Thursday, September 21, 2006

[Info]: Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?




Sumber: Eramuslim.Com

Assalamualaikum wr. wb.

Yth. Pak Ustadz,

Beberapa hari lagi bulan puasa akan tiba, dan banyak di antara teman-teman saya yang muslim yang saling berkirim SMS mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dan mohon maaf lahir batin sebelum puasa tiba. Sebenarnya apakah ada tuntunannya oleh Rasulullah SAW akan hal tersebut? Dan apakah ada tuntunannya juga untuk mengucapkan mohon maaf lahir batin pada hari raya Idul Fitri seperti yang biasa kita lakukan? Apakah ini hanya sekedar tradisi saja? Mohon penjelasan pak Ustadz tentang hal tersebut.

Terima kasih banyak sebelumnya atas penjelasan Pak Ustadz.

Wassalamualaikum wr. wb.

Susi Wulandari
susiwlndr at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau yang diminta adalah dalil yang sharih dan eksplisit tentang perintah atau anjuran untuk saling bermaafan menjelang bulan Ramadhan, sudah pasti tidak ada.

Oleh karena itulah ada sebagian kalangan dari umat ini yang langsung mencap fenomena itu sebagai bid'ah. Sebab dalam pandangan mereka, pengertian bid'ah adalah sebatas tidak adanya dalil eksplisit atas suatu masalah yang berkembang di tengah masyarakat.

Pendapat seperti ini tidak bisa disalahkan, lantaran memang ada versi pengertian tentang bid'ah yang sesempit itu. Walau pun sebenarnya versi pengertian bid'ah itu sangat banyak.

Anjuran Saling Meminta Maaf dan Memaafkan Secara Umum

Sebenarnya meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain adalah pekerjaan yang sangat dianjurkan dalam agama. Semua ulama sepakat akan hal ini, termasuk yang membid'ahkannya bila dilakukan menjelang Ramadhan atau di hari Raya Fithr.

Allah SWT berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ

Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A'raf: 199)

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85)

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ

Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya, "Rasailah azab yang membakar ini." (QS An-Nuur: 22)

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنينَ

Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134)

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy-Syura: 43)

Even untuk Saling Memaafkan

Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana.

Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu.

عن أَبي هريرة أنَّ رسول الله ، قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia?

Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya.

Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermafaan menjelang Ramadha, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja.

Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan. Seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid'ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.

Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid'ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i'tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid'ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?

Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.

Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid'ah. Isnya Allah niat baik mereka baik dan luhur.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

[Video]: The Islamic History in Europe, That Has Never Been Told

Di buku sejarah mengenai Eropa, tak pernah diterangkan dan diakui bahwa pada jaman ''Dark Ages'' ada suatu peradaban keagamaan terbesar yang mempengaruhi Eropa dalam bidang seni, ilmu dan teknologi sebelum bangkitnya jaman ''Renaissance''. Lagipula, tak banyak orang Eropa yang mengetahui tentang peradaban Andalusia tersebut, kecuali sejarahwan dan masyarakat Spanyol sendiri.

Mengherankan, kisah sejarah tentang Andalusia masih dikenang dan dibanggai oleh orang-orang Spanyol sebagai bagian dari perkembangan budaya mereka. Mereka kebanyakan bersedih dan kehilangan atas ketinggian peradaban tersebut.

Dokumenter ini akan membuka banyaknya miskonsepsi dan mispersepsi tentang jasa Islam di Eropa yang selalu ditutupi dan tak pernah diakui. Padahal sebaliknya dulu Kerajaan Islam Andalusialah yang menyusun dan mengumpulkan kembali data sejarah dan peninggalan Eropa yang sempat hilang di Eropa, terutama keilmiahan dari Yunani.

Kata beberapa teman, tarian Flamenco yang terkenal dari Spanyol adalah merupakan tarian sufi pada jaman tersebut. Hmmm bisa jadi... Selamat menikmati Video kali ini. Moga menambah pengetahuan anda tentang Kejayaan Islam di Eropa. Kali tak hanya tentang Andalusia namun juga tentang Kejayaan Islam Sisilia dan lain-lain.

Link: http://video.google.com/videoplay?docid=4948121296578586703&q=Islam+Ridley&hl=en

Monday, September 18, 2006

Kisah Muallaf: Sejuk dan Seru...!


''Kurma for the Soul'' (KFTS) kali ini agak berbeda. Bukan saya yang akan berkisah, dan bukan pula kisah-kisah yang saya temukan sehari-hari. Ini adalah kisah-kisah para Muallaf yang mereka tulis sendiri dan membagi pengalaman mereka ini untuk kita semua.

Kisah-kisah mereka kadang memberi sentilan, pencerahan, semangat baru buat kita semua. Kisah yang terkadang membuat saya tersenyum namun lebih sering memilukan hati, hingga saya sendiri sampai-sampai meneteskan air membacanya. Kisah seru yang saya belum pernah miliki ini, sangat menyejukkan hati. Jujur, mereka benar-benar beruntung.

Tak ada salahnya kisah-kisah ini juga menemani Ramadhan anda. Sehingga kita bisa bercermin kepada mereka dan mengambil pelajaran dari itu semua.

Kisah-kisah saudara-saudara kita ini terkumpul pada sebuah web dengan link Kotasantri:
http://kotasantri.com/bilik.php?aksi=Arsip&Rubrik=3

Selamat menikmati santapan rohani ini. :)

Sunday, September 17, 2006

Inkubator Ramadhan


Sadar telah surut persembahan
Setahun tak dalam perhitungan
Kini kupungut kenangan ramadhan
Kumpulkan ikrar penghambaan

Saatnya berinkubasi
Segarkan naluri dan nurani
Perhentian hanya sesaat
Tuk laju lagi melesat

Tetaskan kupu-kupu mulia
Bukanlah kembali ulat yang hina
Tak ingin lagi kesiangan
Tak ingin lagi penyesalan

Kini ramadhan kusempurnakan
Nanti ramadhan-ramadhan kecil kuciptakan
Agar berkekalan nuansanya
Hingga ramadhan berikutnya dan berikutnya

Monday, September 11, 2006

[Bongkar]: Made in Germany? Bo'ong banget!!!


Tahu tidak? ternyata semua barang dengan label serba eropa atau amerika gak ada jaminan semua itu diproduksi 100% di negaranya. Saya sendiri kaget setelah menyaksikan langsung trik-trik ini pada saat bekerja di sebuah pabrik di Jerman. Label-label ber-barcode Made in Hungary, Made in Mexico, dan Made in Philipines harus saya ganti dengan Made in Germany. Waduh!!!! Ketahuan deh belangnya...

Ok lah, ide dan modal bisa jadi dari Jerman. Kalau masalah produksi sepertinya sudah tidak terlalu banyak pabrik-pabrik di negara ini yang memroses barang dari baku menjadi barang jadi. Apalagi keberadaan pabrik-pabrik selalu mendapat pertentangan keras dari para pecinta ''Hijau'', kalau-kalau pabrik bermasalah terutama mencemari lingkungan. Bisa-bisa perlu bayar mahal hanya untuk pengawasan dan pengelolaan lingkungan tersebut.

Jadi, mereka larikan pabrik-pabrik tersebut ke negara lain, terutama yang tidak mempedulikan isu-isu lingkungan tersebut, yaitu di negara-negara selatan dan negara-negara bekas rusia. Apalagi ongkos produksi di negara ketiga sudah pasti lebih murah, terutama karena ongkos tenaga kerjanya yang murah pula.

Harga produksi yang jauh lebih murah di negara produsen tidak berimbang dengan harga jual yang kelewat lebih mahal di negara konsumen. Dengan begitu mereka bisa mengeruk lebih banyak keuntungan. Harga ongkos kirimpun bisa ditanggung tanpa perlu pusing sama sekali.

Inilah sistem kapitalis. Kini mereka masih bisa bertahan hingga ke masa depan berkat negara-negara dunia ketiga. Keuntungan pendapatan modal dan keuntungan pemeliharaan lingkungan negara mereka terjamin selalu.

Thursday, September 07, 2006

[Survey]: 10 Things I Missed About Ramadhan...


Assalaamu'alaikum wr wb.

Ramadhan sebentar lagi. Ada baiknya kita mempersiapkan diri lahir bathin. Tentu saja di dalamnya ada kebahagiaan dan kerinduan. Bulan yang hanya setahun sekali kita bertemu. Di mana kita bisa menata diri, mempercantik hati, dan menambah ibadah dan ilmu untuk dipersiapkan sebelum menjelang kehidupan sehabis ramadhan.

Kira-kira apa aja seh hal-hal yang anda dan kamu rindu semua di Bulan Ramadhan? Buat rekan-rekan muslim Indonesia ataupun Tanah Serumpun di luar negeri terutama, hal-hal apa aja seh yg dirindu pada bulan Ramadhan di Tanah Air atau Nusantara yang mungkin tidak didapatkan di luar negeri? Survey ini tidak tertutup kemungkinan buat non muslim loh... :)

Selamat bernostalgia.... Dan Selamat menjalankan puasa, moga penuh keberkahan dan kebaikan buat anda semua... Semoga kita semakin dan baik lagi dalam setiap kehidupan kita :D...

Monday, September 04, 2006

Teruslah Berjalan Tegak...


Wahai saudaraku...
Jika kini kau tertusuk ilalang
Masih ada tombak nanti menghadang
Maka bersabarlah...

Wahai saudaraku...
Sudi Allah meminjamkan kekuatan
Atas ketidak berdayaan
Maka berdoalah...

Wahai saudaraku...
Apapun hasil yang diberikan
Kau tetap mendapat ajaran dan kejayaan
Maka bersyukurlah...

Sungguh kau sedang membuka tiap-tiap pintu kemuliaan
Maka teruslah berjalan tegak...

Hingga terdengar di depan pintu terakhir:
''Salaamun 'alaikum, Bimaa Shabartum!'' *)

*) ''...Keselamatan atasmu, berkat kesabaranmu...'' (QS. Ar- Ra'ad (13): 18-24)

Sunday, September 03, 2006

[Teropong]: Lika-liku Muslim dalam Perantauan


"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Qs. Alam-Nasyrah [94]: 1-8).

Ayat ini turun pada saat Rasulullah dan kaum muslimin mendapat tekanan dan olok-olokan dari kaum musyrikin. Bahwa jika kaum muslimin bersabar setelah kesulitan yang ditimbulkan darinya, Allah akan memberikan jaminan kemenangan bagi kaum muslimin sehingga terhindar dari rasa cemas dan gusar.

Banyak rekan-rekan muslim dengan seenaknya mengambil ayat ini hanya demi mendapatkan kemudahan dari kehidupan mereka di luar negeri yang memang iklim, kultur dan cara hidupnya yang berbeda. Perbedaan ini, menurut anggapan mereka, akan menyulitkan terutama urusan ibadah. Padahal keadaan tak sesulit yang mereka hiperbolakan jika mereka mau menjalankan dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu tanpa keputus asaan yang terlalu dini. Usaha sebaiknya diprioritaskan pada saat permulaan, sebelum menjatuhkan keputusan bahwa keadaannya sulit.

'Jabatan' para perantau ini sebagai Musafir sebenarnya telah copot setelah menetap dan bermukim selama lebih dari 3 hari. Tapi terkadang masih banyak yang tetap mengaku bersafar. Gelagat ini seperti orang yang pensiun tapi tidak mau pensiun-pensiun. Semua ibadah sholat fardhu dengan gampangnya dilambatkan di akhir waktu, dijama', diqoshor, ataupun diqodho'.

Kalau saja kita mau mempelajari dan memahami ajaran islam dengan baik, bentuk-bentuk kemudahan dari berbagai kesulitan pada saat melaksanakan suatu ibadah sebenarnya telah ditetapkan dan dirinci jelas apa alasannya dan bagaimana menggantinya dan lain-lain. Tapi nyatanya rekan-rekan muslim di luar negeri lebih sering membuat caranya sendiri dengan ilmu yang buta, seakan membuat dasar fiqh baru atau mazhab sendiri.

Ada yang sholat fardhu di bangku dalam keadaan duduk pada saat perkuliahan berlangsung ataupun dalam kendaraan yang sedang parkir. Padahal masih terbentang luas tanah Allah di luar yang kita bisa bentangkan dengan sajadah. Entah rasa malu dilihat para 'bule' ataukah malu karena agama sendiri, mereka enggan untuk berdiri. Padahal badan masih sehat dan muda.

Berbeda kebanyakan orang Turki yang bersholat fardhu hanya sholat jum'at 'doang', justru Muslim Indonesia kebanyakan absen dari tempat penyelenggaraan sholat jum'at. Dengan berbagai alasan klasik karena tak sempat dari kesibukan pekerjaan maupun perkuliahan, mereka pun rutin tak bersholat jum'at, lewat dari 'bonus' yang diberikan. Padahal ada beberapa masjid yang melambatkan penyelenggaraan sholat jum'at sehabis jam kerja. Andai saja mereka mau berusaha mencari tahu.

Tapi dari kesemua itu ada yang lebih ekstrim lagi. Mereka sama sekali tidak sholat, dengan anggapan yang penting baik hati antar sesama manusia atau cukup dengan berdoa saja. Bukankah sholat yang akan menghindarkan kita dari perbuatan yang buruk? Bukankah sholat yang akan ditanyakan Allah pertama kali di hari kesudahan? Apakah yang mereka lakukan berbaik hati kepada Allah yang menciptakan dan menghidupkan mereka? Itukah rasa syukur?

Selain mengenai urusan sholat, urusan lainpun tak lepas digampangkan. Terutama dalam memilih makanan halal daripada yang haram. Padahal sudah banyak bertebaran toko-toko dan restoran-restoran muslim yang menyajikan makanan yang sudah dijamin kehalalannya dan lagi bersih dari darah, karena disembelih lehernya sesuai syariah dengan membaca 'bismillah'. Bukan yang disetrum lalu dipotong apalagi yang ditembak kepalanya. Itu 'seh' makan bangkai.

Alasan kuno mengenai kebutuhan meminum alkohol apalagi di musim dingin telah runtuh. Alkohol yang memang haram hukumnya pun tak menjamin memberi kehangatan pada tubuh. Justru sebaliknya, sang peminum bisa mengalami Hypothermia karena kedinginan setelah meneguknya. Justru yang tak meminumnya, banyak bukti mereka tetap bertahan tanpa keluhan akan cuaca dingin tersebut.

Begitulah manusia hanya ingin yang mudah-mudahnya saja, tanpa merugikan kemauan dan kesukaannya yang berasal dari nafsu. Suruhan agama hanya dijadikan kesulitan dan siksa. Tanpa alasan logispun sebenarnya kita sebagai hamba yang taat dan mempunyai naluri ketuhanan harus tetap menjalankannya dengan ikhlas. Sungguh usaha dan kesabaran mendatangkan kemenangan dan keselamatan.

Monday, August 28, 2006

Dibungkam...


Mataku pedih melihat keburukan
Mendidih hingga sedih

Hatiku lirih melihat kesalahan
Perih hingga risih

Namun apa yang bisa kulakukan
Mulutku tak berkata sepenggalpun
Hanya bisa mengeluh dalam hati
Bermuka batu ditemani angin lalu

Aku dibungkam mereka...

Tiada yang mau mendengar
Tiada yang mau menyadari
Apa yang tak sesuai kesukaannya
Apa yang tak sesuai keinginannya

Mereka menjadi sok tidak tahu
Dan terus bermandikan lumpur neraka

Aku dibungkam mereka...

Jaman kini jaman gila
Terjerat kelabu dan mendua

Ajakan dan nasihat kebaikan dianggap mempersulit
Larangan dan kewajiban dianggap menyiksa

Aku dibungkam mereka...

RisalahMu terhenti dikerongkonganku, wahai Sang Kebenaran
Dakwahmu hanya sebatas niatku, wahai sang kejujuran

Apakah aku harus mengurus diriku sendiri saja?
Tapi bagaimana nasib mereka nanti di hari kesudahan?

Friday, July 28, 2006

Ssst!! Diam!!! ... Eh!.. Yahhhh.. Sia2 Deh!


Di hari Jum'at yang raya, seperti biasanya tempat-tempat sholat penuh sesak oleh jamaah. Kadang suka terbesit di hati beberapa perutin yang merindukan suasana: ''Coba saja setiap sholat fardhu berjamaah dipenuhi seperti ini. Alangkah indah dan kompaknya terlihat di mata hingga ke hati. Kini keutamaan Subuh dan Ashar pun sirna.''

Khotib pun berdiri memulai khotbahnya di sebuah Musholla SMP 85 Pondok Labu. Suaranya yang lantang seakan tak mampu mengalahkan desas-desus suara percakapan yang memecah keheningan. Kekhusyu'an yang selalu diidam-idamkan.

''Dang! Ntar gw tunggu lo di pos satpam. Kita jalan, ok?? Kepala gw dah butek neh ama ujian tadi. Lo tau sendiri khan Bu Ratna itu killer banget, pasti deh soal ujiannya dibikin susah..... Apalagi dia khan sukanya... bla... bla... bla....'' cerocos Bekti tanpa malu-malu.

Dadang tidak peduli dengan ''Gosip Show''-nya Bekti, dan tetap dengan seksama menyimak Khotbah. Matanya tetap ke depan tak melirik sedikitpun ke arah Bekti.

''Dang! Aduh tadi gw salah jawab tuh soal nomer 3 pas ujian tadi... Harusannya khan gini... bla... bla...'' lanjut Bekti.

Dadang memicingkan matanya dan memangku dagunya pada tangan, lalu pura-pura tidur. Dadang pikir hal itu akan menghentikan si Bekti.

''Bek...! Ssst diem napa? Berisik amat seh lo! Lagi jum'atan juga...'' potong Jaenal sambil berbisik.

''Dang...!!! Sombong amat seh loh....! Diajak ngobrol juga...'' Bekti makin panas

Dadang sedikit beranjak menjauh maju setengah shaf.

''Wooooyyyyyy!!!!'' bentak Bekti.

Suasana seketika hening ''Ziiiiiiiiiiiinngggg!!!!''. Hati sang Khotib sangat kacau seperti mendengar 'Balon Hijau Meletus' hingga terdiam sesaat.

Suasanapun menjadi ramai ber-was wis wus wes wos.

''Ssstt!!!''
''Aaaahhh... Gak tau malu apa!''
''Anak kelas 2 E yah?''
''Abis jumatan gw tampol lo!!!''
''Nah lo... nah lo.. nah lo.. nah lo...!''

Sang Khotib seketika melanjutkan khotbahnya, mencoba menandingi suara-suara fals tersebut.

Muka Bekti memerah hingga ditundukkannya. Dadang dan Jaenal memalingkan muka dari arah Bekti, pura-pura tidak kenal.

*****

Selepas 'jum'atan', Bekti 'menoyor' kepala Dadang.

''Kenapa seh tadi gw ajak ngobrol kagak mao?'' tanya Bekti 'bete'.

''Yeeee...!!! Elo tuh yang rusuh... Gawat lo... Sakit lo ape! Pas khotbah kok ngobrol'' timpal Jaenal membela Dadang.

''Iya bek... Masak lo gak dengerin Pak Ali pas Pelajaran Agama Islam sebelon ujiannya Bu Ratna... Elo seh suka gak meratiin pelajaran. Ngobrol mulu ato baca komik. Pelajaran lo gak peratiin, giliran ujian aja lo perhatian... Gak heran gw kalo lo jadi kalang kabut dan gak bisa nyelesein soal...!'' kata Dadang sambil 'menoyor' balik.

''Emang kenapa?''

''Khotib itu menyampaikan pelajaran buat kita. Nah... Pas Khotbah tuh gak boleh ngobrol ato berkata-kata apalagi berkata ''Diam!'' sekalipun... Sholat Jum'at lo bisa sia-sia dan gak dapet pahala... Apalagi banyak ulama yang mengharamkan, jadi malah berdosa deh....''

''Heh? Jadi tadi gw ikutan salah juga dong Dang?'' kata Jaenal khawatir.

''Asyik jadinya gw ada temennya dunks.'' kata Bekti sambil merangkul Jaenal.

''Huss!!! Gitu ajah lo seneng...Udah bikin salah juga... Malu tuh dipiara dikit...'' canda Dadang sambil memberantaki rambut Bekti.

''Wooooyyyyy!!!''



Dari Abu Hurairah. Bahwa Nabi saw. telah bersabda: ''Apabila engkau katakan diam kepada temanmu pada hari jum'at sewaktu imam berkhotbah, maka sesungguhnya engkau telah menghapus pahala sholat Jum'atmu.'' (Riwayat Bukhari)

Dar Ibnu Abbas r.a., bahwa Nabi saw. bersabda: ''Barangsiapa yang berbicara pada hari Jum'at di waktu imam berkhotbah, maka ia adalah seperti keledai yang memikul kitab, sedang siapa yang mengingatkan orang itu dengan kata-kata 'diamlah', maka tidak sempurnalah Jumatnya.'' (Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Bazzar dan Thabrani.)

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda:''Apabila engkau mengatakan kepada temanmu pada hari Jumat sewaktu imam sedang berkhotbah: 'Diamlah', maka engkau telah melakukan hal yang sia-sia.'' (Hadits Riwayat Jama'ah selain Ibnu Majah).

Tuesday, July 25, 2006

[Save Palestine]: The Truth - Peace, Propaganda & The Promised Land

Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Palestina? Silahkan tonton ulasan dari para banyak pengamat, terutama yang berasal dari Amerika, yang akan membeberkan semua apa yang sebenarnya terjadi, yang selalu ditutup-tutupi oleh pemerintah israel, amerika, bahkan media pers dunia.

Masihkah anda percaya dengan dunia?

Descriptions:
Peace, Propaganda & the Promised Land provides a striking comparison of U.S. and international media coverage of the crisis in the Middle East, zeroing in on how structural distortions in U.S. coverage have reinforced false perceptions of the Israeli-Palestinian conflict. This pivotal documentary exposes how the foreign policy interests of American political elites--oil, and a need to have a secure military base in the region, among others--work in combination with Israeli public relations strategies to exercise a powerful influence over how news from the region is reported. Through the voices of scholars, media critics, peace activists, religious figures, and Middle East experts, Peace, Propaganda & the Promised Land carefully analyzes and explains how--through the use of language, framing and context--the Israeli occupation of the West Bank and Gaza remains hidden in the news media, and Israeli colonization of the occupied terrorities appears to be a defensive move rather than an offensive one. The documentary also explores the ways that U.S. journalists, for reasons ranging from intimidation to a lack of thorough investigation, have become complicit in carrying out Israel's PR campaign. At its core, the documentary raises questions about the ethics and role of journalism, and the relationship between media and politics.



NB: Jika tidak bisa dibuka silahkan buka link ini: http://video.google.com/videoplay?docid=-7828123714384920696

Sunday, July 16, 2006

[Curhat]: Tak Seperti yang Kumau...


Sebelum saya mencapai papan pengumuman hasil thesis, salah satu profesor datang menghampiri saya dengan tiba-tiba. Menyampaikan kabar dengan berat hati, bahwa saya diberi kesempatan penambahan 1 semester lagi sebagai kesempatan terakhir oleh Dewan Komisi untuk merampungkan proyek saya secara maksimal. Menurut mereka, proyek perkotaan yang seharusnya dikerjakan oleh 2 orang dalam satu kelompok itu, namun saya kerjakan sendirian (single fighter), belum mencapai kata layak untuk bisa diluluskan semester ini.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya terdiam terpaku dengan wajah terkejut. Sesekali menahan air mata yang ingin keluar segera. Kegalauan dan kekecewaan menggrogoti. Sambil menerawang ke masa 1 semester yang saya habiskan sebelumnya ternyata tidak membuahkan hasil untuk lulus di semester ini. Tertahanlah sudah gambaran tanah air. Tertahanlah sudah harapan-harapan masa depan. Semua tak seperti yang kumau... Akhirnya tangispun memecah keheningan...

Sang profesor berusaha menyenangkan hatiku dengan menawarkan bantuan semampunya agar di semester depan proyek saya bisa diluluskan. Beliau juga akan bertindak langsung sebagai pembimbing rutin selama proses itu. Tak tanggung-tanggung beliau akan memberikan bantuan untuk perpanjangan VISAku, walau tak bisa membantu masalah finansialku.

Namun itu belum mampu mengobati hatiku yang menjadi melemah ini. Sepertinya tidak ada pilihan lain, selain menerima tawaran beliau. Akhirnya saya mengiyakan tawaran itu, tanpa berpikir panjang lagi. Dengan berharap kesempatan tersebut akan mendatangkan kebaikan untukku.

Saya berjalan terhoyong-hoyong menghampiri teman-temanku. Mereka lalu mencoba menyabarkanku dengan kata-kata yang menyenangkan dan menenangkan hati, sampai air matakupun mengering.

Dengan keletihan hati sampailah saya di rumah dengan segera menghadapNya. Sekali lagi aku bercermin diri. Lalu meminta ampunan dan pertolonganNya. Diri ini hanya bisa pasrah akan suratanNya. Memohon kebaikan pada kesempatan kedua kalinya. Memang inilah yang Ia mau, dan ada misteri kebaikan di dalamnya. Biarkanlah seperti yang Ia mau, karena saya ingin tetap yakin denganNya. Bahwa ada kebaikan yang akan menunggu kelak. Kebaikan yang akan mengganti kesedihanku.

Maafkan saya, ya kedua orangtuaku. Sekali lagi aku menancapkan duri kembali. Cobaanku malah menjadi cobaanmu juga. Hamba kini kembali memohon restu darimu untuk kesekian kalinya. Dukungan darimu kan kujadikan teman perjalanan usahaku kembali.

Maafkanlah ya sahabat-sahabatku. Saya mengecewakan tiap-tiap doa yang kaupanjatkan untukku.

Moga Allah melapangkan hatiku dan memudahkan usahaku untuk kesempatan kedua yang terakhir ini.

Monday, July 10, 2006

Jerat Seruling Gembala Pendusta


Di saat kau merasa sulit
Aku kan datang menghampirimu
Membebaskanmu dari belenggu semu
Memudahkan jalan hidupmu

Di saat kau kesepian dalam kesedihan
Aku kan menjadi sahabat terbaikmu
Membuang ragu terhadap keyakinan lugu
Menuntunmu ke jalan pencerahan baru

Di saat kau membutuhkan petunjuk
Aku kan memanis-maniskan lidahku
Hingga tenang perasaanmu
Hingga kau yakin dosa itu palsu

Di saat kau berjalan dalam kehidupan
Aku kan menanggalkan pesona paham lalu
Hingga terbuka lebar-lebar matamu
Akan pikatan dunia yang maju

Aku bukan pendusta apalagi penipu
Bukan seperti pendendang sok suci itu

Aku tiada maksud berburuk kepadamu
Melainkan menyelamatkanmu dari kandang kotor itu

Selamat datang kawan...
Kekecewaanku juga kekecewaanmu
Mari baku senda dengan sang wahyu
Meraih peradaban gemilang dunia ini yang dirindu

Saturday, July 08, 2006

Suraumu Kini, Ya Nabi...


Ya Nabi...
Suraumu kini rapuh dari pijakannya
Kokohnya lemah ditinggalkan pengikutmu sadar tak sadar
Beban tersalur tak merata pada para penopangnya
Bahkan selubung menipis tak mampu membentengi

Ya Nabi...
Suraumu kini coreng moreng dengan luka
Megahnya pudar diludahi caci maki dan kejahilan
Segala seruan dan ikutan menjadi musuh
Nafsu keakuan adalah suatu kemajuan dan kejayaan

Ya Nabi...
Suraumu kini telah asing dari setiap kerumunan
Kumandang adzan merambat dalam hampa udara
Shaf-shaf tak lagi disesakkan oleh bahu yang beradu
Senandung cahaya dikaburkan dalam gelap

Ya Nabi...
Suraumu kini telah aku benar-benar saksikan
Inikah jelmaan kesedihanmu sebelum perpisahan itu?

***

Ya Nabi...
Walau begitu besarnya kerinduan kami terhadapmu
Walau seribu dari kami belum mampu menyeimbangkanmu
Hanya kesabaran yang bisa menyenangkan hati kami
Hanya sisa-sisa silaturahim yang bisa menguatkan kami

Hingga keimanan merajai
Bukanlah masa, apalagi manusia

Cukup bagi kami agama kami...

Thursday, June 15, 2006

[Launching]: 'Bina-ul-Barakah', Blog Saya sebagai Arsitek


Assalaamu'alaikum wr wb.

Bina-ul-Barakah , bagi anda para peminat dan pekerja Arsitektur. Berisi tentang informasi dan konsultasi hingga diskusi arsitektural namun syar'i.

Blog ini mungkin adalah langkah awal saya sebagai seorang yang akan berprofesi sebagai arsitek. Mencoba memperpanjang silaturahim sambil berbagi buah pikiran seputar arsitektur.

Setidaknya selepas thesis yang sedang saya kerjakan sekarang, ada kesibukan baru lagi nantinya. Salah satunya blog ini.

Karena masih baru, saat ini hanya berupa blog pribadi, namun saya berharap blog ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi kita semua.

Silahkan berkenan berkunjung... :)

Friday, June 09, 2006

[Fiqh]: Sampai Jangka Kapan Kita Bisa Disebut Musafir?


Assalaamu'alaikum wr. wb.

Melanjutkan pertanyaan saya sebelumnya dulu, mengenai sholat yang dijama' maupun diqoshor. Saya sekarang berada di Jerman dalam rangka studi. Saya sudah 3 tahun di sini. Seorang teman pernah berkata bahwa kita masih bisa menjama' dan mengqoshor sholat karena masih musafir. Ada yang bilang batasnya hingga 30 hari, dan ada juga yang bilang hanya 3 hari. Yang mana yang benar, ustadz? Lalu mengenai sholat yang diqodho', uzhur apa saja yang menyebabkannya?

Jazakallah khairan katsiran.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Ibnu Naufal

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Batasan berapa lama seseorang boleh tetap menjama` dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqoha.

Imam Malik dan Imam As-Syafi`i berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Sedangkan Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap di suatu tempat selama 15 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud berpendapat bahwa masa berlakunya jama` dan qashar bila menetap di suatu tempat lebih dari 4 hari, maka selesailah masa jama` dan qasharnya.

Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar.

Ibnul Qoyyim berkata, ” Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat”.

Disebutkan Ibnu Abbas, ” Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna”. (HR Bukhari)

Wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saturday, June 03, 2006

Bingungnya Aku sebagai Laki-laki


'Being Nice' kepada orang lain, malah membawa dilema. Apalagi kepada perempuan. Apa yang saya lakukan malah dianggap sebagai 'angin' memikat. Padahal tiada maksud tuk 'tebar pesona'.

Balasan berupa perhatian lebih pun berdatangan. Tak hanya biasa-biasa saja, namun hingga ekstrim bak perhatian dari seorang isteri.

Saya yang masih 'jomblo' begini hanya bisa menanggapinya dengan pasif, apalagi harus ada kewajiban menjaga diri dari sesuatu yang belum 'halal'.

Jomblo bukan sekedar jomblo, seumur-umur saya tak pernah pacaran, dengan beralasan 'menjaga wudhu'. Bukan bermaksud berbangga, namun saya hanya melaksanakan tugas sebagai hamba Allah.

Saya tolak pelan-pelan 'tawaran' itu dengan hati-hati supaya tak menyakiti. Namun walhasil ada yang menjadi-jadi 'pendekatan'nya dan ada pula yang mundur mengalah sambil membawa dendam untuk dia sendiri maupun bersama-sama teman-teman disekelilingnya.

Tapi jujur, tindakan mereka justru me'minus'kan penilaianku.

Bagaiman yah supaya mereka mengerti? Ataukah saya yang tidak mengerti? Apakah yang saya lakukan salah? Atau mereka yang salah?

Saya memang saat-saat ini mencari isteri untuk memenuhi 'din'ku. Tapi apakah harus seperti itu caranya? Haruskah saya ladeni saja itu semua? Bukannya ada cara yang lebih baik lagi?

Namun walau begitu, saya tak merasa bersalah. Saya hanya bingung jika dihadapkan dengan masalah itu lagi dan itu lagi. Lelah rasanya.

Yang 'being ego' itu siapa yah sebenarnya? Sayakah? Idealiskah?

Wednesday, May 31, 2006

Menangis


Wajar adanya jika menangis
Tanda diri tak punya daya
Sadar adanya Yang Maha Daya
Ego pun luluh ditelan kelemahan

Menangislah menangis
Menangislah dengan menyerah
Bukan menangisi karena tak rela
Menangislah karena kesabaran

Sekali lagilah menangis
Tapi pantang jadi pencengeng
Bukan pula lalu menjadi rapuh dan rentan
Menangis harusnya membuatmu makin kuat

Menangis...
Bukan berarti berdiam diri hingga tenggelam
Menangislah lalu beranjak dan bergerak cepat
Kebajikan apa yang akan kau sampaikan sekarang

Menangislah... terutama di malam hari yang dicintai...

(Untuk Indonesia Menangis)

Monday, May 22, 2006

[Inspirasi]: Mesin Wudhu Otomatis Buatan Pengusaha Australia Siap Dipasarkan

(Sumber: Eramuslim)

Terima Kasih Pak Gomez atas inspirasinya untuk saya sebagai seorang arsitek. Langkah anda mendahului impian saya. Moga anda diberikan hidayahNya.

*****

Anthony Gomez, Kepala dan Direktur AACE Worlwide Pty. Ltd., sebuah perusahaan Australia, berhasil menemukan dan mendesain mesin wudhu otomatis yang dioperasikan dengan sinar infra merah. Kelebihan mesin Auto Wudu Washer (AWW) yang dilengkapi dengan alat pengering ini adalah efisiensi air dan waktu.

Mesin wudhu otomatis ini nampaknya bakal laku keras, karena menurut Gomez, perusahaannya sudah menerima pesanan 600 mesin wudhu otomatis ini dari berbagai negara Muslim.

"Kami sedang dalam proses membuat kesepakatan untuk mendistribusikan mesin ini ke Arab Saudi, Kuwait, Oman dan Bahrain," kata Gomez. Ia mengatakan, belum tahu akan dihargai berapa mesin temuannya itu, namun ia meyakinkan bahwa harganya akan 'terjangkau.'

"Mesin ini bukan hanya untuk orang kaya tapi untuk semua orang, kita berusaha agar sedapat mungkin harganya terjangkau," tambah Gomez, asal Malaysia yang kini sudah menjadi warga negara Australia.

Mesin ini dibuat khusus dengan unit-unit untuk berwudhu misalnya bagian telinga, mulut, muka, tangan sampai siku, kaki sampai mata kaki, yang semuanya dibuat dalam satu unit sistem. Menurut Gomez, yang perusahaannya bergerak di bidang pembuatan komponen pesawat terbang, mesin wudhu ini seluruhnya menggunakan sistem komputerisasi.

"Anda tidak perlu menyentuh keran apapun, mesin ini dioperasikan oleh sensor infra merah berdasarkan tekonologi Australia, " jelas Gomez.

Ia mengungkapkan, pada tahap selanjutnya perusahaannya akan memproduksi mesin wudhu otomatis yang bentuknya mirip sebuah kulkas ukuran besar. Saat ini, pembuatan unit-unit mesinnya masih berbasis di Malaysia.

Gomez mengatakan, ia mendapatkan ide pertama untuk membuat mesin wudhu ini ketika ia sedang dalam perjalanan dari Taba, Mesir ke Aqaba, Yordania dengan menggunakan ferry.

"Semuanya berawal ketika tim kami dikontrak untuk membuat pintu kokpit oleh sebuah perusahaan penerbangan Mesir di Taba," kisahnya.

Setelah kontrak itu selesai, Gomez memutuskan untuk berkunjung ke Aqaba. Tapi saat itu ia ketinggalan ferry yang cepat dan terpaksa naik ferry yang lambat, yang sedang mengangkut para jamaah yang akan pergi umarh ke Makkah.

"Toiletnya sangat kotor dan ramai. Banyak para jamaah yang berwudhu dengan menggunakan wastafel dan berdiri di atas lantai yang kotor, yang sama sekali tidak higienis," sambung Gomez.

"Meski saya bukan Muslim, saya sedih melihat mereka karena keyakinan di setiap agama harus menyembah dan mengabdi pada satu tuhan," kata Gomez lagi.

Setelah kembali ke Australia, Gomez bertekad untuk memproduksi mesin wudhu yang canggih dengan menggunakan teknologi tinggi agar bisa juga menghemat waktu dan air.

"Makkah dan Madinah seringkali ramai pengunjung, bayangkan jika hampir dua juta orang berwudhu dan ini sangat sulit. Di sistim kami, hanya butuh tiga menit untuk berwudhu dengan layak," ujarnya.

Wudhu dan Aspek Spiritual

Gomez mengaku sudah berkonsultasi dengan Dewan Islam di Australia sebelum ia mengerjakan penemuan barunya itu. Menurutnya, Dewan Islam Australia sudah mengeluarkan fatwa yang membolehkan mesin wudhu itu.

Mengomentari mesin wudhu otomatis temuan Gomez, ulama Mesir Syeikh 'Abdul-Khaliq Hasan Ash-Sharif mengatakan, dia tidak melihat hal yang salah dalam penggunaan mesin wudhu itu sepanjang pilar-pilar dasar yang disyaratkan untuk berwudhu diperhatikan dengan benar.

"Ada aspek-aspek spiritual dari berwudhu yang harus diperhatikan oleh mereka yang menggunakan peralatan modern," katanya pada Islamonline.

Syeikh Hassan Asy-Syarif menegaskan, umat Islam sendiri tidak perlu terpecah belah hanya kerena mesin-mesin modern dan umat Islam tidak perlu kehilangan semangat spiritualitasnya dengan menggunakan peralatan modern seperti mesin wudhu otomatis itu.

"Umat Islam yang menggunakan mesin ini tidak boleh lupa bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan salah satu bentuk peribadatan dan bukan sekedar kegiatan rutinitas membersihkan badan," jelasnya.

Yang dimaksud aspek spiritual itu, Syeikh Hassan Asy-Syarif mengungkapkan sebuah hadist shahih yang mengatakan bahwa dosa seseorang akan diampuni ketika tetesan air jatuh dari bagian-bagian tubuh orang yang berwudhu.

"Aspek spiritual inilah yang harus ada di pikiran seorang Muslim," tegasnya. (ln/iol)

Monday, May 08, 2006

[Thesis]: Daerah Kumuh di Jerman? Solusinya Gimana Yah?


Hehehehe... karena gatal untuk menulis walau sedang sibuk dengan thesis... mungkin yg seperti ini aja deh yang ditulis... mungkin ada teman-teman disini yang bisa memberikan kritik dan saran... :)

Thesis yang saya ambil berhubungan dengan tema Arsitektur Perkotaan. Kasusnya tidak bisa ditentukan sendiri. Karena ia hanya bisa ditentukan oleh Profesor.

Kasus yang diberikan agak rumit yaitu tentang ''Penataan Sebuah Kawasan Kumuh di Kota Berlin''. Sama halnya dengan Jakarta maupun New York, Berlin sebagai kota internasional memiliki Gap/ Kesenjangan Sosial. Baik isu kesenjangan kultur asli jerman dengan kultur asing dan juga isu perbedaan tingkat ekonomi penduduknya. Oleh karena itu Pemerintah kota Berlin mencanangkan ke depan, bahwa Berlin akan dijadikan sebagai Kota Sosial.

Munculnya kawasan kumuh di Berlin bukan disebabkan kemiskinan dari tidak adanya lapangan pekerjaan/ penghasilan, justru penyebabnya adalah kemiskinan secara sukarela (freewill). Aneh? ya! Para penghuni daerah kumuh di Jerman sebagian besar tidak bekerja, karena mereka sudah merasa cukup dengan Jaminan Sosial yang memang selalu diberikan kepada mereka yang tidak memiliki pekerjaan/ pengangguran oleh Pemerintah Jerman. Dengan kata lain mereka PEMALAS. :D

Daerah Studi thesis saya terdapat disuatu kawasan pemukiman (flat) dan perkantoran yang berdekatan dengan sebuah Kanal yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Berlin sebagai Kawasan ''Media''. Di suatu bagian dari kawasan tersebut terdapat daerah SLUM/ Daerah Kumuh yang dihuni oleh para Wanita, Lesbian, dan Pelaku Transseksual yang tinggal di karavan-karavan (seperti karavan orang gipsi). Komunitas mereka sudah sejak lama berada dan kuat hingga memiliki organisasi yang bernama ''SCHWARZER KANAL''. Setiap tahunnnya di musim panas selalu diadakan program-program event seperti Kabaret, Teater, Makan Bersama, Party, dan lain-lain. Acara ini mereka gelar secara gratis bagi para pelancong maupun seniman. Dan acara ini selalu ramai dikunjungi, apalagi tempatnya berdekatan dengan Sungai/ Kanal, sehingga mereka bisa berjemur dan berenang disana.

Namun keberadaan mereka justru menimbulkan konflik terhadap lingkungan sekitarnya. Para penghuni flat dan pekerja di kantor selalu mengeluh akan keributan, ketidak bersihan dan hal-hal yang mengganggu lainnya. Hingga keluhan ini sampai di meja pemerintah, terutama pemilik salah satu gedung perkantoran yang merasa terganggu dengan alasan Estetika Kawasan yang akan menimbulkan kekontrasan terhadap gedung mereka memang terdesain dengan nilai artistis yang bagus dan terlihat modern dan dominan. Lalu Mulai beberapa tahun lalu, pemerintah merencanakan akan mengGUSUR mereka.

Mendengar hal itu, para penghuni Schwarzer Kanal pun bereaksi menentang dan enggan digusur. Berbagai cara mereka lakukan untuk bisa tetap tinggal di sana, terutama melalui Demonstrasi dan melalui Media terutama internet.

Merekapun mengkritik pemerintah bersikap arogan dan selalu membuat program struktur kota yang sangat tidak manusiawi dan tidak pernah mengkutsertakan mereka dalam perencanaan kota. Selain kritik, mereka pun menyarankan supaya mereka tetap tinggal disana dengan merencanakan kawasan sebagai Daerah Kultur dengan fungsi yang lebih terbuka (Teater, Museum dll). Karena kalau tidak, Berlin terutama kawasan tersebut akan menjadi membosankan!

Nah... kira-kira seperti itulah gambaran problematika kasus studi thesis saya. Saya harus memberikan pemecahan masalah berupa desain dan program. Untuk pertama-tama konsern saya lebih ke keberadaan daerah kumuh tersebut. Bagaimana? Apa mereka tetap disana? Kalo tetap, bagaimana memberdayakan mereka yang notabene adalah para pemalas?

Solusi yang terlintas adalah saya akan merencanakan fungsi kultur yang lebih kerakyatan dan terbuka dan juga akan mempertahankan mereka tetap tinggal disana (dengan memberikan Hunian yang lebih layak dan mungkin juga berupa Karavan, namun Hunian mereka diberi dengan fungsi tambahan yaitu fungsi Tempat Usaha berupa Home Indutry) dengan persyaratan ''Mereka Harus Bekerja'' dengan cara diberi ''Tanggung Jawab'' untuk menjaga lingkungannya tetap indah dan bersih. Jika tidak terjaga, maka mereka harus managgungnya dengan sebuah ''Penggusuran''.

Namun kalau saya membangun sebuah fungsi kultur, bagaimana dengan problem ''Kebisingan'' yang ditimbulkan, apalagi sifatnya ''Open Air''. Ini masih saya pelajari.

Ada masukan dari teman-teman kah? :)