s) - ikhwah (p) dan ikhwan (p)
saudara perempuan= ukhtun (s) - akhawat (p)
contoh perbandingan pemakaian singular: Itu loh ikhwah kita yang di Solo, yang seharusnya :Itu loh akhuna yang di Solo
Apakah disini ada kesalahan persepsi? Belum Tentu.
Kemungkinan pertama: Bisa jadi pemakaian bahasa ini sudah ada sejak dahulu kala, ketika banyak pesantren di tanah air marak. Dimana para santri yang merupakan para aktivis dakwah memakainya dalam melatih Bahasa Arab atau dalam pergaulan sehari-sehari dengan sesama santri. Pemakain ini berlangsung hingga kini dan hingga ke majelis-majelis lainnya. Jika iya, maka mungkin saja ada terjadi suatu penyerapan bahasa Arab ke Bahasa Indonesia, yang memang dimana beberapa kata yang bentuknya jamak diserap daripada bentuk tunggalnya. Tapi penyerapan ini hanya berakhir dikalangan aktivis dakwah hingga kini, tanpa dimasukkan dalam pembendaharaan kata Bahasa Indonesia. Mengapa? Hal ini saya juga tidak tahu. Kemungkinan kedua: kata''antum'' diambil dalam Al Qur'an, dimana Allah sering memanggil hambaNya ''kamu'' dengan sebutan kata tersebut. Memang tidak jarang didalamnya terdapat kata pengganti milik yang dijamakkan, sebagai contoh yang lain adalah ''Aku'' -''Kami''. Kata ''antum'' sendiri dalam kesehariaan beberapa negara arab digunakan juga ternyata sebagai ''penghormatan'' kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu, dan lebih disayangi (bahasa halus).

Lalu ada pemakaian kata yang tak lazim digunakan dalam bahasa Arab, yakni kata ''afwan''. Dimana kata ini sering dipakai oleh para aktivis untuk menyatakan ''maaf''. Padahal sebenarnya kata itu dipakai untuk menjawab ucapan terima kasih, yakni ''syukron'' (terima kasih) maka dijawab dengan ''afwan'' (sama-sama/tidak mengapa). Justru untuk meminta maaf dalam bahasa Arab biasanya dengan menggunakan ''al afwu minkum'' atau ''ana asif / inni asif''. Menurut sumber portal My Quran, kata ''afwan'' terdapat dalam Qur'an dengan pengertian permohonan maaf. Salah satu contoh yang tertera pada QS Al A'raf 199.
Secara literal artinya adalah `mengambil kelebihan`, namun secara konteks ayat artinya `meminta maaf`.

Kecuali beberapa perbedaan diatas, secara umum istilah-istilah yang lain lebih sama dengan bahasa Arab. Dari semua itu saya akan coba simpulkan motivasi apa saja sehingga para aktivis memakai bahasa ''gaul'' ini:
1. Motivasi untuk belajar bahasa Arab untuk kepentingan pribadi maupun umat islam
2. Motivasi menjalin tali kasih sayang dan persaudaraan
3. Motivasi menciptakan lingkungan dan suasana ''menjaga iman'' dan suasana yang lebih akrab dan bersahabat.
Motivasi yang dihindari adalah Riya', yakni sifat sombong karena merasa lebih atau merasa telah menjadi muslim sejati.

Mengenai adanya anggapan pengklasifikasian, mana yang ikhwan/akhwat dan mana yang tidak. Sebenarnya tidak ada satupun manusia yang pantas dan mampu menilai tingkat keimanan ataupun akhlaq seseorang, apalagi tidak ada dalil yang menguatkan untuk memberikan gelar/ predikat/panggilan seperti itu. Bukankah setiap muslim adalah bersaudara. Apalagi dalam proses Tarbiyah, yang lebih diutamakan adalah pemahaman, bukan secara fisik. Maka panggilan ini memang hanya digunakan sebagai bahasa gaul, bukan sebagai ’’identitas’’.

Oleh karena itu pemakaian bahasa ''gaul'' ini tiada salahnya. Apalagi bermanfaat terutama untuk mengenal dan belajar bahasa Arab untuk khusyuk sholat, memahami bacaan Qur'an, dan untuk syiar secara universal. Hal ini adalah wajar dan dimaklumi, jika dilatih dalam keseharian malah menjadi suatu kebiasaan. Kami yang berada di Jerman sebagai student, dalam berbahasa Indonesia malah tersempil istilah-istilah yang nge''Deutsch''. Padahal awalnya karena harus belajar bahasa Jerman, malah menjadi suatu hal yang biasa.

Untuk memperlancar proses komunikasi antara yang tidak memakai dan yang memakai bahasa gaul tersebut, maka diperlukan saling memaklumi dan prasangka yang baik. Inilah tujuan dari penulisan ini. Yang memakai jangan me’’ritual’’kan bahasa ini namun harus melihat sikon, apalagi dalam syiar dianjurkan untuk menggunakan bahasa yang mudah dimengerti yakni terutama bahasa komunitas setempat. Yang tidak memakaipun jika tidak mengerti dianjurkan untuk memakluminya dan bertanya apa yang tidak dimengerti.

Bahasa ''gaul'' ini sayangnya pernah disalah gunakan oleh oknum-oknum tak dikenal dan bukan dari kalangan dalam. Tujuan mereka hanyalah ingin merusak nama baik sebuah organisasi dengan menyamar dan berlagak seperti salah satu dari kelompok organisasi tersebut dengan menggunakan bahasa ''gaul'' aktivis dakwah. Aneh memang, didepan publik memakai bahasa tersebut dan apalagi terlihat kekakuan dalam menggunakannya.

Saya sendiri baru memulai menggunakan bahasa ''gaul'' ini terhadap orang-orang yang ''akrab secara ruhiyah''. Selebihnya saya berbahasa ''gaul jakarta'' dengan orang yang lebih muda dan sebaya, yang mereka memang memakai bahasa tersebut. Untuk yang lebih tua dan umum, saya memakai Bahasa Indonesia, seperti yang saya lakukan dalam menulis Blog ini. Ini merupakan kebiasaan buat saya, karena saya sendiri pernah ''Nomaden'' berulang kali, ikut perpindahan dinas Ayah saya. Maka perbendaharaan kata saya cukup banyak. Tidak heran, jika saya berbicara dengan orang lain, kadang-kadang terbawa logat latar belakang lawan bicara saya layaknya seperti ''Bunglon''. Bukan muna' loh yah.... :D

Wallahu a'lam bishowab

(maaf tulisan ini diedit lagi, karena ada beberapa tulisan terhapus, dan harus ditulis ulang kembali jadinya :(, makanya ada banyak perbedaan penggunaan kata-kata... moga-moga tidak merusak maksud penulisan ini)

- mengamalkan sesuatu haruslah dengan pemahaman dan plus baik sangka, jangan hanya sekedar asal ikut-ikutan -

Friday, January 13, 2006

'aku tidak tahu, dan aku tidak mengerti..'


oleh: Muhammad Gauzal (Penulis Tamu Blog Ini)

Al Maliki, salah satu dari tokoh empat mazhab selain Assyafei, Alhanbali, dan Abu Hanifah, terkenal dengan ucapan-ucapannya yang menunjukkan ketidakmengertian dia ketika dihadapkan oleh suatu pertanyaan.

Saya menemukan ini ketika membaca buku Alghazali yang terjemahannya berjudul 'Buat Pecinta Ilmu'. Alghazali, salah satu mentor favorit saya, berargumentasi bahwa salah satu dari beberapa ciri orang yang berilmu, atau ulama, haruslah sadar akan keterbatasannya dan jujur akan ketidaktahuannya.

Bagi Alghazali terdapat beberapa tingkatan ilmu wajib. Yang pertama dan paling utama adalah ilmu tentang ketuhanan, kerasulan, hakikat dunia dan akhirat atau baik dan buruk (fardhu ain), kemudian ilmu fardhu kifayah yang terdiri atas ilmu agama atau hukum2 syariah, dan di dalamnya juga termasuk ilmu2 yang bertujuan untuk kemaslahatan umat seperti kedokteran dll (dan ilmu2 yang kita pelajari sewaktu sekolah mungkin), dan juga kemudian ilmu bahasa/tata wicara/sastra dan ilmu2 penunjang lainnya.

Dilihat dari urutan-urutannya, Alghazali berharap manusia harus berusaha mencari dan meyakini ilmu mulai dari yang terpenting yaitu yang sifatnya fardhu ain, baru kemudian berlanjut ke macam-macam ilmu setelahnya. Apabila seseorang berniat mendalami ilmu dalam tingkatan lebih akhir tanpa terlebih dahulu mendalami ilmu yang lebih utama derajatnya, sudah dapat dipastikan bahwa orang itu akan tersesat, sehingga ilmu yang dimilikinya tidak akan dapat diterapkan dengan sebenar-benarnya melainkan dengan niat atau tujuan lain seperti pangkat, harta, kedudukan dan yang berhubungan dengan pemuasan hawa nafsu belaka... Orang-orang seperti ini, ia mengancam akan merugi. Wah..!

Mungkin alGhazali bermaksud untuk menunjukkan ketidaksukaannya melihat orang yang pintar bicara, yang sanggup menjawab apa saja pertanyaan yang diajukan kepada orang tersebut. Orang-orang yang pintar bicara memiliki kemampuan dalam bahasa namun bisa saja tidak dilengkapi dasar segala ilmu yaitu ilmu yang tercakup dalam fardhu ain dan yang sesudahnya. Kemampuan berbahasa inilah yang agaknya membuatnya sanggup meyakinkan seseorang akan suatu hal yang terlihat ia cakap di dalamnya. Sehingga ia selalu tahu! Namun bisa saja ia berbohong, tidak jujur, memanipulasi fakta, yang sungguh tidak akan dilakukannya apabila ia memiliki pondasi ilmu fardhu ain yang berhubungan dengan hakikat dunia dan nilai-nilai moral.

Namun bayangkan betapa hebatnya ketika seseorang berbicara memang benar-benar karena pengetahuannya yang luas akan segala hal, dan memang didasarkan oleh keinginannya untuk mengamalkan ilmunya demi kebaikan manusia, dan seluruh alam semesta. Singkatnya sebagai wujud ibadah kepada Allah Sang Maha Besar.

Sejauh pemahaman saya dari bacaan ini, saya membayangkan Alghazali berteriak pada saya: 'Wahai anakku, janganlah malu untuk berkata 'aku tidak tahu!' Namun jangan pula berleha-leha saja akan ketidaktahuanmu. Berbuatlah sesuatu.. cari tahulah!' Sungguh, saya jadi tersentak dan terpicu.. terima kasih.

Sunday, January 08, 2006

Selagi Muda Hepi-hepi Dunks... !!!

-kisah ringan dari obrolan biasa-


`` Fer... kenapa seh lo gak pernah dugem sama kita-kita... sekali-kali lo gaul lah !... masak maen ke mesjid mulu... pengajian mulu... gak stress apa... apalagi lo gak takut berubah jadi radikal ato apalah ... dengerin doktrin-doktrin gak jelas tiap ceramah... nanti lo kayak kebanyakan orang-orang itu... sok keras tapi gak sopan plus muna’ ama orang-orang kayak gw.... sok suci!!!`` kata Adri menceramahi Feri.

`` Yeee elo tu yee... jangan liatnya gitu aja dunks... liat ajarannya ! ajaran tentang kebenaran kok dibilang doktrin seh..… lagian orang mah dah pasti ada yang baik ada juga gak baik… itu mah lumrah dimana-mana juga… Kalo lo bilang ada orang islam yang gak baik… ya memang ada… sholat mereka mungkin belon bisa mencegah dan menjaga mereka dari perbuatan yang salah… yang mungkin mereka masih dikuasai nafsu mereka sendiri... tapi ada juga loh orang baik trus ngaku muslim tapi gak pernah sholat… wah itu lebih gawat lagi…`` kata Feri.

``Wah elo nyindir gw neh ?`` jawab Adri sewot.

``Elo tuh orang yang mo didoktrin ama dunia... biar dikate trendy tuh... hihihihih.... makanya nyadar dunks men`` lanjut Feri sambil cengengesan.

``Ah.. Gw seh nanti aja deh pas gw dah tua ngurusin-ngurusin yang begituan... baru gw rajin... sekarang seh hepi-hepi aja dulu... mumpung muda lah.... jangan muna’ deh lo ! lagian banyak kok yang mikir kayak gitu`` kata Adri santai.

`` Lah... gw dibilang muna’ ... definisi munafik jangan dibolak-balik dong ... yang muna’ noh orang islam KTP doang... hehehehe... `` jawab Feri membela diri.

`` Ape kata lo dah... pokoknya gw mo gaul ama semua orang… make a lots of friends…. Teman-temen gw baek-baek semua kok… mo nemenin gw… mo dengerin curhat gw… kalo gw ada kesusahan gw dibantu…`` kata Adri sambil 'monyong' bibirnya dan naik dagunya.

``Sama ajalah dengan gaul gw dimesjid... 'Clubbing' gw di tiap pengajian... gw dapet juga apa yang lo dapet dari pergaulan elo… tapi bedanya plus ilmu plus pahala plus manfaat dan gw hepi-hepi juga tuh. Gw gak mau harus nunggu tua dulu… apalagi belon tentu gw dikasih umur lebih oleh Allah… jangan-jangan besok bisa aja nyawa gw dicabut…. Daripada nyesel kemudian mendingan sekarang… apalagi tujuannya untuk Kebahagiaan Abadi di Akhirat… kebahagiaan dunia mah cuman sebentar Dri…Selagi muda hepi-hepi dong... tapi hepi yang gimana ? `` kata Feri.

``Iya seh…. `` kata Adri sambil menunduk lalu memutar-mutar kaki kanannya berbentuk lingkaran kecil.

``Tapi Dri... masak seh lo mo nunggu ampe tua dulu... dosa ditabung ampe berat banyak gitu... apa lo gak khawatir ? pertama, apa nanti pas tua lo bakal berubah.... jangan-jangan lo keenakan bikin dosa... kedua, kalo pun lo sadar dan minta ampun... berapa persen dosa lo sebelumnya yang bisa diampuni... belon tentu semuanya loh.... ketiga, belon tentu juga Allah memberikan ampunan... kalo gak diberi sama sekali ... gimana tuh ?`` kata Feri serius.

Terdiam Adri lama tak bergeming. Pandangannya jauh ke depan. Dalam hatinya seperti ada pertikaian.

``Kok gw bisa punya temen kayak elo yah men ?`` kata Adri sambil tersenyum dan melayangkan pukulan ke arah pundak Feri.

``Gw juga heran... gw kira elo udah gak mo berteman lagi ama gw malah Dri... hehehe``celetuk si Feri.

Saturday, December 31, 2005

Ketika Sapa Tak Berbalas

Senangnya diri, tak sekedar menyapa orang pada tiap pertemuan, namun juga menanyakan kabar terkini darinya hinggapun pernah bertamu ke rumahnya. Mataku menatap serius sambil bibirku tersimpul senyum mendengarkan tutur kisah bersemangat yang menyenangkan hati dari mulutnya. Alhamdulillah... moga engkau selalu diberi kebaikan oleh Allah di tiap langkahmu, wahai kawanku.

Lalu jenuh menjumpaiku di tiap-tiap pertemuan terakhir. Entah mengapa diri ini lelah dan berat dari kebiasaan itu. Setelah kutersadar dari tiap ketulusanku, semenjak seorang kawan menyapaku dan bertamu ke rumahku . Bahagia sekali rasanya dari kehadirannya yang memang sudah lama tak ada sosok lain selain diriku di rumah ini. Sudah lama rasanya telinga ini pekak tak kenal pertanyaan-pertanyaan darinya yang menyenangkan hati. Sungguh sudah lama kurasa hingga kesedihan memecah kalbuku. Sungguh sudah lama sapaku tak berbalas. Manjapun memagut erat-erat hingga menghasutku. Adakah yang menanyakan kabarku ? Seberapa sering ?

Lalu akupun datang mengadu kepadaNya. Namun tak lama sesudahnya menerawang pikiranku tentangNya. Sudah jarang kiranya aku tak rajin menyapaNya di tiap shalatku, yang terlihat pada tiap shalat-shalat sunnahku yang makin berkurang jumlahnya dan ketidak khusuknya shalat fardhuku. Sudah jarang mataku menatap serius dengan senyum simpul dibibirku mendengarkanNya di tiap bacaanku. Sudah lama kiranya ibadah-ibadahku lainnya makin lambat laun akhir-akhir ini memudar. Sudah tak sesering biasanya aku tak bertamu ke rumah-rumahNya dan ke tiap majelis-majelis yang dirahmatiNya. Alpaku ternyata mendatangkan alpaNya. SapaNya yang suka Ia berikan di tiap nikmat, sudah lama tak pernah kubalas. Dia jualah yang selalu mendengarkan kabarku di tiap-tiap doa yang kupanjatkan. Betapa hinanya aku hingga terlalu berharap sapaan orang lain. Astaghfirullaahal 'azhiim. Adakah aku menanyakan kabarNya ? Seberapa sering ?

- satu langkahku, seribu langkahMu -

Thursday, December 22, 2005

Malu Bertanya Sesat Di Jalan... Banyak Bertanya Menyesatkan Pula...

-Janganlah berkekurangan dalam beragama, apalagi berlebihan-

Dalam mencari ilmu, cara kita mencari tahu salah satunya adalah bertanya pada ahlinya. Seorang anak kepada orang tuanya, seorang murid kepada gurunya, seorang petani kepada insinyur pertanian dan lain-lain. Bertanya seperti ini dikarenakan tingkatan pengetahuan yang dikuasai. Yang belum tahu bertanya kepada yang sudah tahu. Namun kadangkala berbeda antara orang yang ingin belajar untuk tahu dengan orang yang hanya sekedar ingin tahu saja. Orang yang ingin belajar cenderung mengikuti saja ''kurikulum'' yang disajikan dalam proses pengajaran tanpa banyak bertanya, karena wajar mereka belum tahu ''bahan materinya'' - yang hal ini tentu tak pantas dianggap sebagai ''doktrin'' yang sering dituding ''orang-orang miring''. Mereka justru bertanya hanya sekedar meminta untuk diulangi tentang hal yang sedang dipelajari karena kurang menangkap pelajaran. FYI, orang yang belajar tanpa banyak tanya ini justru tingkat kepemahaman mereka lebih baik dan menyeluruh daripada orang yang bertanya hanya sekedar tahu dengan kepahamannya yang sepotong-sepotong saja. Lucunya orang yang baru tahu sedikit sudah belagak ahli tafsir !!!... oooppsss!!! kok jadi melenceng yah tulisan ini... maaf :D

Kembali ke topik tentang bertanya. Tentu saja kita tidak bisa sembarangan bertanya. Apalagi bertanya kepada seseorang yang bukan tempatnya untuk bertanya atas pertanyaan kita. Nabi pernah ditanya tentang seekor unta yang hilang oleh pemiliknya. Lalu pernah beliau ditanya tentang nama ayah dari seseorang. Wajar saja muka sang nabi jadi memerah setelah ditanya seperti itu. Memangnya nabi itu seorang cenayang atau ''Information Center'' atau sebuah ''Bank Data'' ? Padahal kita tahu nabi adalah tempat sebaik-baiknya bertanya, tapi bukan berarti beliau tempat bertanya segala macam pertanyaan, semacam cara bercocok tanam kurma dengan stek dan kasus-kasus lainnya. Untuk masalah yang berhubungan dengan keislaman, nabilah tempat yang paling afdhol dan paling tepat untuk bertanya.

Namun bertanya bisa menjadi sebuah penyakit. Pernah seorang sahabat nabi (saya lupa namanya) pernah ditanya seseorang muslim tentang hal-hal yang berhubungan dengan agama. Sekali ditanya lalu beliau menjawab... ditanya lagi oleh orang itu lalu beliau pun menjawab... dan seterusnya hingga tak tertahankan lagi... sang sahabat nabi ini lalu mengambil pasir dan dilemparkannya ke penanya itu seperti melempar kerikil ke setan. Kenapa seperti ini? Kasus ini menunjukkan bahwa janganlah bertanya tentang keagamaan yang sudah jelas duduk perkaranya. Karena ini akan mengundang perdebatan panjang. Yang tentu saja hal ini menyebabkan kesusahan diri sendiri apalagi kesusahan bagi si tempat bertanya. Karena sebuah pertanyaan temannya adalah sebuah keraguan. Makin banyak bertanya, makin membuat ragu keduanya dan makin menyesatkan keduanya.

Banyak bertanya malah lebih meyesatkan. Tidak tanggung-tanggung, tak hanya si penanya dan si penjawab saja yang jatuh, malah orang-orang disekitarnya dan publik seluruhnya ikutan jatuh juga. Inilah penyakit-penyakit yang sudah lama muncul dipermukaan apalagi akhir-akhir ini sejak jaman ''reformasi'' berkibar. Terpantiklah lontaran api pertanyaan-pertanyaan terhadap hal-hal yang sudah jelas adanya, hanya untuk mengundang perdebatan kusir yang penuh dengan retorika saja, supaya bisa disebut '' intelek'' di depan publik dengan pemikiran-pemikiran yang sok ''mutakhir''.

QS.5:101
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan kepada nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Alquran itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan(kamu) tentang hal-hal itu. Allah maha pengampun lagi maha penyantun"

Wednesday, December 21, 2005

Ninggalin sholat berarti ''Kafir'' poy ???

''Emang bener??... kalo ninggalin sholat fardhu... berarti kita kafir poy???'' tanya temanku.
''Iyah... em em... ninggalinnya itu sama saja dengan kita tidak ta'at dan juga tidak mengakui Allah... ninggalinnya secara sengaja dan sadar tapi... kalo gak sengaja... misal karena ''uzhur'' - yaitu pingsan ato koma, tidur, dan kata beberapa ulama juga sepakat kalo lupa juga karena konsentrasi terhadap sesuatu pekerjaan- maka kita bisa menggantinya ato mengqadha'... lain lagi halnya kalo kita dalam perjalanan minimal 81 km kita boleh menjama'nya... tapi ingat itu kita pada saat ''bergerak'' terus... kalo sudah ''berdiam'' dalam kurun waktu yang lama, maka sholat gak bisa dijama' lagi..... jadi kayak kita sekarang ini di luar negeri... karena sudah lama berdiam di kota ini... gak ada lagi alasan untuk menjama' sholat... trus lo juga kudu hati-hati... orang-orang suka ketuker mana saatnya bisa diqadha' dan mana saat bisa dijama'... '' jawabku.
'' Hoooooo... walaaaah !!'' temanku kaget.
''Trus kalo yg sholat gw yg bolong-bolong itu gimana dong? bisa diganti gak yah? '' tanyanya lagi.
''Gak lah... berarti lo kafir hihihihih'' jawabku.
''Ah jangan gitu dong lo.... '' semakin takut dia.
''Kalo lo dah ninggalin kayak gitu... ampe bolong-bolong segala... mending banyak-banyak tobat deh... minta ampun tiap doa lo terutama setelah sholat.... trus perbanyak sholat-sholat sunnah.. dan banyak-banyak sedekah. '' jawabku lagi menenangkan pikiran temanku ini.
''Gitu yahhh...'' pikirannya menerawang ke masa lalu.
''Ya udah... rajin-rajin ikut pengajian... insya Allah dapet ilmu dan manfaat... trus FYI... kalo lo mo tau lebih lengkap tentang yang tadi... lo tanya ahlinya aja... tanya ustad... maklum gw bukan ahli Fiqh... jadi gw cuman jawab apa yg gw tahu aja... bisa jadi ada yang kurang dan bisa juga ada yang lebih... '' kataku.
''Iya gapapa... thanx udah lo jawab pertanyaan gw'' jawabnya tersenyum.
''Ninggalin puasa ramadhan dengan sengaja... berarti kafir juga loh.... !!!'' kataku sambil tersenyum.
''Huuuuuaaaaaaaaaaaaa.... belon sholat gw trus puasa gw juga... nebusnya gimana neh ???'' makin ''parno'' temanku ini.

Monday, December 19, 2005

Takut Salah Tulis atau Tulis Salah ?

Hari ini aku membaca komentar di blog tetangga, yang berisi: orang takut memulai menulis karena takut tulisannya dianggap jelek. Aku tergelitik membacanya. Memang benar komentar teman saya ini. Tapi saya jadi berpikir, ''bagaimana dengan seorang yang sudah mulai menulis, apa yang dia takutkan ? ''. Mana yang lebih ditakutkan seorang penulis: Salah Tulis ataukah Tulis Salah ?
Tak semua penulis punya pengetahuan mengenai standard penulisan. Jadi kadang susunan tulisannya tidak teratur. Apakah salah ? Menurutku tidak, karena kalau kita mencoba untuk membaca dengan seksama, mencoba mengerti penuturan tulisannya dengan kerendahan hati, kita pasti tahu apa sebenarnya isi tulisan yang ingin disampaikan oleh penulis tersebut. Kadangkala kita harus beradaptasi dengan model tulisannya, hingga kita mengerti inti tulisannya.
Lain halnya pada seorang penulis yang mencoba kreativ, bebas berekspresi, mencoba kontroversial, yang jauh melenceng dari norma kehidupan masyarakat. Tulisannya membuat gerah pembacanya dan kadang meyesatkan. Dan iapun tidak ambil pusing bagaimana tanggapan pembacanya, karena ia tidak merasa bertanggungjawab dampak dari tulisannya itu.
Mana yang lebih baik: Salah Tulis atau Tulis Salah ? Aku seh cenderung tidak ingin menulis yang ''salah'' daripada cara penulisanku yang ''salah''. Bagaimana menurut kamu ?

Saturday, December 17, 2005

''Dia'' masuk surga gak seh poy ?

Duh... pertanyaan ini berulang terus dimanapun sedang bertemu dengan teman-temanku. Agak males juga menjawabnya. Agak sensitif untuk dibicarakan.
Tapi cerita dibawah ini adalah fiktif yang diambil dari kisah nyataku dengan tambalan-tambalan. Cerita ini hanya mengingatkan kita bersama, termasuk saya juga. Moga bermanfaat.

'' Poy.. poy.. temen gw baik banget deh... tapi dia ''non''...... orang ''non'' itu masuk surga gak seh poy ?'' tanya temanku.
'' Enggak'' jawabku tegas.
''Kalo dia orang baik... kenapa enggak ?'' tanyanya lagi.
''Enggak jaminan'' jawabku lagi sambil menahan kata ''K'' untuk sebutan mereka.
''Khan akhlaqnya baik poy... khan sama aja ama kita'' semakin tinggi suaranya.
''Gw lebih suka istilah ''moral'' daripada ''akhlaq''... kalo moral emang kesepakatan manusia... kalo akhlaq dasarnya aqidah.... aqidah aja udah beda... apalagi akhlaqnya... walau moral kita ada yang sama baiknya'' jawabku hati-hati.
Terdiam temanku makin muram dan bingung.
''Terus gimana dong.... khan kasian... '' katanya sedih.
''Emang seh... sayang banget orang-orang baik tapi gak masuk surga... makanya sudah selayaknya elo ngajak dia ke dalam islam...'' jawabku menggurui.
Terdiam dia lama karena kaget dengan jawabanku itu yang tak terpikirkan sebelumnya.
'' Iya yah... tapi apalah gw... muslim yang jarang sholat gini dan gak begitu kenal agama gw sendiri... ngenalin dia agama gw ke mereka... khan aneh... gw muna' dong... karena nyatanya gw juga bukan muslim yang baik'' jawabnya murung.
Kali ini aku yang terdiam. Dalam hatiku berkata dengan sangat malu ''Gw aja kok gak ada kemauan ''menjaga'' agama islam temen gw ini yah ??? padahal dia khan temen dekat gw... sudah selayaknya gw mengajak temen gw supaya rajin sholat dan kenal dengan agama kami''.
''Ok deh... bentar lagi sholat ashar... mo bareng ke mesjid ?'' sambilku tersenyum.
''Sholat yah.... nggggg....'' menunduk dia.
''Yeeeeeeeee.... gimana seh.... ninggalin sholat dengan sengaja dikenakan eksekusi sebagai kafir loh....'' kataku.
''masak.... walah'' jawabnya kaget.

- Dakwah dimulai dengan kerabat terdekat, panggil mereka kembali kepada Islam.
- Berislam dengan Akhlaq dan Amal Ibadah menuju Rahmat Allah.... itulah yang utama.

Wednesday, December 14, 2005

Virus Gosip...Gosip...Gosip...!!!

(Koleksi Puisi 2004)

Kebencian darimanakah datangnya
Tersebar hiperbolik turut nafsu menyerta

Tertanam dipendam dalam dendam
Terambat cepat melekat pekat berkarat

Dari ujung hingga pangkal corong terus berderetan
Dibelakang terhunus tajam pekikan perihnya suara

Gaduh... mengaduh... riuh.... keluh....
Kejepit.... terhimpit.... sempit..... sakit....

Aaaaaaaahhhhhkkk... isak... sesak.... pekak.... bengkak...

Huhuuuuhuuuuuuu.... pilu... sendu... biru.... bisu.....

Sadarkah wahai tiap-tiap ucapan yang tak berguna
Kejamnya kau ancam tiap langkah damainya perasaan

Di manakah ucapan kebaikan penuh visi
Di manakah perlakuan penuh yustisi

Kasih sayang tertinggal dibelakang hanya ilusi
Apakah harapan ini tinggal teori tanpa realiti

Bangunlah Khalifah

(Koleksi Puisi 2004)

Dimana khalifah itu yang hilang
Penantian terukir di tiap lamunan
Lunturpun apa yang harus dilakukan
Lalai dan lupa di arus kala yang terbuang

Sadarlah dan hentikan pencarian itu
Khalifah bersemayam pada tiap-tiap insani
Engkaulah khalifah bermula bagi dirimu
Engkaulah berikutnya bagi lainnya lagi

Tiap amal dan santun lisan dan tingkah lakumu
Tiap kendali nafsu dan koreksi dirimu
Tiap jujur ikhlas teladan dan tahumu
Tiap ta’at takut dan syukurmu

Bangunlah kau tiap-tiap khalifah
Pimpin dan tegakkan Islam berawal bagimu
Bukan hanya alunan kembang tidurmu
Walau saat ini wujudnya tanpa batas tanah

Iri

(Koleksi Puisi 2004)

Alangkah buruknya hati karena iri
Iri akan harta, tahta, kecantikan, kemasyuran
Iri ini tanda tak pernah bersyukur
Iri ini tanda buruk sangka pada yang Maha

Alangkah baiknya diri karena iri
Iri akan ibadah, ilmu, akhlaq yang hasan
Iri ini tanda berakal dan berumur
Iri ini tanda cinta pada yang Maha

Tak selamanya iri ada baiknya
Tak selamanya iri ada buruknya
Hanya nafsu yang butakan
Hanya benci yang dustakan

Tebaran Senyum


(Koleksi Puisi 2004)

Adik kecil tersenyum ceria
Polos dan tulus nian
Sedang bahagiakah dia
Atau dia sedang bahagiakan

Dunia neraka bagi si pengiman
Terasing terkucil tak ada peduli
Senyum melukis wajah cinta Tuhan
Sepi sendiri hilang terganti temani

Senyum dariku senyum darimu
Curahan rasa cinta dan syukur ini
Hati ini terairi segar tenangi
Cengkraman yakin makin kokoh membatu

Sunday, December 04, 2005

Motivasi Seorang Muslim

Pasang surutnya diri dalam menjalani kehidupan adalah hal yang lumrah.

Namun sekarang bagaimana kita pada saat surut tidak terseret jatuh semakin dalam ? Bagaimana menjaganya ?

Jawabannya adalah: Niat dengan hati yang bersih. Niat yang tidak disertai hasrat / nafsu. Kita harus mampu membedakan mana itu hati mana itu hasrat. Karena keduanya dekat dan tipis untuk dibedakan.

Bagaimana supaya niat kita tetap bersih ?

Jawabannya adalah: Iman kepada Allah, yakin segala kehendakNya adalah baik untuk kita melalui tuntunan cahayaNya, dan selalu setia menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya

Bagaimanakah menjaga iman kita ?

Jawabannya adalah: Keikhlasan dan Keta'atan kepada Allah, bahwa hanya Allah tempat kita berlindung dan bersandar atas segala persoalan.

Bagaiman menjaga ikhlas dan ta'at itu ?

Jawabannya adalah: Kesabaran atas segala persoalan, baik itu 'duri' (cobaan) maupun 'tebu' (nikmat). Sadar bahwa keduanya adalah 'Teguran' Nya, dan keduanya adalah 'Kasih Sayang' Nya kepada hambaNya

Bagaimana menjaga Kesabaran kita ?

Jawabannya adalah: Prasangka baik (Husnuzhon) kepada Allah dan Berserah diri (Tawakal) kepada Allah.

Allah akan berkehendak baik pada kita, jika kita berprasangka baik kepada Allah dengan yakin sepenuhnya, bahwa segala sesuatupun nanti hasilnya adalah baik dari Allah.

"Ana ‘inda dzanni ‘abdi bii" : Aku bersama dengan persangkaan hamba-Ku (Hadits Qudsi)

Kita harus sadar, bahwa segala apapun usaha/ upaya yang baik dan bersih dari kita adalah yang dinilai oleh Allah. Keberhasilan akhir itu adalah kehendakNya, apakah kita pantas sukses ataukah gagal, karena Allah lah yang tahu betul kemampuan kita saat itu. Justru keduanya bisa jadi kebaikan buat kita. Ternyata apa yang menurut kita baik, belum tentu baik buat kita, karena Allah lah yang tahu yang baik buat kita.

''... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui'' (QS 2 : 216)

Maka janganlah berputus asa dalam kebaikan - dimanapun dan kapanpun - dengan berpegang teguh pada kebenaranNya. Itulah kelebihan motivasi seorang Muslim untuk bertahan dalam kehidupan dunia. Secara umum motivasi yang tahan banting dari seorang muslim adalah Allah, Allah adalah motivasi kita.

Mintalah selalu petunjuk melalui setiap ibadah-ibadah kita, supaya dibimbing ke jalan yang lurus, supaya hati kita dihindari dari pembolak balikan.

Wallahu a'lam bishowab

Thursday, December 01, 2005

Dunia Kerja Penyebab Terlantarnya Perhatian ke Anak

Kini di Indonesia banyak film yg menayangkan realitas lika-liku remaja indonesia khususnya di Jakarta. Kompleksnya masalah remaja kita diceritakan karena disebabkan kurang perhatiannya orang tua pada anak. Para remaja mengalami penyimpangan kepribadian dalam pencarian ''kasih sayang'' sebagai pelampiasan untuk melengkapi kebutuhannya yang kurang itu.

Hal ini membuat saya geram, karena tak 100 % orang tua yg menanggung kesalahan tersebut. Karena dunia kerjalah yang menyebabkan orang tua kita jarang di rumah dan menghabiskan waktunya di luar rumah untuk sebuah tender di luar kota atau atau disebuah diskotek dll. Dunia kerjalah yang membuat para orang tua menjadi materialis dan hedonis. Dunia kerjalah yang merusak akhlaq orang tua. Karena diperbudak dunia kerjalah generasi remaja menjadi korban. Yang tadinya orang tua harus mengurus anak-anak, malah harus mengurus kebutuhan sang ''anak besar'' (atasan mereka). Oleh karena itu, salahkanlah juga dan proteslah perusahaan-perusahaan dimana orang tua bekerja.

Kita harus sadari, bahwa sistem perusahaan yg ada menganut sistem ''Kapitalis'' yang bisa merenggut waktu para pekerjanya. Kita dituntut untuk bersaing dan berkarir serta, naudzubillah min zalik, harus berbuat maksiat dan kotor, memberikan segalanya hanya supaya menjadi ''orang sukses''.

Hal ini harus diketahui anak-anak remaja sekarang, supaya menasehati orang tuanya jangan diperbudak oleh pekerjaannya, dan bahwasanya sang anak tidak menuntut lebih berupa material sebagai lambang ''kasih sayang'' dari orang tua. Hadirnya orang tua di rumah lebih banyak adalah cukup bagi sang anak.

Sistem Kapitalis ini memang sudah merambah di segala sendi-sendi kehidupan kita. Tak hanya orang tua, anak-anak pun juga menjadi budak dari pencernaan melalui media-media, produk-produk, dll yang ''gemerlap''. Saking tak dapat perhatian dan kontrol dari orang tua, tak sedikit anak-anak remaja menjadi glamour materialistis, ''famous wannabe'' dan memiliki insting bersaing yang ''mengerikan'', yang hanya untuk mendapatkan sebuah ''perhatian'' dari dunia luar rumah yang tidak ia dapatkan di rumah.

Mengubah sistem yg sudah mapan ini memanglah berat. Namun jika kita mulai dari diri sendiri dan keluarga, Insya Allah, kita bisa mengubah dunia kerja menjadi lebih baik seimbang porsinya untuk keluarga. Agamalah kuncinya. ''Berhentilah makan sebelum kenyang'', prinsip inilah salah satu yang harus kita pegang.

Saturday, November 19, 2005

Melangkahku Tak Sendirian


Hidupku pasang surut
Di arus yang kuturut
Terbawa hingga lupa sadarku
Terbawa kepusaran angkuhku

Ku yang dulu tak pernah punya sahabat
Sahabat yang dekat siap mengangkat
Ku yang tak pernah kenali diri
Diri yang siap mengarahkan kaki

Berlayarku akhirnya mencoba-coba tahu
Mencari tempat menepi
Nikmat manakah untukku
Beragam rasa kuresapi

Setiap langkah kiriku
Pertanda buruk menakuti
Setiap langkah kananku
Pertanda baik menemani

Cukup...
Tak kan pun hitam apalagi kelabu
Cukup…
Hanya putih yang basuh perihku

Akhirnya kukalah
Kalah harus memilih
Tunduk atas kemahaanMu
Bersandar atas ketidakdayaanku

Berjalanku setelahnya mencoba-coba tahu
Menemukan tempat tuk kutinggali
Rumah manakah untukku
Beragam jalan kutemui

Setiap hasratku menggebu
Pertanda buruk meresahkanku
Setiap hatiku menggebu
Pertanda baik menyamankanku

Cukup...
Tak kan pun hitam apalagi kelabu
Cukup…
Hanya putih yang basuh perihku

Akhirnya kukalah
Walau kali ini benci tuk memilih
Tunduk atas keyakinan padaMu
Bersandar atas tuntunan cahayaMu

``Ya Allah.. jika ini tempat yang Engkau kasihi dan ridhoi, maka jadikan aku bagian dari para penghuninya… Ya Allah, Langkah demi langkah dengan pertolongan kekuatanMu, kan kukejar ketertinggalan dan ketaktahuanku, walau saat ini hanya dengan langkah-langkah kecil, moga kelak tetap sampai jua menuju ridhoMu... Aamiiin``.

- Syukurku atas Kasih SayangMu pada tiap-tiap pertandaMu di tiap-tiap langkahku -

Peran Bahasa Daerah dalam Mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Kesatuan

(Huruf diatas adalah huruf LONTARA dari Makassar yang juga mendapat pengaruh huruf-hurf palawa dari kebudayaan india)

Bangsa dunia menilai kemajuan peradaban suatu bangsa salah satunya adalah melalui ketinggian bahasanya. Bahasa yang kompleks dari segi Grammatik dan Morfologi sebuah kata mencerminkan bahwa bangsa itu memiliki ketinggian peradaban dan menunjukkan kecerdasan bangsa tersebut. Sebagai contoh bahasa yang bisa dikatakan tinggi adalah bahasa jerman, arab, cina dan jepang. Bagaimana dengan bahasa indonesia ?

Bahasa Indonesia sendiri lahir pada zaman dimana bahasa ini dipergunakan sebagai bahasa perdagangan antar bangsa, istilah yang kita kenal adalah ''Lingua Franca''. Bahasa yang beribu dari rumpun bahasa melayu yang berasal dari Tanah Riau, telah disahkan secara nasional oleh kita sebagai Bahasa Pemersatu dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Sudah sekian lama bahasa ini menjadi kebanggan bangsa kita.

Namun sayangnya Bahasa Indonesia banyak memiliki kelemahan, terutama terlalu mudah dipelajari dan tidak kompleks aturan-aturan tata bahasanya, terutama permasalahan grammatik, morfologi, dan bahkan perbendaharaan katanya yang sedikit. Tak heran bahasa indonesia sejalan dengan waktu terjajah oleh bahasa asing.

Banyak istilah-istilah asing yang tadinya menambah koleksi kata bahasa indonesia - terutama istilah di bidang eksak (IPTEK) - malahan kini merambah hingga bahasa pergaulan kita sehari-hari. Dan banyak istilah asing ini dipergunakan secara liar, jauh dari definisi asal sebenarnya. Oleh karena itu terjadi kerancuan. Bisa jadi saya dan anda -jika kita mendapatkan salah satu istilah asing- pengertian kita masing-masing berbeda. Lalu ada istilah asing yang definisi hanya satu, tapi kita generalisasikan. Akhirnya tadinya kita bermaksud menggunakan istilah itu untuk menggambarkan apa yang kita ingin ungkapkan, malah sama sekali istilah itu tidak cocok dipakai pada ungkapan itu. Padahal semestinya ada istilah asing yang lain yang lebih cocok dipergunakan pada ungkapan tersebut.

Tak bisa dipungkiri juga, seringnya kita mempergunakan bahasa asing malah menggeser nilai identitas keindonesiaan, dan bahkan nilai kesatuan kita. Pada saat kita berbicara kepada seseorang yang berasal dari daerah lain, sudah pasti kita menggunakan bahasa indonesia. Namun karena bahasa indonesia yang telah terpengaruhi oleh istilah asing dan istilah asing tersebut kita pakai pada saat perbincangan tersebut, malah bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tiba-tiba orang yang diajak bicara menjadi marah, karena bisa jadi dia tidak mengetahui dengan pasti istilah yang kita pergunakan - bisa jadi dia tidak tahu artinya atau bisa jadi salah mengartikan-. Justru inilah yang menjadi salah satu sumber perpecahan kita. Ternyata semakin berkembangnya bahasa indonesia dengan perbendaharaan kata asing tidak sejalan pelaksanaannya di lapangan di seluruh pelosok tanah air.

Dan ternyata juga penggunaan bahasa asing ini lebih digunakan dalam pergaulan orang-orang kota besar, terutama di Jakarta. Orang-orang kota besar memang identik mempergunakan istilah-istilah asing - supaya tampak ''keren'' dan terkesan ''highclass'' -. Beda dengan kota selain Jakarta yang masih tercampur dengan logat bahasa daerahnya.

Salah satu jalan untuk mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah dengan cara memberi kesempatan kepada keragaman dan kekayaan bahasa daerah di tanah air untuk menambah perbendaharaan kata bahasa indonesia. Jika ada kata yang tidak dikenal atau tidak ada istilah bahasa indonesianya, sudah selayaknyalah kita merujuk kepada perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan bahasa asing. Selain bahasa rumpun melayu (Sumatera dan Kalimantan) contoh yang bisa dijadikan rujukan adalah kerumitan tata bahasa dan ketinggian bahasa jawa yang berbeda tiap kasta-kasta, beragamnya bahasa sunda, bahasa batak dan mentawai, bahasa bugis dan makassar, bahasa maluku, dayak, papua, flores bisa memperkaya bahasa indonesia. Dengan partisipasi dari bahasa daerah inilah justru timbul rasa turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian bahasa indonesia, serta terutama juga akan timbul rasa sama-sama memiliki bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatu bangsa kita. Hal yang kecil namun pengaruhnya besar bagi bangsa kita secara keseluruhan dari Sabang sampai Merauke.

Apakah pendapat saya tidak ''open minded'' atau tidak sejalan arus globalisasi dunia tanpa batas karena menolak penggunaan istilah asing ? Pertanyaan balik saya adalah, kita akui bahwa Bahasa Inggris sudah menjadi Bahasa Internasional. Tapi mengapa bahasa inggris tetap disebut sebagai bahasa inggris ? Kenapa tidak disebut Bahasa Dunia ? Apakah bahasa inggris telah mewakili bahasa di dunia ? Walau bahasa inggris pun juga menambah perbendaharaan katanya dari bahasa asing lain, namun terbatas mengambil seputar bahasa-bahasa Eropah (Jerman, Italia, Latin, Perancis dan Belanda), terutama untuk perbendaharaan kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Namun untuk istilah-istilah bahasa lain terutama Bahasa Asia hanya memperkaya pembendaharaan kata bendanya saja, dan hanya menunjukkan benda yang memang berasal dari Asia, semisal: 'Origami', 'Sushi', 'Sari', 'Kung Fu', 'Islam', 'Batik', 'Kampoong', 'Saroong', 'Nasi Goreng', 'Sate/Satay', 'Sambel Oelek' dan lain-lain. Walau dipakai tapi hanya pada saat tertentu saja. Saya belum pernah mendengar Bahasa Afrika diserap oleh bahasa inggris kecuali untuk istilah alat musik tertentu yang tidak terdefinisikan. Apakah ini 'open minded' ? Apakah ini sejalan globalisasi ?

Justru dengan memberikan kesempatan bahasa daerah memperkaya bahasa indonesia, maka bisa jadi bahasa kita bisa digolongkan kedalam bahasa dunia dan juga ikut memperkaya suatu bahasa yang akan menjadi bahasa dunia kelak dalam rangka mempersatukan dunia. Walau serapan kata daerah pada awalnya terdengar lucu, bisa jadi 5 hingga 10 tahun kedepan malah telinga kita semakin terbiasa dengannya. Padahal pada saat kita menyerap istilah asing adakalanya kita merasa tergelitik memakai istilah tersebut, namun lama kelamaan malah diterima. Oleh karena itu kalau kita tidak bisa memelihara bahasa indonesia dengan memperkayanya, maka tidak lama lagi bahasa indonesia hanya tinggal kenangan saja dan hanya menjadi ''objek museum''.

Aneh saya rasa, bagi kita yang masih menganggap pemakaian istilah asing akan menunjukkan kecerdasan seseorang dan menggunakan istilah indonesia akan terasa 'kampungan'. Padahal dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang diperkaya dengan bahasa-bahasa daerah kita justru menunjukkan ketinggian peradaban bangsa kita. Seperti anggapan bangsa dunia terhadap ketinggian bahasa suatu bangsa yang saya ceritakan pada awal artikel ini.

-saya yang sedang belajar di jerman, yang masih sulit menguasai kerumitan bahasa jerman-

nb: Mohon maaf apa yang saya utarakan apa adanya dan ternyata juga terdapat istilah-istilah asing :). Maklum, saya hanya seorang arsitek yang sudah terbiasa memakai istilah-istilah tersebut dalam dunia akademis dan kerja yang juga saya mempelajarinya melalui sekolah-sekolah.
Dan maklum, kalo tulisan saya juga tidak tersusun rapih, karena saya sedang belajar menulis.
Melalui tulisan ini, saya hanyalah prihatin dengan nasib kesatuan bangsa kita dan terutama nasib Bahasa Indonesia kita.
Oleh sebab itu saya mohon bagi yang berkepetingan dan ahli di bidang bahasa indonesia, tulisan ini bisa menjadi masukan bagi anda sekalian.

Tuesday, November 08, 2005

Cermin-cermin didekatmu...


Kendaraan berlari kencang liar bersambar-sambar
Kendaraan bertumpuk penuh sesak teriak-teriak

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Kanal hitam pekat tersumbat mati
Sampah berhamburan di muka halaman

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Lampu merah kau seberangi daripada yang hijau
Bertunggu-tunggu dipinggir jalan daripada halte

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Gedung kemilau mencakar langit gerah
Bertetangga gubuk kumuh renta

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Lampu kerlap kerlip goyang inul
Ngerumpi gosip sana sini bakar api

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Argumentasi bela rakyat memekik
Sudah tinggi malah mencekik

Begitulah dirimu
Begitulah dirimu

Begitulah umatmu....

Monday, November 07, 2005

Dogma ? Doktrin ?

Dogma (dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggis kadangkala dogmata) adalah kepercayaan atau ''doktrin'' yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Bukti, analisis, atau fakta mungkin digunakan, mungkin tidak, tergantung penggunaan. (Wikipedia)

Kenapa yah mendengar kata ''dogma'' dan ''doktrin'' langsung terasa penilaian yang konotatif (negatif). Apalagi manusia jaman sekarang - yang ingin bebas layaknya burung terbang di langit lepas tanpa belenggu yang mengkungkungnya yang ingin mencoba semua nikmat dunia - sangat alergi dengan istilah ini. Seperti digigit nyamuk, buru-buru ia semprotkan ruangan dengan obat nyamuk mematikan.

Sepertinya jalan dakwah itu sangat sulit menembus anggapan ini. Kita mencoba menyampaikan 1 ayat sekalipun tak mampu memancing orang-orang yang hatinya terkunci untuk berpikir dan bahkan sekalipun mendengarkannya. Kita seperti berkata-kata dengan orang yang mati di dalam kubur. Moga kita bersabar meneruskan risalah. Tugas kita hanyalah menyampaikan... bukan menghakimi.

Jaman sekarang, sedihnya banyak orang tua tidak lagi mengajarkan anaknya sholat maupun mengaji Al Qur'an atau menyerahkan bimbingan kepada ahlinya. Mereka menganggap itu suatu ''paksaan''. Menurut mereka, anak-anak itu sebaiknya dilepaskan untuk memilih sendiri jalan hidupnya dan mencoba apa-apa yang mereka inginkan. Sampai-sampai anaknya dibiarkan memilih sendiri agamanya, naudzubillah min dzalik. Anak-anak cukup belajar melalui pendidikan di sekolah-sekolah, anggap mereka. Ironisnya... bukankah 1+1=2, tetapi bukan 11. Bukankah jika ada yang menjawab 11 maka ia salah dan bodoh. Bukankah ini sama saja sebuah doktrin.

Nabi menganjurkan kita untuk mengajarkan agama kepada anak sedari kecil, terutama masalah-masalah aqidah, akhlaq dan ibadah-ibadah yang dibiasakan. Tiada paksaan tentunya... tapi mengajarkan kebenaran adalah wajib bagi kedua orang tua, karena akan berguna kelak. Justru dengan begini, mau kemana anak itu melangkah - luruskah? bengkokkah? - insya Allah dia tahu jalan kembali pulang. Seberapa jauh dia bermain, hati kecilnya selalu berkata ''La ilahailallah'' dan moga akan menunjukkan ia ke Jalan Cahaya kembali ke rumahnya, Insya Allah.

Untuk apa penolakan dengan kebenaran yang telah diturunkan ?